Sumatera Utara – Bagi
masyarakat pesisir, mangrove bukan sekadar pepohonan di garis pantai. Ia adalah
benteng alami pelindung daratan dan desa pesisir dari abrasi dan erosi akibat
gempuran ombak serta arus laut. Akar-akarnya yang rapat berfungsi menahan
sedimen dan meredam energi gelombang sebelum menghantam daratan, rumah bagi
ikan, udang, dan kepiting yang menopang mata pencaharian, serta penyerap karbon
yang vital dalam menghadapi perubahan iklim.
Memahami hal tersebut, Yayasan
SPEAK Indonesia bersama Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Sumatera
Utara dari Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Kementerian
Kehutanan, baru-baru ini melaksanakan rangkaian scoping research (riset pemetaan
awal). Kegiatan ini melibatkan dialog langsung dengan masyarakat pesisir,
akademisi, pemerintah, dan sektor swasta untuk menyusun Strategi Komunikasi
Rehabilitasi Mangrove untuk Resiliensi Wilayah Pesisir yang adaptif,
partisipatif, dan inklusif.
Diskusi strategis diawali bersama
Manager PPIU Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, untuk memetakan tantangan di
lapangan. Ia menyoroti tingginya laju alih fungsi lahan yang membuat ekosistem
mangrove semakin rentan terhadap degradasi.
"Alih fungsi kawasan
mangrove di Sumatera Utara sudah berlangsung cukup masif. Karena itu, proses
rehabilitasi tidak bisa hanya mengandalkan penanaman, tetapi membutuhkan
berbagai pendekatan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak
agar kawasan mangrove dapat dipulihkan secara bertahap," ujar Aditya Wahyu
Putra.
Suara Dari Garda Terdepan:
Pengalaman dan Harapan
Riset ini turun langsung ke Desa
Pasar Rawa, Kabupaten Langkat, untuk mendengar suara para pelaku konservasi di
tingkat akar rumput. Di sini, tim berdialog dengan dua tokoh kunci yang
mewakili kekayaan pengalaman dan semangat generasi penerus.
Kasto Wahyudi, Ketua Kelompok
Tani Penghijauan Maju Bersama, mewakili masyarakat yang telah lama berkecimpung
dan berpengalaman dalam menjaga ekosistem desa. Ia menegaskan bahwa bagi warga
Desa Pasar Rawa, rehabilitasi mangrove bukan sekadar kegiatan konservasi
teoretis. Mangrove yang sehat adalah pelindung nyata tambak dari abrasi dan
penopang utama kualitas ekosistem pesisir yang menjamin keberlanjutan hasil
tangkapan ikan, udang, dan kepiting sebagai sumber penghidupan sehari-hari.
Semangat yang sama juga
digaungkan oleh generasi muda. Silfia Citra Pohan, Ketua Kelompok Tani Rezeki,
yang bersama kelompoknya telah menanam sekitar 7.200 bibit mangrove, hadir
sebagai representasi kuat peran pemuda pesisir.
"Ayo kita lestarikan
mangrove. Selain mencegah abrasi, mangrove juga menjadi rumah bagi ikan, udang,
kepiting, dan berbagai satwa lainnya. Mangrove juga menghasilkan oksigen serta
membantu mengurangi dampak pemanasan global. Menjaga mangrove berarti menjaga
masa depan kita bersama," seru Silfia.
Kolaborasi Multipihak sebagai
Kunci Keberlanjutan
Selain suara masyarakat, riset
ini juga memperkaya perspektif melalui diskusi dengan Dr. Oding Affandi,
S.Hut., M.P. dari Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), yang
menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti (evidence-based approach) dalam
pengelolaan dan komunikasi rehabilitasi.
Tim juga berdiskusi dengan Abdur
Rohim, Community Development Officer (CDO) PT Pertamina Hulu Rokan Zona I –
Pangkalan Susu Field, untuk menggali praktik baik sektor swasta dalam mendukung
rehabilitasi mangrove melalui pemberdayaan masyarakat dan kolaborasi
multipihak.
Fokus pada Output, Outcome,
dan Impact Sustainability
Rangkaian scoping research ini dirancang dengan kerangka yang berfokus pada rantai dampak (impact chain) untuk menjamin keberlanjutan strategi komunikasi:
- Output (Luaran Langsung):Terpetakannya persepsi masyarakat dan pemangku kepentingan, teridentifikasinya pesan serta saluran media komunikasi yang paling relevan dan efektif, serta terdaftarnya aktor-aktor kunci (termasuk tokoh masyarakat berpengalaman seperti Kasto dan pemudi seperti Silfia) yang memiliki pengaruh dalam mendorong perubahan perilaku.
- Outcome (Hasil Jangka Menengah):Tersusunnya dokumen Strategi Komunikasi Rehabilitasi Mangrove yang tidak lagi bersifat top-down, melainkan adaptif terhadap karakteristik lokal, partisipatif, dan inklusif. Strategi ini akan menjadi panduan operasional bagi pemerintah dan mitra dalam menyampaikan pesan konservasi yang menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan ekologis masyarakat.
- Impact & Sustainability (Dampak dan Keberlanjutan Jangka Panjang):Terjadinya pergeseran paradigma dan perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan. Dari yang awalnya melihat mangrove hanya sebagai "pepohonan di pantai", menjadi kesadaran kolektif bahwa "menjaga mangrove = melindungi sumber penghidupan dan ketahanan iklim". Dampak akhirnya adalah terciptanya kolaborasi multipihak yang kokoh, di mana masyarakat, pemerintah, akademisi, dan swasta memiliki rasa memiliki (sense of belonging) untuk menjaga ekosistem pesisir demi generasi mendatang.
Melalui strategi komunikasi yang
efektif dan tepat sasaran ini, Program M4CR optimis bahwa rehabilitasi mangrove
di Sumatera Utara tidak hanya akan mengembalikan hijau-nya garis pantai, tetapi
juga membangun ketahanan sosial-ekologi yang berkelanjutan.
Tentang Mangroves for Coastal
Resilience
Program Mangroves for Coastal
Resilience (M4CR) merupakan inisiatif strategis nasional yang bertujuan untuk
mengatasi degradasi ekosistem mangrove di Indonesia melalui rehabilitasi skala
besar yang berfokus pada pendekatan berbasis komunitas dan keberlanjutan
lingkungan. Pelaksanaan rehabilitasi mangrove M4CR berlangsung di 4 provinsi
prioritas yaitu Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan utara
dengan target luasan 41.000 hektar hingga tahun 2027.
M4CR dikelola oleh Kementerian
Kehutanan melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), bersama dengan dukungan dari
Kementerian/Lembaga (K/L) terkait; Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Pengelola
Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan pemerintah daerah, serta didanai melalui
kerja sama dengan World Bank. Mengusung kampanye “Mangrove untuk Masa Depan”,
M4CR tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga memperkuat
perlindungan masyarakat dari dampak perubahan iklim serta mendorong ekonomi
lokal berbasis mangrove yang berkelanjutan.









