Kegiatan yang merupakan
kolaborasi antara BBKSDA, KPH, BPDAS, serta tim PIU/PPIU ini bertujuan untuk
memperkuat wawasan dan keterampilan praktis masyarakat pesisir dalam
pembibitan, pemilihan bibit, hingga teknik penanaman mangrove secara langsung
di lapangan.
Langkat: Kombinasi Ilmu Teknis dan Kearifan Lokal
Di Kabupaten Langkat, kegiatan
dipusatkan di Ekowisata KTH Penghijauan Maju Bersama, Desa Pasar Rawa, yang
dihadiri oleh perwakilan dari Desa Teluk Meku dan Pekan Besitang. Acara dibuka
oleh Al Rahmat Putra selaku perwakilan Manager PPIU Sumatera Utara, dengan
kehadiran narasumber dari BBKSDA, BPDAS Wampu Sei Ular, dan KPH I Stabat.
Kasto Wahyudi, Ketua KTH
Penghijauan Maju Bersama, menekankan bahwa SLRM adalah pembelajaran langsung
dari hulu ke hilir. Senada dengan itu, Yanto, anggota KTH Rezeki, menyampaikan
dampak nyata program ini: "Hutan mulai terjaga, satwa juga sudah mulai
ada. Setelah gundul kita tidak merasakan apa-apa, kini setelah lebat berkat
program termasuk M4CR, kita akan mendapatkan manfaatnya."
Peserta di Langkat mendapatkan
materi komprehensif, mulai dari K3-LH, konservasi, pembibitan Rhizophora,
hingga teknik rehabilitasi mutakhir seperti sylvofishery, pengkayaan, insentif,
murni, rumput berjarak, dan metode guludan.
Serdang Bedagai & Batu
Bara: Antusiasme Tinggi dengan Pendekatan Interaktif
Suasana dinamis dan interaktif
terasa di Kabupaten Serdang Bedagai yang berada di Desa Pematang Kuala dan Batu Bara berada di Desa
Kapal Merah. Di Serdang Bedagai, pembukaan oleh Kepala Desa Ramlan dan arahan
dari perwakilan KPH II serta BBKSDA menciptakan suasana semi-formal yang cair.
Peserta dari KUB Nelayan Sepakat dan KTH Pesisir Sejahtera terlihat sangat
aktif mendalami materi pengelolaan ekosistem dan konservasi satwa.
Sementara di Batu Bara, 28
peserta dari empat kelompok tani berbeda mengikuti rangkaian acara dengan
sangat tertib sesuai rundown. Korlap Batu Bara, Azum, yang mewakili Tim PPIU,
membuka acara dengan semangat. Sesi tanya jawab menjadi momen paling dinamis,
di mana panitia memberikan apresiasi berupa tumbler dan topi koboy kepada
peserta yang aktif bertanya, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan
tidak membosankan.
Di Kabupaten Asahan diadakan di Desa Sei
Sembilang dan Labuhanbatu berada di Desa Sei Tawar, kegiatan SLRM menonjolkan nilai
kekeluargaan yang kuat. Meski menghadapi tantangan akses jalan yang sulit
hingga mengharuskan panitia dan pemateri dijemput oleh perwakilan kelompok,
semangat peserta tidak luntur.
Kegiatan yang digelar di halaman
rumah warga di Asahan ini dan Labuhan batu berada di kantor desa ini justru membuat peserta
merasa lebih nyaman dan tidak canggung untuk berdiskusi. Kehadiran perwakilan
desa, BPDAS Asahan Barumun, BBKSDA, dan KPH V Aek Kanopan semakin mengukuhkan
bahwa kegiatan ini bukan hanya syarat administratif penanaman, melainkan
fondasi penting untuk memastikan masyarakat memahami tujuan ekologis, sosial,
dan ekonomi dari rehabilitasi mangrove.
Komitmen Jangka Panjang untuk
Pesisir Sumatera Utara
Sekolah Lapang Rehabilitasi
Mangrove Batch 2 ini diharapkan dapat melahirkan kader-kader lingkungan yang
mandiri dan kompeten. Dengan melibatkan pendamping desa, fasilitator, dan
tenaga ahli dari berbagai instansi terkait, program ini memastikan bahwa setiap
bibit yang ditanam memiliki tingkat keberhasilan hidup (survival rate) yang
tinggi dan dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.
Kegiatan akan berlanjut dengan
praktik lapangan di masing-masing kluster hingga 12 Juni 2026 mendatang.








