MEDAN, 29 Juli 2026 –
Proyek Mangroves For Coastal Resilience (M4CR) melalui Provincial Project
Implementation Unit wilayah Sumatera Utara resmi menggelar kegiatan Serah
Terima Hasil Pekerjaan Swakelola Tipe IV Pengadaan Bantuan Matching Grants
Window 1 Batch 1. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Mercure Maha
Cipta Angkasa, Medan, ini menandai komitmen pemerintah dalam mendukung
keberlanjutan usaha masyarakat pesisir sekaligus rehabilitasi ekosistem
mangrove.
Acara ini dihadiri oleh Kepala
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular, Kepala Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumatera Utara, Pejabat Pembuat
Komitmen (PPK) IV, serta perwakilan dari 5 kelompok masyarakat penerima hibah
dari Kabupaten Langkat dan Serdang Bedagai.
Dalam kata pengantarnya, Manajer
PPIU M4CR Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, menegaskan bahwa program M4CR
tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga pada pemberdayaan
ekonomi masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BPDAS Wampu Sei Ular, Sigit Budi Nugroho, menjelaskan bahwa program M4CR yang didukung oleh World Bank ini mengacu pada 4 kategori Sustainable Development Goals (SDGs). "Program ini harus mengarah pada peningkatan pendapatan masyarakat, pengurangan kemiskinan, pro-gender dengan meningkatkan peran wanita di lingkungan mangrove, serta yang tak kalah penting adalah peningkatan kondisi ekologis," jelas Sigit.
Fokus utama kegiatan ini adalah
pemaparan dan serah terima hasil pekerjaan dari 5 kelompok masyarakat yang
telah berhasil merealisasikan dana hibah usaha produktif (Matching Grants)
untuk komoditas perikanan dan mangrove. Berikut adalah profil dan perkembangan
kelima kelompok tersebut:
- Kelompok Tani Mangrove Tunas Muda (Desa Pekan
Bandar Khalipah, Sergai) Kelompok ini mengembangkan usaha budidaya
Keramba Kepiting Soka. Melalui dana hibah, mereka telah berhasil
melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mendukung kelancaran
kegiatan budidaya kepiting soka di wilayah pesisir.
- Kelompok Tani Bakau Bangkit (Desa Pangkalan
Siata, Langkat) Juga bergerak di bidang budidaya Kepiting Soka,
kelompok ini telah berhasil melakukan panen sebanyak 4 kali dengan siklus
20 hari per panen. Namun, dalam 2 panen terakhir, mereka menghadapi
kendala kematian kepiting akibat serangan virus. Kelompok ini secara
khusus memohon pendampingan teknis dari tim Livelihood PPIU untuk
mengidentifikasi dan mengatasi penyakit tersebut.
- Kelompok Tani Hutan (KTH) Bakau Indah (Desa
Pangkalan Siata, Langkat) Mengelola komoditas Keramba Apung Ikan Kakap
Putih, kelompok ini telah merealisasikan belanja sarana dan prasarana
budidaya. Kendati demikian, mereka menghadapi tantangan keamanan lokasi
akibat pergeseran tempat budidaya. Mereka juga berharap pemerintah dapat
membantu membuka akses pemasaran langsung ke gudang pemasaran untuk
memotong rantai distribusi tengkulak.
- Kelompok Tani Bakau Bahari (Desa Pangkalan
Siata, Langkat) Kelompok ini fokus pada kegiatan pembesaran Kepiting
Bakau Tambak. Untuk meningkatkan kapasitas dan hasil budidaya, mereka
berharap adanya program penyuluhan dari dinas terkait guna memberikan
pelatihan teknis seputar pembesaran kepiting bakau.
- Kelompok Tani Bakau Rindang (Desa Pangkalan
Siata, Langkat) Kelompok ini menjadi bukti nyata peralihan paradigma
masyarakat pesisir. "Kami tidak boleh menebang pohon mangrove lagi,
tapi kini kami diberi hibah untuk berusaha pembesaran kepiting," ujar
Ketua Kelompok. Dana hibah telah dimanfaatkan sepenuhnya untuk mendukung
kebutuhan pekerjaan pembesaran kepiting bakau yang ramah lingkungan.
Menutup rangkaian sambutan sebelum membuka acara secara resmi, Kepala DLHK Provinsi Sumatera Utara, Heri W. Marpaung, memberikan peringatan keras agar dana hibah digunakan semata-mata untuk pengembangan usaha. "Saya meminta peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk sama-sama menjaga agar hibah ini tidak disalahgunakan, misalnya untuk judi online dan lain-lain yang tentunya merugikan. Saya yakin Bapak/Ibu dapat menjaga amanah ini sampai ke anak cucu," tegas Heri.
Sementara itu, PPK IV Wilayah
Sumatera Utara, Parihutan Sagala, menambahkan catatan penting mengenai
keberlanjutan. "Kelompok yang sudah panen harus bersyukur dan disiplin
secara keuangan. Keuntungan dari panen harus ada yang disisihkan untuk pembelian
bibit selanjutnya agar usaha ini berkelanjutan," pesan Parihutan.
Kegiatan Serah Terima Hasil
Pekerjaan ini ditutup dengan penandatanganan dokumen administrasi dan foto
bersama, menandai babak baru bagi masyarakat pesisir Sumatera Utara dalam
mengelola potensi ekonomi biru secara lestari.








