MEDAN, 31 Agustus 2026 –
Sebagai langkah strategis dalam memperkuat konservasi ekosistem mangrove
sekaligus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat pesisir, Provincial Project
Implementation Unit (PPIU) M4CR Sumatera Utara bersama LPM Equator resmi
menggelar Training of Trainers (TOT) Sekolah Lapang Livelihood Project
M4CR Sumatera Utara (LOT-1). Kegiatan hari pertama ini berlangsung di Le
Polonia Hotel & Convention, Medan, pada Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang dijadwalkan
berlangsung selama tiga hari (31 Agustus – 2 September 2026) ini dibuka secara
langsung oleh Manajer PPIU M4CR Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, S.Hut.
Dalam sambutannya, Aditya menekankan pentingnya peran seorang trainer
atau fasilitator sebagai garda terdepan dalam mendampingi kelompok masyarakat
di tingkat tapak.
Senada dengan hal tersebut, Community
Based Livelihood Coordinator, Muhammad Yusuf, S.Si., M.Si., memaparkan
filosofi pembelajaran orang dewasa yang menjadi landasan TOT. Ia menegaskan
bahwa keberhasilan seorang trainer tidak hanya diukur dari penguasaan
materi, melainkan dari kemampuan menciptakan proses belajar yang kondusif dan
mencerahkan.
"Prinsip utama dari Sekolah
Lapang TOT ini adalah keteladanan. Seorang trainer harus siap tampil di
depan, di tengah, dan di belakang untuk mendampingi kelompok-kelompok
masyarakat. Ukuran keberhasilan seorang trainer adalah ketika komunitas
yang didampinginya berhasil," tegas Muhammad Yusuf.
Rangkaian Materi Komprehensif: Dari Konservasi hingga AI
Pada hari pertama, TOT Sekolah Lapang Livelihood
menyajikan rangkaian materi komprehensif yang mencakup aspek konservasi,
sosial, hingga pengembangan bisnis modern. Para praktisi ahli turun langsung
sebagai narasumber, di antaranya:
- Dr. Yayan Hendrayana, S.Hut., M.Si. (Team
Leader Tim NGO Equator) memaparkan arah pelatihan, kontrak belajar,
serta pendekatan Sustainable Livelihood yang bertumpu pada lima
modal penghidupan (manusia, sosial, alam, fisik, dan finansial).
- Sigit Prasetyo (Asisten Rehabilitasi
Mangrove PPIU M4CR Sumut) memberikan pemahaman mendalam mengenai teori
pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem mangrove.
- Dino Matius Ferdinand (Field School
Livelihood Supervisor) memaparkan pemahaman utuh mengenai Program M4CR
dan Sekolah Lapang Livelihood.
- Muhammad BM (Direktur Yayasan Pesona Tropis
Alam Indonesia / PETAI) memimpin sesi teori dan praktik Gender Equality
and Social Inclusion (GESI) untuk memastikan inklusivitas dan
kesetaraan dalam pemberdayaan masyarakat.
Menariknya, TOT kali ini juga
menyasar pengembangan usaha yang adaptif terhadap teknologi masa depan. Founder
PT. Mowiee Indonesia Utama, Alween Ong, memberikan materi pengembangan usaha
yang berfokus pada branding dan pemanfaatan Artificial Intelligence
(AI).
"Untuk menjadikan usaha yang
baik, kita harus menunjukkannya kepada orang yang tepat. Itulah kenapa menjadi trainer
berarti harus menjadi orang yang tepat bagi kelompoknya," pungkas Alween.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kegiatan TOT ini diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari unsur PPIU M4CR
Sumut, LPM Equator, serta instansi terkait seperti BPDAS Wampu Sei Ular, Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hingga perwakilan Kelompok Tani Hutan (KTH).
Acara hari pertama ditutup dengan sesi refleksi untuk mengevaluasi capaian
pembelajaran.
TOT akan berlanjut pada hari
kedua dan ketiga dengan fokus pada metodologi penilaian potensi ekonomi lokal,
analisis SWOT, Business Model Canvas (BMC), hingga penguatan kelembagaan
kelompok. Diharapkan, para trainer yang telah ditempa dalam kegiatan ini
siap diterjunkan ke lapangan untuk mengawal keberhasilan Program M4CR di
Sumatera Utara.
###
Tentang Project M4CR
Project
M4CR (Mangrove and Coastal Resilience) berfokus pada upaya rehabilitasi,
pengelolaan ekosistem mangrove, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir
secara berkelanjutan. Sekolah Lapang Livelihood merupakan salah satu pendekatan
utama dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat lokal.








