Divisi Komunikasi

Di Ujung Tombak dan Kelaparan: Sebuah Renungan Atas Tragedi Tapir Tenuk di Mesuji


Oleh : Reiza Levy Nasution, S.Sos - Strategi Komunikasi Assisten PPIU Sumut 

Kabar itu datang dari pelosok Mesuji, menyayat hati dan memaksa kita untuk menelan ludah sebelum berbicara. Di sebuah sudut wilayah yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, seekor Tapir Tenuk (Tapirus indicus) satwa langka yang dilindungi undang-undang dan akhirnya meregang nyawa. Tubuhnya berlubang oleh tusukan tombak, dikepung oleh masyarakat yang kelaparan.

Ketika berita ini pertama kali dibaca, reaksi alamiah manusia mungkin adalah kemarahan. Bagaimana mungkin masyarakat membunuh satwa yang dilindungi? Bagaimana mungkin tombak diarahkan pada makhluk yang tidak memiliki taring untuk membalas?

Namun, mari kita sejenak meletakkan ego dan penghakiman cepat kita. Mari kita duduk bersama, merenung, dan mendengarkan jerit alam yang selama ini kita bungkam.

Tapir Tenuk adalah sang pemalu. Ia adalah makhluk nokturnal yang mencintai kedamaian, yang hanya mengenal bahasa angin di antara dedaunan hutan dan kegelapan rimba yang sejuk. Ia bukan predator. Ia tidak akan memangsa ternak, apalagi menyerang manusia. Jika ada satu hal yang pasti tentang tapir, ia akan menghindari manusia sejauh mungkin.

Lalu, pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan pada diri kita sendiri dan pada alam adalah: Mengapa?

Mengapa seekor tapir, sang pemalu yang seharusnya berada di kedalaman hutan lindung, nekat menerobos keluar, mendekati pemukiman, dan berhadapan dengan tombak-tombak manusia?

Jawabannya tidak terletak pada ujung tombak warga, melainkan pada ketiadaan rumah dan piring makan di hutan mereka.

Tapir itu keluar bukan karena ia kehilangan akal, melainkan karena rantai makanan di kerajaannya telah diputus secara paksa. Hutan lindung di Mesuji, yang seharusnya menjadi paru-paru dan lumbung kehidupan bagi satwa liar, sedang mengalami luka yang menganga. Di balik hilangnya daun-daun segar yang menjadi makanan tapir, ada suara gergaji mesin yang meraung setiap hari. Ada pohon-puluh raksasa yang tumbang bukan untuk kebutuhan hidup orang banyak, melainkan untuk memuaskan keserakahan segelintir manusia yang melakukan penebangan liar dan perambahan hutan.

Ketika hutan dirampok, rantai makanan hancur. Ketika rantai makanan hancur, satwa liar tidak punya pilihan lain selain tersesat keluar dari batas wilayahnya, mencari sisa-sisa kehidupan di wilayah manusia. Tapir yang kita tombak itu sejatinya adalah pengungsi. Ia terusir dari rumahnya sendiri oleh mereka yang serakah.

Di titik inilah letak renungan terbesar kita: Siapa yang sebenarnya bersalah?

Apakah kita harus menggantung dosa pada pundak masyarakat Mesuji yang perutnya keroncongan? Mereka adalah manusia yang terjebak dalam himpitan kemiskinan dan kelaparan. Ketika lapar mendera, insting bertahan hidup mengambil alih logika. Melihat seekor hewan besar muncul di dekat mereka, bagi masyarakat yang kelaparan, itu bukanlah simbol konservasi; itu adalah harapan untuk sebuah makan malam. Menyalahkan mereka yang membunuh tapir karena lapar adalah sebuah kemewahan bagi mereka yang perutnya selalu kenyang.

Lalu, di mana letak keadilan jika kita hanya menghukum yang menusuk, tetapi membiarkan mereka yang meracuni ekosistem?

Kesalahan yang jauh lebih besar, dosa yang jauh lebih purba, dilakukan oleh mereka yang membabat hutan lindung demi diri sendiri. Merekalah pembunuh yang sebenarnya. Mereka tidak hanya membunuh pohon, mereka membunuh masa depan. Mereka yang mengambil kayu dari hutan lindung secara tidak langsung telah mengambil makanan dari mulut tapir, dan pada saat yang sama, mendorong masyarakat lokal ke dalam jurang konflik dengan alam dan kelaparan.

Tragedi di Mesuji ini bukanlah sekadar kasus perburuan satwa liar. Ini adalah cermin retak dari kehancuran ekologi yang berujung pada tragedi kemanusiaan.

Tapir Tenuk itu telah mati. Tubuhnya akan selamanya menjadi noda pada hati nurani kita sebagai manusia beradab. ðŸ˜ŒðŸ˜ ðŸ˜¡ðŸ˜¢

Mari kita jadikan kematian tapir yang malang ini sebagai pengingat yang keras namun penuh kasih. Jangan biarkan kelaparan masyarakat dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap kejahatan ekologis. Hutan lindung harus dijaga, bukan karena kita takut pada undang-undang, melainkan karena hutan adalah satu-satunya benteng yang mencegah satwa liar kelaparan, dan mencegah masyarakat lokal jatuh ke dalam keputusasaan.

Keadilan sejati tidak akan tercapai hanya dengan menangkap mereka yang memegang tombak. Keadilan baru akan tegak ketika kita berani menangkap tangan-tangan serakah yang telah menebang hutan, merampok hak hidup satwa, dan pada akhirnya, memaksa manusia dan alam saling membunuh.

Selamat jalan, Tapir Tenuk. Maafkan kami, yang terlalu lama membiarkan hutanmu dirampok, hingga kau terpaksa mencari mati di ujung tombak saudara-saudaramu yang kelaparan.