Divisi Komunikasi

Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove (SLRM) Batch II Tahun 2026 Resmi Dibuka Serentak di 5 Kabupaten Provinsi Sumatera Utara



SUMATERA UTARA, 9 Juni 2026 – Sebanyak 186 peserta dari berbagai Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di pesisir Sumatera Utara antusias mengikuti pembukaan Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove (SLRM) Batch 2 Tahun 2026. Kegiatan strategis ini dibuka secara serentak mulai hari ini, 9 Juni, hingga 12 Juni 2026, yang tersebar di 8 kluster kegiatan meliputi 5 kabupaten, yaitu Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, Batu Bara, dan Labuhanbatu.

Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara BBKSDA, KPH, BPDAS, serta tim PIU/PPIU ini bertujuan untuk memperkuat wawasan dan keterampilan praktis masyarakat pesisir dalam pembibitan, pemilihan bibit, hingga teknik penanaman mangrove secara langsung di lapangan.

Langkat: Kombinasi Ilmu Teknis dan Kearifan Lokal

Di Kabupaten Langkat, kegiatan dipusatkan di Ekowisata KTH Penghijauan Maju Bersama, Desa Pasar Rawa, yang dihadiri oleh perwakilan dari Desa Teluk Meku dan Pekan Besitang. Acara dibuka oleh Al Rahmat Putra selaku perwakilan Manager PPIU Sumatera Utara, dengan kehadiran narasumber dari BBKSDA, BPDAS Wampu Sei Ular, dan KPH I Stabat.

Kasto Wahyudi, Ketua KTH Penghijauan Maju Bersama, menekankan bahwa SLRM adalah pembelajaran langsung dari hulu ke hilir. Senada dengan itu, Yanto, anggota KTH Rezeki, menyampaikan dampak nyata program ini: "Hutan mulai terjaga, satwa juga sudah mulai ada. Setelah gundul kita tidak merasakan apa-apa, kini setelah lebat berkat program termasuk M4CR, kita akan mendapatkan manfaatnya."

Peserta di Langkat mendapatkan materi komprehensif, mulai dari K3-LH, konservasi, pembibitan Rhizophora, hingga teknik rehabilitasi mutakhir seperti sylvofishery, pengkayaan, insentif, murni, rumput berjarak, dan metode guludan.

Serdang Bedagai & Batu Bara: Antusiasme Tinggi dengan Pendekatan Interaktif

Suasana dinamis dan interaktif terasa di Kabupaten Serdang Bedagai yang berada di Desa Pematang Kuala dan Batu Bara berada di Desa Kapal Merah. Di Serdang Bedagai, pembukaan oleh Kepala Desa Ramlan dan arahan dari perwakilan KPH II serta BBKSDA menciptakan suasana semi-formal yang cair. Peserta dari KUB Nelayan Sepakat dan KTH Pesisir Sejahtera terlihat sangat aktif mendalami materi pengelolaan ekosistem dan konservasi satwa.

Sementara di Batu Bara, 28 peserta dari empat kelompok tani berbeda mengikuti rangkaian acara dengan sangat tertib sesuai rundown. Korlap Batu Bara, Azum, yang mewakili Tim PPIU, membuka acara dengan semangat. Sesi tanya jawab menjadi momen paling dinamis, di mana panitia memberikan apresiasi berupa tumbler dan topi koboy kepada peserta yang aktif bertanya, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan.

Kegiatan Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove Batch 2 Tahun 2026
di Kantor Desa Sei Tawar, Labuhanbatu

Asahan & Labuhanbatu: Semangat Kekeluargaan Mengatasi Tantangan Lapangan

Di Kabupaten Asahan diadakan di Desa Sei Sembilang dan Labuhanbatu berada di Desa Sei Tawar, kegiatan SLRM menonjolkan nilai kekeluargaan yang kuat. Meski menghadapi tantangan akses jalan yang sulit hingga mengharuskan panitia dan pemateri dijemput oleh perwakilan kelompok, semangat peserta tidak luntur.

Kegiatan yang digelar di halaman rumah warga di Asahan ini dan Labuhan batu berada di kantor desa ini justru membuat peserta merasa lebih nyaman dan tidak canggung untuk berdiskusi. Kehadiran perwakilan desa, BPDAS Asahan Barumun, BBKSDA, dan KPH V Aek Kanopan semakin mengukuhkan bahwa kegiatan ini bukan hanya syarat administratif penanaman, melainkan fondasi penting untuk memastikan masyarakat memahami tujuan ekologis, sosial, dan ekonomi dari rehabilitasi mangrove.

Komitmen Jangka Panjang untuk Pesisir Sumatera Utara

Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove Batch 2 ini diharapkan dapat melahirkan kader-kader lingkungan yang mandiri dan kompeten. Dengan melibatkan pendamping desa, fasilitator, dan tenaga ahli dari berbagai instansi terkait, program ini memastikan bahwa setiap bibit yang ditanam memiliki tingkat keberhasilan hidup (survival rate) yang tinggi dan dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.

Kegiatan akan berlanjut dengan praktik lapangan di masing-masing kluster hingga 12 Juni 2026 mendatang.