MEDAN, 30 Juli 2026 –
Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Provinsi Sumatera Utara
kembali mencatatkan langkah penting dalam upaya rehabilitasi dan ketahanan
pesisir. Hari ini, Kamis (30/7/2026), dilaksanakan hari pertama kegiatan
Penyampaian dan Serah Terima Hasil Pekerjaan (BAST) Pembuatan Tanaman Mangrove
(P0) dari 24 Kelompok Masyarakat (Pokmas) kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
IV Wilayah Sumatera Utara.
Acara yang berlangsung di Hotel
Grand Mercure Maha Cipta Angkasa, Medan, ini menjadi ajang evaluasi transparan
atas hasil kerja keras masyarakat dalam merestorasi ekosistem mangrove di
wilayah pesisir Sumut.
Kegiatan BAST ini bertujuan untuk
memastikan bahwa seluruh pekerjaan penanaman dan pengadaan yang dilakukan oleh
kelompok masyarakat telah sesuai dengan kontrak dan spesifikasi yang
disepakati. Verifikasi ini juga menjadi syarat mutlak sebelum hasil pekerjaan
secara resmi diserahterimakan dari kelompok kepada pemerintah (PPK).
Asisten Rehabilitasi Mangrove
PPIU M4CR Sumatera Utara, Sigit Prasetyo, memaparkan bahwa rangkaian verifikasi
akhir mencakup pengecekan fisik bibit, spesifikasi ajir, papan nama, pekerjaan
hidrologi (jika ada), hingga geotagging, tracking, dan
kelengkapan administrasi.
"Verifikasi akhir bukan
untuk menilai tingkat kehidupan tanaman, karena itu akan dilakukan pada tahap
monitoring dan evaluasi terpisah. Fokus hari ini adalah memastikan kesesuaian
fisik dan administrasi," jelas Sigit.
Berdasarkan paparan per kabupaten, rincian kelompok yang berhasil menyelesaikan pekerjaannya secara 100% adalah Kabupaten Langkat: 8 Kelompok, Kabupaten Batubara: 7 Kelompok Kabupaten Asahan: 2 Kelompok.
Sigit juga secara terbuka
menyampaikan bahwa dari 24 kelompok, terdapat 5 kelompok di Kabupaten
Labuhanbatu yang belum mencapai target 100% pada jadwal awal. Namun, hal ini
telah diantisipasi dengan baik oleh tim.
"Untuk kelima kelompok di
Labuhanbatu, kami telah memproses addendum perpanjangan waktu pekerjaan.
Nantinya akan ada BAST lanjutan khusus untuk mereka setelah masa perpanjangan
selesai," tambah Sigit di tengah sesi tanya jawab yang dipandu oleh
Giselia Malya, Asisten Hidrologi PPIU Sumut.
Kegiatan ini dihadiri oleh
berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Kehutanan, Balai
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(DLHK) Provinsi Sumatera Utara, KPH hingga tim PIU/PPIU M4CR.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) IV
Wilayah Sumut, Parihutan Sagala, menyampaikan apresiasi dan harapannya agar
seluruh laporan yang disampaikan hari ini dapat diterima dan dicatat secara
lengkap sebagai bentuk akuntabilitas program.
Senada dengan hal tersebut,
Perwakilan BPDAS Asahan Barumun, Kristo Damanik, menegaskan komitmen
lembaganya. "Pada dasarnya BPDAS ASBAR siap menjadi check and balance.
Apa yang ditemukan di lapangan akan kami laporkan secara berjenjang untuk
memastikan kualitas rehabilitasi," ujarnya saat membuka acara hari
pertama.
Sementara itu, Manajer PPIU
Sumatera, Aditya Wahyu Putra, mengakui dinamika di lapangan yang cukup
menantang, termasuk adanya perpanjangan waktu penanaman di beberapa titik.
"Mengingat program M4CR akan berakhir pada Desember 2026, kita harus
bekerja sama memastikan timeline dan target fisik serta administrasi
terpenuhi dengan baik," ungkap Aditya.
Kegiatan BAST ini akan
dilanjutkan pada esok hari, Jumat (31/7/2026), dengan sesi sambutan para
pemangku wilayah, serah terima hasil pekerjaan secara resmi, serta evaluasi
internal PPIU M4CR Sumatera Utara.
Program M4CR terus berkomitmen
untuk meningkatkan ketahanan pesisir di Sumatera Utara melalui restorasi
ekosistem mangrove yang kolaboratif dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat
lokal.








