Divisi Komunikasi

18 Kelompok Masyarakat Pesisir Sumut Siap Bertransformasi: Ekspose Laporan Pendahuluan Sekolah Lapang Livelihood M4CR Resmi Digelar di Medan


Medan, 14 Agustus 2026 – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Equator menggelar Ekspose Laporan Pendahuluan Sekolah Lapang Livelihood Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Provinsi Sumatera Utara (LOT-1) di Ruang Gatot Subroto, Le Polonia Hotel & Convention Medan, Jumat (14/8). Kegiatan ini menjadi tonggak awal dimulainya rangkaian pendampingan bagi 18 Kelompok Masyarakat (Pokmas) pesisir yang tersebar di Kabupaten Asahan, Deli Serdang, Labuhan Batu Utara, Langkat, dan Serdang Bedagai.

Ekspose ini bertujuan menyampaikan gambaran umum pelaksanaan kegiatan, ruang lingkup pekerjaan, mekanisme pelaksanaan, serta jadwal kegiatan kepada seluruh pemangku kepentingan. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang untuk menyamakan persepsi agar pelaksanaan program berjalan efektif, tepat sasaran, dan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

Community Based Livelihood Coordinator, Muhammad Yusuf, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki substansi yang jauh melampaui proses administratif.

"Kegiatan ini bukan hanya proses administrasi saja. Kami berharap laporan ini objektif dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan proyek M4CR. Laporan ini juga memiliki substansi yang harus dipenuhi dan dapat dipertanggungjawabkan nantinya," tegas Yusuf.

Senada dengan itu, Parihutan Sagala selaku PPK IV Sumatera Utara menekankan pentingnya sinkronisasi program dengan agenda pembangunan daerah. "Sekolah Lapang Livelihood ini akan kita terapkan kepada masyarakat dan harus dapat bersinkronisasi dengan program-program kerja di Sumatera Utara. Kami berharap semua pihak dapat memberikan yang terbaik," ujarnya.


Sambutan sekaligus pembukaan resmi disampaikan oleh Sigit Budi Nugroho, S.Si., M.Si., Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular. Dalam arahannya, Sigit menggarisbawahi tiga pilar utama yang harus menjadi perhatian bersama:

Pertama, ketepatan dalam menentukan Sekolah Lapang. "SL M4CR dapat memberikan sustainability. Bagaimana masyarakat di tingkat tapak dapat terdidik dengan baik pada ekosistem mangrove ini," jelasnya.

Kedua, pendidikan sebagai fondasi. "Pendidikan adalah syarat mutlak untuk melahirkan champion-champion dari tingkat tapak," imbuh Sigit.

Ketiga, kemandirian masyarakat. "Masyarakat harus mandiri, tidak bergantung pada anggaran. Inilah PR bagi kita semua. Ketika Sekolah Lapang ini dapat diberikan dengan baik kepada kelompok masyarakat, mereka harus mampu berdiri sendiri," pungkasnya.

Pada sesi pemaparan utama, Dr. Yayan Hendrayana, S.Hut., M.Si. selaku Team Leader Tim NGO Equator menyampaikan hasil Laporan Baseline 2026 yang telah dilaksanakan pada 20–25 Juli 2026. Survei menjangkau 150 responden dari 18 kelompok Sekolah Lapang di 5 kabupaten sasaran.

Beberapa temuan kunci yang disampaikan antara lain:

  • 70,7% responden laki-laki dan 29,3% perempuan, dengan dominasi usia produktif 35–54 tahun;
  • 48,7% rumah tangga bergantung pada hasil laut sebagai sumber pendapatan utama;
  • 91,3% responden pernah mengikuti pelatihan mangrove, namun materi masih berfokus pada penanaman dan belum banyak menyentuh pengembangan usaha;
  • 96% responden menilai menjaga mangrove sangat penting bagi keberlanjutan usaha mereka;
  • Hanya 1,3% yang memiliki alat produksi/pengolahan — menunjukkan peluang besar untuk pelatihan nilai tambah produk;
  • 84% responden telah menetap lebih dari 20 tahun di wilayahnya, menjadi modal pengalaman lokal yang kuat.


"Baseline ini berperan sebagai instrumen perencanaan agar pendekatan, metode pembelajaran, dan pendampingan sesuai kebutuhan lokal masyarakat," ujar Dr. Yayan.

Selain baseline, Dr. Yayan juga memaparkan hasil Rapid Assessment yang menilai kesiapan 18 Kelompok Masyarakat melalui empat metode pengumpulan data: wawancara terstruktur, observasi lapangan, diskusi kelompok, dan telaah data sekunder.

Hasilnya, 17 Pokmas direkomendasikan mengikuti Sekolah Lapang Livelihood, sementara 1 Pokmas (KTH Cinta Mangrove) belum direkomendasikan pada tahap ini karena pertimbangan teknis aksesibilitas — bukan karena rendahnya potensi kelompok.

Ke-17 Pokmas tersebut dikelompokkan ke dalam 5 cluster berbasis kedekatan wilayah dan kesamaan jenis komoditas:


Kendala paling dominan yang dihadapi kelompok adalah keterbatasan akses pasar (38,89%), diikuti ketergantungan pada pengepul, keterbatasan modal usaha, dan transportasi.

Program Sekolah Lapang Livelihood akan dilaksanakan melalui 6 kali pertemuan per kelompok (3 pertemuan umum dan 3 pertemuan pendalaman materi), dengan peserta maksimal 15 orang per kelompok dan keterwakilan perempuan minimal 30%.

Pendekatan pembelajaran menggunakan metode experiential learning (belajar dari pengalaman), meliputi observasi lapangan, analisis kondisi dan permasalahan, serta pengambilan keputusan kelompok secara kolektif.

Jenis usaha yang akan dikembangkan sangat beragam, mulai dari budidaya kepiting bakau dan kepiting soka, silvofishery, peternakan kambing dan domba, pengolahan kerupuk udang dan terasi, budidaya udang vaname, keramba apung ikan kakap putih, hingga ekowisata mangrove.

Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) merupakan inisiatif Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan Bank Dunia. Di Provinsi Sumatera Utara, program ini menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 1.544 hektare yang terintegrasi dengan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Melalui Ekspose Laporan Pendahuluan ini, seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen bersama untuk mewujudkan masyarakat pesisir yang lebih berdaya, mandiri, dan sejahtera, sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove Sumatera Utara.