Divisi Komunikasi

Verifikasi Akhir Penanaman Mangrove P0 2026 di Serdang Bedagai Rampung, Masyarakat Buktikan Komitmen Lawan Abrasi

 

SERDANG BEDAGAI, 27 Juli 2026 – Tim verifikasi M4CR PPIU Sumatera Utara telah menyelesaikan peninjauan akhir (final verification) program penanaman Mangrove P0 tahun 2026 di wilayah pesisir Serdang Bedagai. Kegiatan yang berlangsung pada 24 hingga 27 Juli 2026 ini bertujuan untuk memastikan keberhasilan dan kualitas restorasi ekosistem mangrove yang diinisiasi langsung oleh masyarakat setempat sebagai upaya pencegahan abrasi pantai.

Selama empat hari pelaksanaan, verifikasi menyasar dua kelompok masyarakat di wilayah pesisir dengan karakteristik yang dinamis. Pada 24-25 Juli, tim meninjau area seluas 15 hektar yang dikelola oleh KUB Nelayan Sepakat di Desa Pematang Kuala, dengan total 375 rumpun mangrove. Selanjutnya, pada 26-27 Juli, verifikasi dilanjutkan ke area seluas 8 hektar di Desa Bagan Kuala yang dikelola oleh KTH Pesisir Sejahtera dengan total 200 rumpun.

Area penanaman di Desa Pematang Kuala berada di garis pantai yang terbentuk dari proses dinamika pasang surut air laut. Untuk memaksimalkan tingkat kelulusan bibit di area yang rentan terhadap gelombang, masyarakat menerapkan "Metode Rumpun Berjarak". Metode ini dirancang khusus untuk meminimalisir risiko bibit hanyut saat air pasang, sekaligus melindungi bibit muda dari terpaan sampah laut.

Dalam pelaksanaannya, tim verifikasi melakukan pengukuran ketat terhadap beberapa parameter vital untuk menjamin kualitas ekosistem. Aspek yang diverifikasi meliputi jumlah bibit yang bertahan, tinggi rumpun, tingkat salinitas air, serta diameter bambu yang digunakan sebagai pagar pelindung tanaman.

Proses verifikasi di lapangan tidak lepas dari tantangan alam yang menguji dedikasi tim. Saat meninjau area KTH Pesisir Sejahtera di Desa Bagan Kuala, kondisi perairan sedang mengalami fase pasang mati (air surut ekstrem). Kapal verifikasi tidak dapat merapat langsung ke tepi pantai akibat endapan lumpur dasar laut yang dangkal. Demi menunaikan tugas, tim verifikasi harus turun dan berjalan menyusuri area lumpur surut sejauh kurang lebih 50 meter dengan kedalaman air setinggi paha untuk mencapai titik tanam.

"Kondisi lapangan yang ekstrem justru membuktikan keseriusan kolaborasi antara masyarakat pesisir dan tim pendamping. Penerapan metode rumpun berjarak menunjukkan adaptasi yang luar biasa dari masyarakat Serdang Bedagai dalam menjaga garis pantai mereka dari ancaman abrasi," ujar Perwakilan Tim Verifikasi di sela-sela kegiatan.

Hasil dari verifikasi akhir ini akan menjadi data dasar untuk evaluasi program restorasi pesisir selanjutnya, sekaligus memastikan bahwa kerja keras masyarakat Serdang Bedagai memberikan dampak jangka panjang bagi ketahanan lingkungan pesisir.