Divisi Komunikasi

TOT Sekolah Lapang Livelihood M4CR PPIU Sumatera Utara Hari Kedua Sinergikan Ekonomi dan konservasi Mangrove

 

MEDAN, 1 September 2026 – Pelaksanaan Training of Trainers (TOT) Sekolah Lapang Livelihood Project M4CR Provinsi Sumatera Utara (LOT-1) memasuki hari kedua pada Selasa (1/9/2026). Bertempat di Le Polonia Hotel & Convention, Medan, kegiatan ini memfokuskan pada penguatan kapasitas para fasilitator dan trainer dalam memetakan potensi ekonomi lokal, merancang strategi bisnis, serta mengintegrasikan perlindungan ekosistem mangrove ke dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan yang dikoordinir oleh LPM Equator dan PPIU M4CR Sumatera Utara ini diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri dari tim PIU/PPIU, fasilitator livelihood, hingga perwakilan instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumut serta PT Mowiee Indonesia Utama.

Pada sesi pagi, Basic Business Training Supervisor PPIU M4CR Sumut, Riri W. Siregar, memandu materi Metodologi Penilaian Potensi Ekonomi Lokal (PRA-Livelihood Assessment). Riri mengajak para peserta untuk membedah permasalahan riil di lapangan, khususnya pada dua kelompok komoditas unggulan, yaitu usaha pembesaran kepiting dan terasi.

"Melalui metode PRA, para trainer dituntut untuk tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi merumuskan solusi tepat guna yang sesuai dengan kearifan dan kondisi lokal masyarakat," ujar Riri dalam sesi diskusi.

Aspek konservasi lingkungan menjadi sorotan utama pada sesi berikutnya. Narasumber dari DLHK Sumut, Jonas Purba, memaparkan materi Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM). Jonas mengungkapkan data krusial bahwa kawasan ekosistem mangrove di Sumatera Utara memiliki luasan existing mencapai 61.187,34 ha (55,72%), dengan potensi rehabilitasi seluas 777,50 ha dan supporting area seluas 47.853,74 ha.

Lebih lanjut, Jonas menjelaskan bahwa berdasarkan Peta Indikatif RPPEM Nasional, pesisir Sumut terbagi ke dalam 7 Kesatuan Lanskap Mangrove (KLM) yang mencakup Pesisir Timur, Pesisir Barat, Kepulauan Nias, hingga wilayah lintas provinsi. "Pendekatan KLM memandang ekosistem mangrove sebagai satu kesatuan utuh berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS). Ini menuntut kolaborasi lintas kabupaten/kota untuk menjaga keterhubungan darat dan laut," tegas Jonas.

Memasuki sesi siang, pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan diangkat oleh Founder PT. Mowiee Indonesia Utama, Alween Ong, melalui materi Pembelajaran Orang Dewasa (Adult Learning) dengan analisis SWOT dan Business Model Canvas (BMC). Alween mengajarkan alur pemetaan dan diagnosis usaha agar kelompok masyarakat mampu membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari bisnis mereka.

"Kontrak program M4CR mungkin akan berakhir suatu saat nanti, namun silaturahmi dan jejaring antar-kelompok harus tetap berjalan dan terus berkembang secara mandiri," pesan Alween menutup sesi teorinya sebelum memasuki diskusi.

Senada dengan pentingnya keberlanjutan, sesi terakhir di hari kedua dipandu oleh Livelihood QC Assistant PPIU M4CR Sumut, Resna Irama Simbolon, yang memfokuskan pada teknik membangun dan merawat jejaring kelompok. Resna menekankan bahwa kekuatan utama masyarakat pesisir terletak pada kolaborasi dan jaringan yang solid antar-kelompok usaha.

TOT Sekolah Lapang Livelihood ini merupakan bagian dari komitmen Project M4CR (Mangrove for Coastal Resilience) dalam meningkatkan ketahanan pesisir melalui sinergi antara konservasi mangrove dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kegiatan akan berlanjut pada hari ketiga, Rabu (2/9/2026), dengan agenda penguatan kelembagaan kelompok serta penyusunan rencana tindak lanjut.

###

Tentang M4CR dan Sekolah Lapang Livelihood 

Project M4CR (Mangrove for Coastal Resilience) adalah program yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pesisir melalui rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan masyarakat. Sekolah Lapang Livelihood merupakan wadah pendampingan intensif bagi kelompok masyarakat pesisir untuk mengembangkan usaha ekonomi produktif yang selaras dengan kelestarian lingkungan.