MEDAN, 12 Juni 2026 – Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen PDASRH), bersama proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), menyelenggarakan Rapat Ekspose Hasil Kegiatan Monitoring Penanaman 2025 di Hotel Grand Mercure Maha Cipta Angkasa, Medan, Jumat (12/6/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini menghadirkan perwakilan pemerintah dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumut, BPDAS, KPH I Stabat, dan KPH III Kisaran, tim monitoring dan evaluasi, tenaga ahli teknis, akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU), serta tim teknis dari Project Management Office (PMO), Project Implementation Unit (PIU), dan PPIU Sumatera Utara untuk mengevaluasi kondisi terkini rehabilitasi mangrove dan memperkuat strategi pencapaian target penanaman tahun 2026.
Forum ekspose ini membahas secara komprehensif hasil monitoring biofisik
dan sosial dari lokasi rehabilitasi di empat kabupaten, yakni Asahan,
Labuhanbatu Utara, Langkat, dan Deli Serdang. Evaluasi tidak hanya mencakup
kelompok penanaman tahun 2025, tetapi juga kelompok tahun 2024 yang melakukan
penyulaman secara swadaya. Dalam sesi pembahasan, tim monitoring memaparkan
data persentase tumbuh tanaman, kondisi fisik vegetasi, kerapatan batang (stem
density), serta faktor lingkungan yang memengaruhi perkembangan habitat
mangrove di tingkat tapak.
Berdasarkan temuan lapangan, kondisi setiap lokasi rehabilitasi
menunjukkan karakteristik yang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh dinamika
lingkungan setempat. Sejumlah catatan penting mengidentifikasi adanya gangguan
hama berupa kepiting, keong, dan ulat di beberapa titik penanaman. Selain itu,
kondisi genangan air yang berlangsung relatif lama di area tertentu turut
memengaruhi tingkat pertumbuhan dan adaptasi tanaman pada pola rehabilitasi
yang diterapkan.
Manager PPIU M4CR Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, menegaskan bahwa
pendekatan adaptif menjadi kunci dalam keberhasilan program rehabilitasi.
“Setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, hasil
monitoring menjadi sumber informasi dan pembelajaran yang penting untuk
memahami tantangan yang dihadapi serta menyusun langkah tindak lanjut yang
sesuai dengan kondisi di tingkat tapak,” ujarnya.
Selain paparan hasil biofisik, kegiatan ini juga menghadirkan pembahasan
hasil monitoring safeguard dan hidrologi yang menjadi komponen vital
dalam memastikan keberlanjutan ekologis dan sosial program. Berbagai masukan
teknis yang disampaikan peserta diintegrasikan sebagai bahan penyempurnaan
metode pengamatan, pengolahan data, dan perencanaan pemeliharaan pada periode
berikutnya. Temuan dan pembelajaran dari ekspose ini akan menjadi acuan dalam
penguatan strategi rehabilitasi mangrove di berbagai lokasi pelaksanaan di
Sumatera Utara.
Kegiatan ekspose ini menegaskan komitmen kolaboratif antara pemerintah
pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan tim pelaksana proyek untuk memastikan
rehabilitasi ekosistem pesisir berjalan efektif, transparan, dan berbasis bukti
ilmiah. Dengan monitoring yang terukur dan tindak lanjut yang tepat sasaran,
target rehabilitasi mangrove tahun 2026 diharapkan dapat tercapai guna
memperkuat ketahanan pesisir dan mendukung keberlanjutan lingkungan hidup.

.jpeg)





