Di balik gemuruh ombak dan warna-warni terumbu karang yang populer, terdapat pahlawan sunyi yang sering terlupakan di dasar laut dangkal: Lamun (Seagrass). Hari ini, dunia merayakan Hari Lamun Sedunia (World Seagrass Day), sebuah momentum yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya ekosistem pesisir ini bagi keberlangsungan bumi.
Melalui resolusi yang disahkan
oleh Majelis Umum PBB, hari peringatan ini menjadi momentum strategis untuk
menyoroti salah satu ekosistem laut yang paling produktif, namun sering kali
terlupakan.
Bukan Sekadar Rumput Laut
Sering kali terjadi
kesalahpahaman di masyarakat mengenai perbedaan antara lamun (seagrass) dan
rumput laut (seaweed). Secara biologis, keduanya sangat berbeda. Rumput laut
adalah jenis alga, sedangkan lamun adalah tumbuhan berbunga sejati yang hidup
di laut.
Lamun memiliki akar, batang, dan
daun seperti tumbuhan di darat. Mereka tumbuh membentuk hamparan luas di dasar
laut dangkal yang terkena sinar matahari, dikenal sebagai padang lamun. Karena
kemampuannya berfotosintesis di dalam air, lamun menghasilkan oksigen dan
menjadi fondasi penting bagi kehidupan laut. Mereka bukan sekadar penghias
dasar laut; mereka adalah fondasi kehidupan bagi manusia dan ribuan spesies
laut lainnya.
Mengapa Lamun Begitu Vital?
Banyak orang belum menyadari bahwa lamun memiliki kemampuan luar biasa yang melampaui ukurannya yang kecil. Berikut adalah alasan mengapa ekosistem ini disebut sebagai penyangga kehidupan pesisir:
- Pejuang Perubahan Iklim: Lamun adalah penyerap karbon yang sangat efisien. Meski hanya menempati kurang dari 0,2% dasar laut dunia, mereka mampu menyimpan hingga 10% dari total karbon yang terkubur di lautan setiap tahunnya. Kemampuan ini dikenal sebagai Blue Carbon (Karbon Biru).
- Benteng Alami Pesisir: Akar lamun yang kuat mengikat sedimen di dasar laut, membantu menjernihkan air dan mencegah erosi pantai dari hantaman arus kuat.
- Pabrik Oksigen dan Makanan: Satu meter persegi lamun dapat menghasilkan hingga 10 liter oksigen per hari. Selain itu, ekosistem ini adalah tempat pembibitan (nursery ground) bagi ikan konsumsi, udang, dan habitat utama bagi satwa langka seperti dugong dan penyu hijau.
Ancaman di Balik Kejernihan
Air
Sayangnya, Laporan Program
Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menunjukkan bahwa kita kehilangan
sekitar 7% ekosistem lamun secara global setiap tahunnya. Sejak akhir abad
ke-19, diperkirakan hampir sepertiga dari luas lamun di seluruh dunia telah
lenyap.
Beberapa faktor utama penyebab kerusakan ini meliputi:
- Pencemaran Pesisir: Aliran limbah pertanian dan domestik yang memicu pertumbuhan alga berlebih, menghalangi cahaya matahari bagi lamun.
- Aktivitas Fisik: Penambangan pasir, pengerukan jalur kapal, dan penggunaan alat tangkap ikan yang merusak dasar laut.
- Kenaikan Suhu Laut: Perubahan iklim yang ekstrem mengganggu siklus hidup tumbuhan sensitif ini.
Indonesia dan Langkah
Strategis Pemetaan
Sebagai negara dengan
keanekaragaman jenis lamun tertinggi di dunia, Indonesia memiliki tanggung
jawab besar. Padang lamun di Tanah Air tersebar dari ujung Aceh hingga Papua,
menjadi sumber penghidupan bagi jutaan nelayan tradisional. Untuk melindungi aset
vital ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) meluncurkan Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025.
Direktur Jenderal Pengelolaan
Kelautan KKP, Koswara, menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi fondasi
penting dalam penguatan tata kelola laut Indonesia. Inisiatif ini merupakan
hasil kolaborasi erat antara KKP dengan sejumlah stakeholder yang tergabung
dalam Indonesian Seagrass Mapping Partnership (ISMP), termasuk Universitas
Gadjah Mada (UGM), BRIN, Badan Informasi Geospasial (BIG), Universitas
Hasanuddin, hingga The University of Queensland, Australia.
Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono
dari UGM mengungkapkan data terbaru dari pemetaan nasional 2025. Indonesia
memiliki total sekitar 2.3 juta hektare terumbu karang, dan dari total
tersebut, 660 ribu hektare merupakan padang lamun. Wilayah timur Indonesia tercatat
memiliki sebaran karang dan padang lamun yang lebih luas dibanding wilayah
barat, memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut
tropis dunia.
Yang membedakan peta 2025 dengan
dokumen sebelumnya (2013) adalah peningkatan resolusi pemetaan dari skala
1:250.000 menjadi 1:50.000. Sumber data citra satelit yang lebih baik didukung
oleh pengecekan lapangan yang luas, di mana ratusan ribu data primer
dikumpulkan sejak 2022 untuk memastikan ketepatan interpretasi.
Harapan Indonesia di Balik
Peta Nasional
Peluncuran peta ini bukan hanya soal data, melainkan tentang harapan besar bagi masa depan kelautan Indonesia. Pemerintah menaruh ekspektasi tinggi pada pemanfaatan data ini untuk berbagai sektor strategis.
- Dasar Ekonomi Biru Berbasis Ilmu Pengetahuan à Koswara menegaskan bahwa pemutakhiran peta ini menegaskan komitmen pemerintah dalam membangun ekonomi biru berbasis ilmu pengetahuan. "Data ini akan meningkatkan efektivitas perlindungan ekosistem dan pengelolaan pesisir yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," ujarnya. Karang dan padang lamun bukan hanya aset ekologis, tetapi juga fondasi ekonomi yang mampu menggerakkan perekonomian hingga ratusan miliar per hektare per tahun, terutama melalui sektor pariwisata dan perikanan.
- Mitigasi Perubahan Iklim à Direktur Konservasi Ekosistem KKP, Firdaus Agung, menyampaikan bahwa data sebaran ekosistem ini akan menjadi dasar ilmiah dalam menyusun target penurunan emisi karbon nasional. "Informasi ini juga menjadi dasar ilmiah dalam menyusun target penurunan emisi karbon nasional, sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam agenda iklim global," tambahnya. Dengan mengetahui lokasi pasti padang lamun, Indonesia dapat menghitung potensi penyerapan karbon lebih akurat.
- Perencanaan Wilayah dan Konservasi à Peta ini akan digunakan sebagai acuan untuk penetapan kawasan konservasi, pengelolaan perikanan berbasis ekosistem, dan pengembangan wisata bahari yang ramah lingkungan. Harapannya, konflik ruang di wilayah pesisir dapat diminimalisir karena adanya data yang akurat mengenai lokasi habitat sensitif.
- Ketahanan Pangan dan Sosial à Muhammad Ilman, Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), mendukung penuh upaya ini sebagai langkah strategis untuk memastikan perlindungan ekosistem pesisir yang vital bagi ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati. Melindungi lamun berarti melindungi masa depan nelayan, karena tanpa lamun, populasi ikan akan merosot tajam dan garis pantai semakin rentan terhadap abrasi.
Ajakan untuk Bertindak
Penetapan Hari Lamun Sedunia
bukan sekadar seremoni tahunan. PBB mengajak berbagai pihak, mulai dari
pemerintah, sektor swasta, hingga individu, untuk berpartisipasi dalam
pelestarian lamun.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:
- Mengurangi sampah plastik yang berpotensi mencemari laut dan menutupi daun lamun.
- Berwisata bahari secara bertanggung jawab, yaitu tidak menginjak atau merusak padang lamun saat berenang atau menyelam.
- Mendukung produk perikanan berkelanjutan yang tidak merusak habitat dasar laut.
- Menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya lamun kepada lingkungan sekitar.
Melalui Hari Lamun Sedunia setiap
1 Maret, dunia diingatkan bahwa kesehatan laut berkaitan langsung dengan
kesehatan manusia. Menjaga padang lamun adalah investasi untuk iklim yang lebih
stabil dan laut yang lebih kaya di masa depan. Keajaiban bawah laut tidak
selalu berupa terumbu karang yang megah. Terkadang, ia berupa hamparan hijau
sederhana yang bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan iklim dunia.


.png)





