Pematangsiantar, 12 Agustus 2026 – Sebanyak tujuh Kelompok Tani
Hutan (KTH) di Provinsi Sumatera Utara secara resmi menyerahkan hasil pekerjaan
Swakelola Tipe IV Pembuatan Tanaman Mangrove (P0) dan Pengadaan Bantuan
Pemerintah dalam Bentuk Uang Kegiatan Hibah Usaha Produktif (Matching Grants)
Window 1 Batch 1 Proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) kepada
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) IV. Serah terima berlangsung di Manna Hotel,
Pematangsiantar, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Undangan Rapat Nomor
UN.290/RM/M4CR/DAS.05.03/B/08/2026 tertanggal 6 Agustus 2026 yang diterbitkan
oleh Direktorat Rehabilitasi Mangrove, Kementerian Kehutanan Republik
Indonesia.
133 Hektare Mangrove Berhasil Ditanam di Labuhanbatu
Dalam sesi pemaparan hasil penanaman mangrove, Asisten Rehabilitasi
Mangrove, Sigit Prasetyo, menyampaikan bahwa lima kelompok masyarakat di
Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, telah menyelesaikan 100 persen
penanaman mangrove seluas total 133 hektare dengan pola pengkayaan 3.000 batang
per hektare menggunakan metode blok.
Kelima kelompok tersebut meliputi KTH Abadi (24 ha), KTH Mulia (23 ha),
KTH Sempurna Hijau (41 ha), KTH Cinta Lestari (23 ha), dan KTH Sejahtera (22
ha), dengan total bibit Rhizophora sp. yang ditanam mencapai 399.000
batang.
"Kelima pokmas dari Kecamatan Panai Hilir ini sebelumnya
mengajukan addendum waktu pekerjaan. Setelah itu, dilakukan verifikasi ulang
untuk memastikan hasil 100 persen penanaman, dan hasilnya inilah yang kita
buatkan berita acara serah terima penanaman P0 hari ini," ujar Sigit
Prasetyo.
Hibah Usaha Produktif Dorong Ekonomi Pesisir
Pada sesi penyampaian hasil Matching Grants, Control Facilitator
Supervisor Icshan Sigalingging memaparkan capaian dua kelompok penerima hibah,
yakni KTH Bakau Lestari di Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu,
Kabupaten Langkat, dengan komoditas usaha terasi, serta KTH Banjar Mangrove di
Desa Paluh Kurau, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, dengan
komoditas tambak silvofishery.
Ketua KTH Banjar Mangrove, Hermansyah, mengungkapkan bahwa bantuan
hibah telah memungkinkan kelompoknya memiliki sarana dan prasarana yang
diperlukan untuk mendukung usaha tambak silvofishery dengan komoditas
bibit kepiting seka, udang, dan bandeng.
Sementara itu, Dedek Darmadi dari KTH Bakau Lestari menuturkan bahwa
keterbatasan bahan baku udang kecepe sempat menjadi hambatan di awal usaha.
"Namun dengan berusaha mencari ke luar desa kami, akhirnya kami
mendapatkan bahan baku yang diharapkan untuk usaha komoditas terasi kami,"
katanya.
Mangrove sebagai Benteng Alami dan Cadangan Karbon
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular,
Taufik Siregar, dalam sambutannya menegaskan bahwa mangrove merupakan benteng
alami dari abrasi, perubahan iklim, sekaligus cadangan karbon.
"Atas kerja keras teman-teman kelompok yang saat ini sudah
mencapai 100 persen penanaman, memang harus ada sense of belonging di
diri kita. Dengan adanya bantuan hibah juga akan menambah perekonomian
masyarakat untuk tidak merusak mangrove lagi. Pekerjaan kita masih panjang,
masih ada tahapan P1 dan P2. Mangrove ini menjadi tanggung jawab kita bersama
dan bukan hanya sesaat saja," tegas Taufik.
Senada dengan itu, Kepala BPDAS Wampu Sei Ular, Sigit Budi Nugroho,
menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam rehabilitasi mangrove.
"Pemanfaat teknologi menjadi tolak ukur. Teman-teman di PPIU saat ini
sudah mengadakan Geotagging dan AI. Industri sudah berjalan. Perlu
diadakan ke depannya pelatihan AI dengan teman-teman PPIU untuk nantinya
digunakan dalam merehabilitasi mangrove," ujarnya.
Sinergi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan
Kepala Bidang Pengelolaan Pesisir, Kelautan, Rehabilitasi Hutan dan
Lingkungan Hidup (PPKLRHL) Dinas LHK Provinsi Sumatera Utara, Asep Perry
Muhammad Athoriez, S.P., yang mewakili Kepala Dinas LHK Provinsi Sumatera
Utara, secara resmi membuka acara tersebut.
"Kita harus dapat manfaat dari ekologis, juga ada usaha yang akan
diberikan kepada bapak-bapak kelompok semua. Mangrove berhasil bukan hanya
untuk kita, tetapi untuk dunia. Nelayan pasti tahu betapa pentingnya mangrove
ini untuk kita dapat mencari makan di sana. Kalau mangrove kita habis,
bagaimana kita harus mencari makan," kata Asep Perry.
PPK IV Wilayah Sumatera Utara, Parihutan Sagala, menambahkan bahwa
program Matching Grants diharapkan dapat menyebar ke kelompok lainnya.
"Kita menjaga mangrove, tentunya bahan seperti udang kecepe akan banyak
untuk bahan baku terasi," ujarnya di sela-sela pemaparan.
Berjalan Lancar dan Tertib
Acara yang dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kehutanan, Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara, PIU dan PPIU M4CR, pemerintah desa, serta seluruh
kelompok masyarakat ini berlangsung lancar dan tertib dari pukul 09.30 hingga
18.00 WIB, ditutup dengan penandatanganan berita acara serah terima dan
penyelesaian administrasi.
Proyek M4CR (Mangroves for Coastal Resilience) merupakan program
rehabilitasi mangrove nasional yang bertujuan memperkuat ketahanan pesisir
Indonesia melalui pendekatan berbasis masyarakat, integrasi ekologi dan
ekonomi, serta pemanfaatan teknologi terkini.









