MEDAN, 30 September 2026 – Tim Project Implementation Unit (PIU) dan Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Sumatera Utara bersama NGO Equator sukses menyelenggarakan kegiatan Ekspose Laporan Antara Sekolah Lapang (SL) Livelihood Project Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) LOT-1. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, pada 29-30 September 2026 di Le Polonia Hotel & Convention, Medan, ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi pelaksanaan Batch 1 sekaligus mematangkan rencana pelaksanaan Batch 2.
Kegiatan dibuka oleh Manajer PPIU Sumut, Aditya Wahyu Putra, S.Hut., dan dipimpin langsung oleh Team Leader NGO Equator, Dr. Yayan Hendrayana, S.Hut., M.Si. Acara ini dihadiri oleh unsur PIU M4CR, PPIU Sumut, LPM Equator, serta instansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumut, serta perwakilan dari PT Mowiee Indonesia Utama.
Evaluasi Kritis Batch 1: Pentingnya Psikologi dan Komunikasi Humanis
Evaluasi mendalam terjadi pada hari kedua ketika membahas hasil pre-test
dan post-test dari kegiatan SL Livelihood Batch 1. Terungkap bahwa nilai
post-test peserta justru lebih rendah dibandingkan hasil pre-test.
Hal ini memancing pertanyaan kritis dari para peserta mengenai efektivitas
sekolah lapang jika hasil evaluasi akhirnya justru menurun. Selain itu, banyak
peserta mengeluhkan banyaknya istilah atau kata-kata teknis yang tidak mereka
pahami selama sesi berlangsung.
Menanggapi temuan tersebut, Reiza Levy Nasution, Communication
Strategy Assistant dari Divisi Komunikasi PPIU Sumut, memberikan masukan yang sangat
konstruktif. Ia menyoroti tidak adanya materi pembelajaran dasar-dasar
komunikasi, baik pada saat Training of Trainers (ToT) maupun saat
penerapannya di Sekolah Lapang.
"Pengajaran dengan metode pendagogi ini membutuhkan komunikasi human-to-human.
Psikologi komunikasi sangat penting dalam memberikan ilmu pengetahuan agar
mudah diterima oleh masyarakat," ujar Reiza dalam sesi diskusi.
Ia menekankan bahwa pendekatan penyampaian yang kurang tepat membuat
masyarakat merasa "digurui", bukan diposisikan sebagai mitra belajar
atau partner yang setara dalam sekolah lapang. Masukan dari Divisi
Komunikasi ini menjadi catatan emas agar para fasilitator ke depannya dapat
menyesuaikan bahasa, menghindari istilah yang membingungkan, dan membangun
kedekatan emosional dengan masyarakat pesisir.
Selain aspek komunikasi, Team Leader NGO Equator, Dr. Yayan Hendrayana, juga merangkum bahwa perbaikan koordinasi terkait tahapan birokrasi yang panjang dengan para narasumber, serta upaya mengubah Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang sebelumnya belum aktif menjadi lebih berdaya, akan menjadi fokus utama di Batch selanjutnya.
Matangkan Persiapan Batch 2 dengan Tematik Spesifik
Memasuki sesi persiapan, PPK IV, Parihutan Sagala, menekankan
pentingnya penyusunan draft perencanaan yang matang agar dapat segera
disinkronkan dengan para narasumber.
Untuk Batch 2, Sekolah Lapang akan disesuaikan dengan potensi dan
kebutuhan spesifik di masing-masing desa dengan beberapa tematik utama, antara
lain:
- Perikanan:
Meliputi Desa Pangkalan Siata, Desa Kayu Besar, Desa Pekan Bandar
Khalifah, Desa Paluh Kurau, dan Desa Sei Tuan.
- Peternakan:
Difokuskan di Desa Paluh Kurau.
- Ekowisata:
Difokuskan di Desa Pasar Rawa.
- Olahan Terasi:
Difokuskan di Desa Pangkalan Siata.
Menutup kegiatan, Dr. Yayan Hendrayana menegaskan komitmennya terhadap
perbaikan berkelanjutan. "Pengalaman di Batch 1 ini, termasuk masukan
mengenai pendekatan komunikasi, menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.
Untuk Batch 2 dan 3, kita akan memperbaiki koordinasi dengan narasumber,
mematangkan materi serta alat yang digunakan, dan menyelesaikan konsep sylvofishery
yang masih perlu penyesuaian. Mudah-mudahan apa yang kita rencanakan ini akan
berjalan lebih lancar dan berdampak langsung pada ketahanan ekonomi
masyarakat," pungkasnya.
Kegiatan Ekspose Laporan Antara ini ditutup dengan penyusunan Rencana
Tindak Lanjut (RTL) dan diskusi internal persiapan Batch 2 yang melibatkan PPK
IV, PIU, PPIU, dan LPM Equator, memastikan bahwa program M4CR terus berjalan
efektif, inklusif, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat.








