MEDAN, 31 Juli 2026 – Kementerian
Kehutanan melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) IV wilayah Ditjen PDASRH, resmi
menggelar acara Penyampaian dan Serah Terima Hasil Pekerjaan Pembuatan Tanaman
Mangrove (P0) Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Tahun
2026.
Acara yang berlangsung selama dua
hari, 30–31 Juli 2026, di Hotel Grand Mercure Maha Cipta Angkasa, Medan, ini
menjadi milestone penting dalam upaya rehabilitasi dan konservasi ekosistem
pesisir di Sumatera Utara. Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif dari
puluhan kelompok masyarakat di lima kabupaten, yakni Langkat, Batu Bara,
Serdang Bedagai, Asahan, dan Labuhanbatu.
Kabid Pengelolaan Pesisir, Kelautan,
Rehabilitasi Hutan dan Lingkungan Hidup (PPKLRHL) Dinas LHK Sumut, Asep Perry
Muhammad Athoriez, S.P., yang mewakili Kepala Dinas LHK Provinsi Sumatera
Utara, menegaskan bahwa penanaman mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial,
melainkan investasi ekologi dan ekonomi bagi masa depan.
"Mudah-mudahan kegiatan yang
sudah Bapak/Ibu tanam, ke depannya akan memberikan nilai ekonomi yang bisa
dirasakan langsung oleh masyarakat. Manfaat ekologi dari hutan mangrove ini
sangat berpengaruh bagi kita semua untuk menghadapi perubahan iklim di masa
yang akan datang," ujar Asep Perry dalam sambutannya saat membuka acara
hari kedua, Jumat (31/7).
Senada dengan hal tersebut, Perwakilan BPDAS Wampu Sei Ular, Komaruddin, S.Hut., yang turut melakukan verifikasi langsung di lapangan, mengapresiasi dedikasi para kelompok masyarakat. "Ekosistem mangrove adalah salah satu ekosistem yang harus kita pelihara dengan sebaik-baiknya. Saya melihat sendiri bagaimana mangrove ini ditanam oleh Bapak/Ibu kelompok masyarakat dengan sangat baik dan penuh tanggung jawab," ungkapnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) IV
Wilayah Sumatera Utara, Parihutan Sagala, menekankan bahwa penandatanganan
Berita Acara Serah Terima (BAST) bukanlah akhir dari tanggung jawab kelompok
masyarakat, melainkan awal dari fase krusial yaitu pemeliharaan.
"Serah terima belum habis di
sini. Kita masih punya ikatan hingga menyelesaikan pemeliharaan tahap I dan II.
Bapak/Ibu harus bisa menjaga tanaman agar tetap hidup. Kalau sudah ada yang
mati, segeralah disulam untuk terus berganti seperti yang sudah dikontrakkan di
awal. Kami juga meminta Bapak/Ibu membuat surat pernyataan untuk tetap menjaga
mangrove ini hingga tahap-tahap selanjutnya," tegas Parihutan.
Sementara itu, Manajer PPIU Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, S.Hut., menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh kelompok yang telah menyelesaikan penanaman dengan baik. Ia juga menginformasikan bahwa tim akan segera melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk memastikan tingkat keberhasilan tanaman di lapangan.
Prosesi puncak acara ditandai
dengan pembacaan isi kontrak Berita Acara Serah Terima secara terbuka oleh Parihutan
Sagala guna menjamin transparansi. Penandatanganan BAST antara PPK IV dan Ketua
Kelompok Masyarakat disaksikan langsung oleh berbagai pemangku kepentingan,
meliputi Manajer PPIU Sumut, Kepala Desa, Kepala KPH, Koordinator Lapangan,
serta Pendamping Desa.
Program Mangroves for Coastal
Resilience (M4CR) merupakan program strategis yang bertujuan untuk
meningkatkan ketahanan pesisir dan mata pencaharian masyarakat melalui
rehabilitasi hutan mangrove yang partisipatif dan berkelanjutan. Kolaborasi
antara Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, BPDAS, PPIU,
dan kelompok masyarakat di lapangan menjadi kunci suksesnya program ini.





































.jpeg)






