MEDAN, 4 September 2026 – Pelaksanaan Training of
Trainers (ToT) Sekolah Lapang Livelihood Project M4CR Provinsi
Sumatera Utara (LOT-1) resmi ditutup pada hari Rabu (3/9) di Le Polonia Hotel
& Convention, Medan. Memasuki hari ketiga, fokus pelatihan diarahkan pada
penguatan kelembagaan kelompok serta penyusunan rencana tindak lanjut yang
nyata di lapangan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh LPM Equator bekerja sama
dengan Provincial Project Implementation Unit (PPIU) M4CR Sumut ini
dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pihak PIU, PPIU, dinas
terkait, hingga mitra NGO.
Pada sesi pagi hari ketiga, Chandra FD Silalahi, selaku DMPM
Asisten PPIU Sumut, menyampaikan materi krusial mengenai transformasi
pendampingan kelompok. Chandra menekankan adanya pergeseran paradigma yang
harus dilakukan oleh para fasilitator.
"Selama ini kita mengenal pola lama, di mana kelompok
selalu bergantung kepada fasilitator untuk mendapatkan bantuan. Ke depan, pola
yang kita harapkan adalah kelompok mampu mandiri dan terhubung langsung dengan
Pasar dan Desa. Fasilitator harus berperan sebagai katalisator yang mendorong
kemandirian, bukan sekadar pembagi bantuan," jelas Chandra di hadapan
peserta.
Untuk memastikan pemahaman tersebut, peserta diajak untuk
mempraktikkan langsung Penguatan Kelembagaan Kelompok melalui bedah studi kasus
dan presentasi kelompok yang interaktif.
Menjembatani Teori dan Aksi Nyata
Tidak hanya berfokus pada teori, hari ketiga juga diisi
dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dipandu oleh Team Leader
Tim NGO Equator, Dr. Yayan Hendrayana, S.Hut., M.Si.
Menurut Dr. Yayan, RTL adalah kunci dari keberhasilan
program Sekolah Lapang. "RTL menjadi jembatan vital antara proses belajar
yang telah dilalui—mulai dari observasi, analisis, hingga refleksi—dengan
tindakan nyata yang nantinya akan dijalankan secara mandiri oleh kelompok di
lapangan," ujar Dr. Yayan.
Selain penyusunan RTL, hari ketiga juga diisi dengan materi
Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan (Monev) oleh Tim Equator untuk memastikan
setiap kegiatan di lapangan dapat dipertanggungjawabkan dan terukur dampaknya.
Acara kemudian ditutup dengan post-test, evaluasi penyelenggaraan, dan
refleksi bersama.
Komitmen untuk Sumatera Utara yang Lestari dan Sejahtera
Kegiatan ToT yang berlangsung selama tiga hari (31 Agustus -
3 September 2026) ini merupakan langkah strategis untuk menyamakan visi para
fasilitator. Sebelumnya, peserta juga telah dibekali dengan materi seputar
rehabilitasi ekosistem mangrove, kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI),
pengembangan usaha ekonomi produktif, hingga metode pembelajaran orang dewasa (Adult
Learning).
Yayan juga menambahkan bahwa keberhasilan program M4CR
di Sumatera Utara sangat bergantung pada kualitas para fasilitator di lapangan.
"Melalui ToT ini, kami berharap para fasilitator tidak hanya membawa
pulang ilmu, tetapi juga komitmen untuk mengawal masyarakat, khususnya kelompok
peduli mangrove, agar mampu meningkatkan taraf hidup mereka secara
berkelanjutan tanpa merusak lingkungan," pungkasnya.









