Kabar itu datang dari pelosok Mesuji, menyayat hati dan
memaksa kita untuk menelan ludah sebelum berbicara. Di sebuah sudut wilayah
yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, seekor Tapir Tenuk (Tapirus
indicus) satwa langka yang dilindungi undang-undang dan akhirnya meregang
nyawa. Tubuhnya berlubang oleh tusukan tombak, dikepung oleh masyarakat yang
kelaparan.
Ketika berita ini pertama kali dibaca, reaksi alamiah
manusia mungkin adalah kemarahan. Bagaimana mungkin masyarakat membunuh satwa
yang dilindungi? Bagaimana mungkin tombak diarahkan pada makhluk yang tidak
memiliki taring untuk membalas?
Namun, mari kita sejenak meletakkan ego dan penghakiman
cepat kita. Mari kita duduk bersama, merenung, dan mendengarkan jerit alam yang
selama ini kita bungkam.
Tapir Tenuk adalah sang pemalu. Ia adalah makhluk nokturnal
yang mencintai kedamaian, yang hanya mengenal bahasa angin di antara dedaunan
hutan dan kegelapan rimba yang sejuk. Ia bukan predator. Ia tidak akan memangsa
ternak, apalagi menyerang manusia. Jika ada satu hal yang pasti tentang tapir,
ia akan menghindari manusia sejauh mungkin.
Lalu, pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan pada diri
kita sendiri dan pada alam adalah: Mengapa?
Mengapa seekor tapir, sang pemalu yang seharusnya berada di
kedalaman hutan lindung, nekat menerobos keluar, mendekati pemukiman, dan
berhadapan dengan tombak-tombak manusia?
Jawabannya tidak terletak pada ujung tombak warga, melainkan
pada ketiadaan rumah dan piring makan di hutan mereka.
Tapir itu keluar bukan karena ia kehilangan akal, melainkan
karena rantai makanan di kerajaannya telah diputus secara paksa. Hutan lindung
di Mesuji, yang seharusnya menjadi paru-paru dan lumbung kehidupan bagi satwa
liar, sedang mengalami luka yang menganga. Di balik hilangnya daun-daun segar
yang menjadi makanan tapir, ada suara gergaji mesin yang meraung setiap hari.
Ada pohon-puluh raksasa yang tumbang bukan untuk kebutuhan hidup orang banyak,
melainkan untuk memuaskan keserakahan segelintir manusia yang melakukan
penebangan liar dan perambahan hutan.
Ketika hutan dirampok, rantai makanan hancur. Ketika rantai
makanan hancur, satwa liar tidak punya pilihan lain selain tersesat keluar dari
batas wilayahnya, mencari sisa-sisa kehidupan di wilayah manusia. Tapir yang
kita tombak itu sejatinya adalah pengungsi. Ia terusir dari rumahnya sendiri
oleh mereka yang serakah.
Di titik inilah letak renungan terbesar kita: Siapa yang
sebenarnya bersalah?
Apakah kita harus menggantung dosa pada pundak masyarakat
Mesuji yang perutnya keroncongan? Mereka adalah manusia yang terjebak dalam
himpitan kemiskinan dan kelaparan. Ketika lapar mendera, insting bertahan hidup
mengambil alih logika. Melihat seekor hewan besar muncul di dekat mereka, bagi
masyarakat yang kelaparan, itu bukanlah simbol konservasi; itu adalah harapan
untuk sebuah makan malam. Menyalahkan mereka yang membunuh tapir karena lapar
adalah sebuah kemewahan bagi mereka yang perutnya selalu kenyang.
Lalu, di mana letak keadilan jika kita hanya menghukum yang
menusuk, tetapi membiarkan mereka yang meracuni ekosistem?
Kesalahan yang jauh lebih besar, dosa yang jauh lebih purba,
dilakukan oleh mereka yang membabat hutan lindung demi diri sendiri. Merekalah
pembunuh yang sebenarnya. Mereka tidak hanya membunuh pohon, mereka membunuh
masa depan. Mereka yang mengambil kayu dari hutan lindung secara tidak langsung
telah mengambil makanan dari mulut tapir, dan pada saat yang sama, mendorong
masyarakat lokal ke dalam jurang konflik dengan alam dan kelaparan.
Tragedi di Mesuji ini bukanlah sekadar kasus perburuan satwa
liar. Ini adalah cermin retak dari kehancuran ekologi yang berujung pada
tragedi kemanusiaan.
Tapir Tenuk itu telah mati. Tubuhnya akan selamanya menjadi noda
pada hati nurani kita sebagai manusia beradab.
Mari kita jadikan kematian tapir yang malang ini sebagai
pengingat yang keras namun penuh kasih. Jangan biarkan kelaparan masyarakat
dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap kejahatan ekologis. Hutan lindung
harus dijaga, bukan karena kita takut pada undang-undang, melainkan karena
hutan adalah satu-satunya benteng yang mencegah satwa liar kelaparan, dan
mencegah masyarakat lokal jatuh ke dalam keputusasaan.
Keadilan sejati tidak akan tercapai hanya dengan menangkap
mereka yang memegang tombak. Keadilan baru akan tegak ketika kita berani
menangkap tangan-tangan serakah yang telah menebang hutan, merampok hak hidup
satwa, dan pada akhirnya, memaksa manusia dan alam saling membunuh.
Selamat jalan, Tapir Tenuk. Maafkan kami, yang terlalu lama
membiarkan hutanmu dirampok, hingga kau terpaksa mencari mati di ujung tombak
saudara-saudaramu yang kelaparan.






