Oleh: Ernawati – Facilitator Livelihood
PPIU Sumatera Utara
Bencana banjir yang melanda
sebagian wilayah pesisir Sumatera Utara pada 26 November 2025 lalu,
meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat. Dampak paling terasa
dirasakan oleh para nelayan dan pembudidaya ikan yang menggantungkan hidup pada
sektor perikanan. Salah satu kelompok yang terdampak paling parah adalah
Kelompok Tani Hutan (KTH) Bina Pesisir Cinta Damai di Kelurahan Pangkalan Batu.
Sebagai penerima matching
grants dari program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) PPIU
Sumatera Utara, KTH Bina Pesisir Cinta Damai mengandalkan tambak silvofishery
(sistem tambak terintegrasi dengan mangrove) sebagai sumber mata pencaharian
utama. Namun, jebolnya tanggul tambak akibat derasnya arus banjir menghancurkan
hampir seluruh infrastruktur budidaya. Peralatan tambak hanyut, dinding tambak
rusak parah, dan puluhan ekor kepiting yang siap panen tersapu air bah. Bahkan,
pondok jaga yang selama ini menjadi pusat operasional kelompok turut
porak-poranda. Yang tersisa hanyalah beberapa ekor kepiting yang berhasil
selamat di dalam dua kotak pengerasan yang masih utuh.
Harapan Baru di Tengah Masa
Pemulihan
Di tengah puing-puing kerusakan
dan kondisi yang penuh tantangan, semangat anggota kelompok untuk bangkit tidak
pernah surut. Titik terang pemulihan hadir melalui intervensi program Sekolah
Lapang Livelihood (SLL) yang diselenggarakan oleh Tim Livelihood M4CR PPIU
Sumatera Utara pada 9-10 Desember 2025.
Kegiatan ini bukan sekadar
pelatihan biasa, melainkan sebuah wadah strategis untuk memperkuat kapasitas,
pengetahuan, dan keterampilan anggota kelompok dalam mengelola usaha budidaya
kepiting secara lebih baik, adaptif, dan berkelanjutan.
Meningkatkan Kapasitas melalui
Ilmu dan Praktik Lapangan
Materi yang disajikan dalam SLL
dirancang secara spesifik untuk menjawab kebutuhan dan tantangan yang sedang
dihadapi oleh kelompok. Pada hari pertama, peserta mendapatkan pemaparan materi
langsung dari Dinas Kelautan dan Perikanan. Sesi ini difokuskan pada pemahaman
teknis, seperti teknik pengukuran kualitas air—khususnya parameter salinitas, dissolved
oxygen (DO), dan pH—yang merupakan kunci keberhasilan budidaya kepiting.
Selain itu, peserta juga dibekali ilmu mengenai manajemen tambak, pemeliharaan,
manajemen pakan, hingga strategi meningkatkan produktivitas melalui praktik
budidaya yang efektif.
Memasuki hari kedua, peserta
diajak langsung ke lapangan untuk mempraktikkan pengukuran kualitas air.
Meskipun secara fisik dan mental masih dalam masa pemulihan pascabencana,
antusiasme peserta sangat tinggi. Diskusi berjalan hidup, pengalaman lapangan saling
dibagikan, dan muncul keinginan yang kuat dari para anggota untuk segera
menerapkan ilmu yang mereka peroleh. Bagi KTH Bina Pesisir Cinta Damai,
pelatihan ini menjadi lebih dari sekadar transfer pengetahuan; ini adalah
suntikan motivasi untuk menghidupkan kembali usaha yang sempat mati suri.
Gotong Royong: Wujud
Ketangguhan Masyarakat Pesisir
Ilmu yang didapat tidak dibiarkan
berhenti di atas kertas. Secara bertahap dan penuh solidaritas, anggota
kelompok mulai melakukan aksi nyata. Mereka bergotong royong memperbaiki
tanggul tambak yang jebol dan membangun kembali pondok jaga yang rusak.
Aksi kolektif ini membuktikan
satu hal penting: ketangguhan masyarakat pesisir dalam menghadapi bencana
sangatlah nyata. Lebih jauh lagi, hal ini menunjukkan bahwa peningkatan
kapasitas masyarakat (melalui pelatihan) adalah elemen vital yang tidak terpisahkan
dari proses pemulihan ekonomi berbasis sumber daya alam.
Pelajaran Berharga: Mangrove
adalah Kunci Keberlanjutan
Pengalaman pahit dari bencana
banjir ini memberikan pelajaran berharga bagi KTH Bina Pesisir Cinta Damai,
bahwa keberlanjutan usaha tambak silvofishery sangat bergantung pada
kesehatan ekosistem mangrove di sekitarnya.
Mangrove bukan sekadar pohon di
tepi pantai; ia berfungsi sebagai pelindung alami kawasan pesisir. Akar
mangrove membantu mereduksi energi gelombang, menahan abrasi, menjaga
kestabilan garis pantai, serta menyediakan habitat alami bagi berbagai biota
perairan, termasuk kepiting. Oleh karena itu, rehabilitasi dan pengelolaan
mangrove yang baik disadari sebagai langkah mutlak untuk meningkatkan ketahanan
masyarakat pesisir terhadap risiko bencana di masa depan, sekaligus menjamin
keberlanjutan mata pencaharian mereka.
Kolaborasi untuk Masa Depan
yang Lebih Tangguh
Melalui Sekolah Lapang
Livelihood, M4CR PPIU Sumatera Utara telah berhasil melakukan lebih dari
sekadar pelatihan teknis. Program ini telah menumbuhkan optimisme baru dan
membuktikan bahwa setiap tantangan berat dapat dihadapi melalui kolaborasi,
pembelajaran berkelanjutan, dan semangat kebersamaan.
Kisah KTH Bina Pesisir Cinta
Damai di Pangkalan Batu menjadi inspirasi nyata bahwa di balik setiap bencana,
selalu terdapat peluang untuk membangun kembali. Bukan hanya membangun tanggul
atau pondok jaga, tetapi membangun sistem penghidupan yang jauh lebih tangguh,
produktif, dan selaras dengan upaya pelestarian ekosistem mangrove.
Artikel ini disusun sebagai
bentuk dokumentasi dan apresiasi terhadap upaya pemulihan ekonomi dan ekologi
masyarakat pesisir pascabencana.








