Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat Hadirkan Inovasi Penanaman Teknik Guludan serta Pemantauan Berbasis Kecerdasan Buatan (AI)
MEDAN, 7 Juli 2026 – Pemerintah
melalui PPK IV wilayah Sumatera Utara secara resmi menerima hasil pekerjaan
pembuatan tanaman mangrove tahap Penanaman (P0) dari kelompok masyarakat.
Kegiatan serah terima ini merupakan bagian dari program Mangroves For Coastal
Resilience (M4CR) dan berlangsung di Grand Mercure International Hotel, Medan
hari ini.
Program ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah dan masyarakat melalui skema Swakelola Tipe IV. Total area penanaman mangrove yang diserahterimakan mencapai 55 hektare, yang terdiri dari 21 hektare dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Tanjung Harapan dan 34 hektare oleh KTH Tunas Harapan.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular, Sigit Budi Nugroho, S.Si., M.Si., yang membuka acara tersebut, menyoroti inovasi teknologi yang digunakan dalam proyek ini.
"Dengan adanya teknologi
Artificial Intelligence (AI) saat ini, kita dapat memantau perkembangan hutan
mangrove secara lebih akurat. Foto-foto yang telah di-geotagging (dicatat
koordinat lokasinya) dapat diinput ke dalam sistem AI untuk mengetahui outcome atau
hasil dari 55 hektare penanaman kita. Hasil analisis ini nantinya akan dapat dipublikasikan kepada masyarakat luas sebagai bentuk transparansi dan bahan
informasi," ujar Sigit Budi Nugroho.
Senada dengan hal tersebut,
Manajer PPIU Sumut, Aditya Wahyu Putra, menambahkan bahwa geotagging pada
setiap batang tanaman sangat penting untuk keperluan administrasi dan
pemantauan. Ia juga mengapresiasi pola tanam guludan (timbulan tanah) yang
diterapkan di lokasi sebagai pembelajaran baru yang efektif.
Asisten RM PPIU Sumatera Utara,
Sigit Prasetyo, S.Hut., menjelaskan alasan teknis di balik penerapan teknik
guludan. "Area penanaman di lokasi memiliki kedalaman tertentu. Jika bibit
langsung ditanam tanpa guludan, bibit akan tenggelam dan mati. Teknik guludan
di KTH Tunas Tanjung Harapan ini merupakan saran langsung dari pihak BBKSDA dan
terbukti berhasil menyelamatkan bibit," jelasnya.
Dalam tahap selanjutnya, yaitu
Pemeliharaan 1 (P1), Sigit Prasetyo mengingatkan bahwa kelompok masyarakat
harus memastikan setidaknya 55% dari total bibit yang ditanam telah tumbuh
dengan baik di lokasi.
Sementara itu, PPK IV Wilayah
Sumatera Utara, Parihutan Sagala, menekankan pentingnya komitmen perawatan
jangka panjang. "Jika ada tanaman yang rusak atau mati, agar segera
diganti dan disisip. Tanaman yang sudah ditanam oleh bapak-bapak harus terus dicek
dan dipelihara dengan baik untuk kehidupan yang akan datang," pesannya.
Kepala Resor Karang Gading
Langkat Timur Laut I BBKSDA Sumatera Utara, Ersa Barus, S.Hut., menyampaikan
apresiasinya atas dedikasi masyarakat. "Proses penanaman proyek ini sudah
berjalan panjang, kurang lebih 3 tahun. Pada tahun 2024, dua kelompok ini telah
bekerja sama dengan 18 kelompok lainnya. Saya berharap ke depannya kita dapat
terus berbagi ilmu untuk hasil penanaman yang lebih baik," tutupnya.
Acara serah terima ditandai dengan penandatanganan dokumen oleh Parihutan Sagala selaku PPK IV Wilayah Sumatera Utara, bersama Sabran (Ketua KTH Tunas Tanjung Harapan) dan M. Asrik (Ketua KTH Tunas Harapan). Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan menjadi bukti suksesnya kolaborasi antara pemerintah, BBKSDA, BPDAS, dan masyarakat dalam upaya ketahanan pesisir melalui rehabilitasi mangrove.








