Divisi Komunikasi

RRI dan M4CR-PPIU Sumut Perkuat Kolaborasi: Mangrove sebagai Kunci Menjaga Pesisir dan Menyejahterakan Masyarakat

 

MEDAN, 28 Agustus 2026 – Radio Republik Indonesia (RRI) Medan bekerja sama dengan M4CR-PPIU Sumatera Utara menggelar program unggulan Dialog Medan Siang Ini dengan tema "Mangrove untuk Masa Depan: Menjaga Pesisir, Menyejahterakan Masyarakat". Acara yang berlangsung di Kantor PPIU M4CR Sumut ini membahas pentingnya integrasi antara konservasi ekologi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

Dipandu oleh Presenter RRI I Medan, Salsabila Rania, dialog ini menghadirkan tiga narasumber ahli dan praktisi lapangan, yakni Manajer M4CR PPIU Sumatera Utara Aditya Wahyu Putra, S.Hut., Ketua Kelompok Tani (KT) Penghijauan Maju Bersama, Pasarawa, Langkat, Kasto Wahyudi, serta Akademisi Fakultas Kehutanan USU yang juga Tim Komite Investasi M4CR, Dr. Oding Affandi, S.Hut., M.P.

Dalam paparannya, Dr. Oding Affandi menegaskan bahwa paradigma pengelolaan sumber daya alam harus diubah. "Aspek ekologi dan ekonomi di dalam pengelolaan mangrove tidak bisa lagi dipisahkan. Mangrove harus hidup secara lingkungan, tetapi masyarakatnya juga harus hidup. Jika kita hanya fokus menanam tanpa memikirkan perut warga, konservasi tidak akan berkelanjutan," ujar Dr. Oding.

Senada dengan hal tersebut, Aditya Wahyu Putra memaparkan bahwa M4CR menjawab tantangan ini melalui empat pilar utama: rehabilitasi mangrove, penguatan kebijakan, pengembangan mata pencaharian, dan manajemen yang efektif. Sebagai contoh nyata, Aditya menyoroti keberhasilan Kelompok Tunas Muda di Desa Pekan Bandar Kalipah, Deli Serdang. "Dari area yang sebelumnya rusak dan beralih fungsi menjadi perkebunan, kita bantu rehabilitasi mangrove. Kini, masyarakat tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga mengembangkan usaha kepiting soka dan sangat antusias diterima warga," jelas Aditya.

Dari Perambah Hutan Menjadi Penjaga Pesisir

Realita perubahan pola pikir masyarakat di lapangan disampaikan secara inspiratif oleh Kasto Wahyudi. Berawal dari kerusakan hutan di Pasarawa, Langkat, pada tahun 2011, Kasto dan kelompok swadaya mulai menanam mangrove secara mandiri.

"Awalnya masyarakat hanya tahu menebang mangrove untuk arang. Hambatan terbesar kami adalah kepercayaan. Namun, ketika hutan mulai membesar, biota laut kembali, dan sisi ekonomis terasa, masyarakat berubah menjadi penjaga," ungkap Kasto.

Kasto bahkan menerapkan aturan adat yang tegas namun mendidik: masyarakat yang melapor adanya perusak hutan akan diberi reward, sementara perusak yang tertangkap dihukum dengan cara mencari, membibitkan, dan menanam 1.000 batang propagul mangrove. "Mangrove ini ibarat supermarket terbesar dan gratis. Kita bisa memanen biota lautnya, maka wajib kita jaga untuk anak cucu kita," tambah Kasto. Selain itu, masyarakat juga diberdayakan melalui kelompok KUPS Maju Bersama Kuliner yang mengolah ikan-ikan kecil hasil tangkapan menjadi keripik yang bernilai ekonomi tinggi.

Peran Investasi Sosial dan Generasi Z

Dalam sesi interaksi, isu pendanaan dan peran generasi muda menjadi sorotan. Dr. Oding menjelaskan bahwa dana hibah (marching grants) dari M4CR tidak hanya menilai bagus tidaknya sebuah proposal, melainkan harus layak secara sosial, ekonomi, dan ekologi, serta memiliki legalitas yang jelas.

Menanggapi pertanyaan dari mahasiswa mengenai peran Generasi Z, Dr. Oding dan Aditya mengajak para pemuda untuk memanfaatkan teknologi dan Artificial Intelligence (AI) untuk pengawasan, evaluasi (monev), serta inovasi pertanian dan kehutanan.

Menutup acara, Aditya memberikan Call to Action kepada seluruh pemangku kepentingan. "Pikiran dan hati harus sinkron. Kita tidak bisa bekerja sendiri, kolaborasi dan sinergi antar-stakeholder adalah kunci. Mari langsung bertindak (do it!) untuk pesisir, untuk masa depan," tegasnya.

Salsabila Rania pun menutup dialog dengan pesan yang menggugah: "Mari mulai dari hal sederhana, seperti peduli terhadap lingkungan dan ikut menjaga mangrove. Karena ketika kita menjaga mangrove, kita juga sedang menjaga pantai, kehidupan, dan masa depan kita."

Program dialog ini menjadi bukti nyata komitmen RRI dan M4CR-PPIU Sumut dalam mengedukasi publik serta mendorong aksi nyata pelestarian lingkungan yang beriringan dengan peningkatan taraf hidup masyarakat pesisir di Sumatera Utara.