Divisi Komunikasi

Divisi Komunikasi PPIU Sumatera Utara Bongkar Realita Lapangan di Forum Nasional Co-Creation Strategi Komunikasi M4CR

 

JAKARTA, 8 September 2026 — Di tengah megahnya target rehabilitasi mangrove nasional yang didanai Bank Dunia, sebuah pengakuan jujur dari ujung Sumatera Utara mengguncang ruang diskusi di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta. Reiza Levy Nasution, S.Sos, CLCP, satu-satunya Communication Strategy Assistant (CSA) di PPIU Sumatera Utara dan Proyek M4CR, membongkar realita pahit yang selama ini tersembunyi di balik layar program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR): ia dan satu rekannya adalah seluruh divisi komunikasi yang harus mempublikasikan gerak langkah empat divisi teknis di lapangan: tanpa kamera, tanpa komputer kantor, tanpa anggaran pelatihan, dan tanpa surat tugas yang mudah didapat.

Pengakuan ini mengemuka pada hari kedua kegiatan Co-Creation Strategi Komunikasi Program M4CR: Diseminasi Hasil Scoping Riset dan Penyusunan Strategi Komunikasi, yang diselenggarakan secara hybrid oleh SPEAK Indonesia pada Senin–Selasa, 7–8 September 2026, dengan dukungan World Bank dan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Forum yang dihadiri sekitar 50 peserta luring dari tingkat nasional serta puluhan peserta daring dari empat provinsi program (Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara) ini sejatinya dirancang untuk memvalidasi hasil scoping riset dan merumuskan pesan kunci strategi komunikasi secara partisipatif. Namun, momen paling berkesan justru lahir dari sesi curah pendapat yang dibuka oleh fasilitator SPEAK Indonesia, Desi, yang secara khusus meminta Reiza menyampaikan kondisi nyata di tingkat tapak dan tentunya mewakili Divisi Komunikasi di 4 provinsi proyek M4CR.

"Kami Disuruh Menggarap Sawah, Tapi Tidak Punya Cangkul"

Dengan bahasa yang lugas dan penuh emosi yang tertahan, Reiza menggambarkan empat lapis hambatan yang saling membelit dan menciptakan siklus yang nyaris mustahil diputus:

Pertama, kekurangan SDM yang ekstrem. Divisi Komunikasi PPIU Sumatera Utara hanya terdiri dari dua orang: Reiza sebagai CSA dan satu orang Content Writer. Di 3 Provinsi lainnya, hanya Content Writer. Sementara itu, tugas publikasi menumpuk dari seluruh divisi yang bergerak simultan, mulai dari monitoring dan evaluasi (monev), identifikasi lahan, penyusunan SPKS, penandatanganan BAST, Sekolah Lapang hingga berbagai pertemuan dengan pemangku kepentingan. "Ini banyak yang tidak dapat ter-coverage dengan maksimal karena kekurangannya SDM divisi komunikasi tadi," ujar Reiza. Nah, Reiza juga sudah mengajukan ke manajer PPIU untuk membentuk Comunications Support Team yang diambil dari rekan-rekan kerja disetiap divisi untuk dapat membantu kegiatan di Divisinya, sehingga Divisi Komunikasi menjadi tim yang memfilter dari berbagai divisi dan mempublikasikannya.

Kedua, ketiadaan pelatihan profesional. Reiza menceritakan bagaimana ia nekat menyelenggarakan pelatihan bertajuk Strakomline tanpa anggaran sepeser pun, hanya bermodalkan jaringan pertemanan pribadi untuk mengundang praktisi dan akademisi sebagai Narasumber. Strakomline memberikan pelatihan secara daring seperti: Cara Berkomunikasi yang baik dan mempengaruhi Orang lain, Cara Menulis Berita yang Baik, Dasar-dasar Photography, Dasar-dasar Public Speaking, Digital Marketing dan Safeguarding. "Butuhnya pelatihan yang memadai dengan pengajar yang profesional untuk dapat memaksimalkan hasil," tambahnya.

Ketiga, minimnya peralatan penunjang yang memaksa tim bekerja dengan perangkat pribadi. Tidak ada kamera, tidak ada komputer dengan spesifikasi memadai di kantor PPIU Sumut. Laptop dan ponsel berkualitas tinggi yang digunakan untuk pengambilan foto dan video adalah milik pribadi yang dibeli sendiri. Bahkan untuk mencetak satu unit banner saja, Reiza harus "mengemis-ngemis" meminta bantuan ke SPEAK Indonesia. Karena situs web resmi M4CR hingga kini belum terbangun, ia berinisiatif membuat blog gratisan agar berita kegiatan M4CR PPIU Sumatera Utara tetap bisa dibaca masyarakat luas. "Disuruh bekerja menggarap sawah, tapi kita nggak punya cangkul, nggak punya babat. Bagaimana kita harus memaksimalkannya?" ungkap Reiza dengan metafora yang langsung membekukan ruangan.

Keempat, keterbatasan anggaran yang melumpuhkan mobilitas. Perjalanan dinas yang sangat minim memaksa tim komunikasi untuk "mengemis-ngemis" ke divisi lain hanya agar diikutsertakan dan mendapatkan Surat Tugas (ST) ke tingkat tapak. Tanpa kehadiran di lapangan, mustahil menghasilkan liputan yang autentik dan bermakna. Untuk publikasi dibeberapa media news online lokal, sekali lagi Reiza harus mempertaruhkan pertemanannya untuk dapat dimuat berita tentang proyek M4CR di beberapa Media Online lokal dan Nasional, juga talkshow yang dilakukan di beberapa Radio Publik dan Swasta di Medan.

Komunikasi sebagai Support System, Bukan "Tumbal"

Pernyataan Reiza memperkuat narasi dari Fajar Aryanto, Communication Outreach Specialist dari PMO M4CR, yang menegaskan bahwa divisi komunikasi sejatinya adalah support system — tulang punggung yang dibangun untuk menunjang seluruh divisi lain dalam proyek M4CR. "Harusnya tim komunikasi ini dilibatkan dari awal, sehingga begitu terjadi kendala di lapangan, tim divisi komunikasi tidak menjadi tumbal yang berada di depan dari kendala tersebut," tegas Fajar.

Kalimat "tumbal" ini bukan hiperbola. Dalam praktik sehari-hari, tim komunikasi kerap baru dipanggil ketika masalah sudah terjadi — ketika publikasi tertunda, ketika pemberitaan negatif muncul, atau ketika pemangku kepentingan mempertanyakan mengapa kegiatan tidak terdokumentasi. Padahal, Sumatera Utara tercatat sebagai provinsi dengan jumlah aduan terbanyak dalam program M4CR, menjadikannya medan komunikasi yang paling menantang di antara empat provinsi program.

Titik Balik: Manajer PPIU Sumut Ambil Keputusan Tegas

Kabar baik dari forum ini adalah bahwa suara Reiza tidak jatuh ke ruang hampa. Aditya Wahyu Putra, Manajer PPIU Sumatera Utara, yang turut menyimak paparan tersebut, mengakui bahwa berbagai kendala struktural yang dihadapi divisi komunikasi telah menjadi perhatiannya dalam kurun waktu terakhir. Kendala proyek M4CR yang terjadi di Sumatera Utara merupakan laporan aduan paling tertinggi dari Divisi Feedback and Grievance Redress Mechanism (FGRM) PIU. Dan harus melibatkan Divisi Komunikasi untuk bekerja keras mengawal permasalahan yang terjadi. Sebagai respons konkret, Aditya telah mengeluarkan keputusan tegas: setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Divisi Rehabilitasi, Divisi Matching Grants (MG), maupun Divisi Livelihood & Bisnis wajib melibatkan Divisi Komunikasi sejak tahap perencanaan.

Kebijakan ini diharapkan memutus siklus "tumbal" yang selama ini dialami tim komunikasi dan memastikan bahwa setiap kegiatan lapangan terdokumentasi, terpublikasi, dan tersampaikan kepada masyarakat luas secara tepat waktu.

Konteks Sumatera Utara: Bukan Lagi Soal Menanam, Tapi Merawat dan Menjaga

Forum Co-Creation ini juga memaparkan hasil scoping riset SPEAK Indonesia yang mengungkap bahwa tantangan utama rehabilitasi mangrove di Sumatera Utara bukan lagi penanaman, melainkan pemeliharaan, monitoring, dan regenerasi penjaga mangrove lintas generasi. Dari total ±57.000 hektare potensi mangrove di Sumut, sekitar ±10.000 hektare terdegradasi akibat alih fungsi tambak dan sawit, dengan ±7.000 hektare dalam kondisi kritis menurut versi akademisi.

Persepsi masyarakat di lokasi dampingan memang sudah membaik — hasil tangkapan ikan meningkat, ekosistem mulai pulih — namun keberhasilan ini belum bisa digeneralisasi ke skala regional. Ancaman pencurian kayu arang yang dinormalisasi sebagai "kenakalan lokal," ketergantungan pada satu figur kunci sebagai sumber informasi, serta belum jelasnya exit strategy pasca-program menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.

Merespons temuan tersebut, strategi komunikasi M4CR untuk Sumatera Utara ke depan akan bertumpu pada pendekatan yang sangat humanis dan berbasis kearifan lokal, antara lain:

    • Memanfaatkan perwiritan mingguan dan jaringan tokoh agama sebagai saluran pesan utama yang sudah hidup, lintas gender, dan berfrekuensi tinggi;
    • Mengkaderkan 5–10 tokoh komunikasi per desa (tokoh agama, pemuda, ibu-ibu, guru) agar penyebaran pesan tidak lagi bergantung pada satu orang;
    • Membangun kanal informasi resmi berupa akun media sosial terkelola, grup WhatsApp desa, serta papan informasi di balai desa dan dermaga;
    • Menyisipkan pesan mangrove ke forum warga yang sudah ada — pengajian, PKK, posyandu, musyawarah desa — alih-alih membuat forum baru;
    • Mendorong konten bergaya Gen Z dan kolaborasi dengan kampus (BRIN, USU) untuk menarik minat generasi muda.

Pesan inti yang disepakati bersama untuk Sumatera Utara sarat akan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan:

"Mangrove adalah warisan bersama yang harus kita jaga dan manfaatkan secara berkelanjutan untuk hari ini dan generasi yang akan datang."

Tentang Kegiatan Co-Creation

Kegiatan Co-Creation Strategi Komunikasi M4CR ini merupakan bagian dari proses penyusunan strategi komunikasi yang partisipatif, kontekstual, dan berbasis bukti (evidence-based). Dipandu oleh Direktur SPEAK Indonesia Wiwit Herris Mandari, S.Pd, M.Si serta tim fasilitator Noviana Eva dan Deasy Sekar, forum ini menghadirkan narasumber talkshow Giri Suryanta, S.Si, M.Sc, Teguh Priyo Adi Sulistyo, serta perwakilan Task Team World Bank. Kegiatan ini bertujuan menghasilkan draf strategi komunikasi M4CR yang komprehensif, termasuk rumusan pesan kunci yang telah disepakati bersama para pemangku kepentingan dari tingkat nasional hingga tapak.