PANGKALAN SIATA, LANGKAT – Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR)
bawah koordinasi Kementerian Kehutanan yang berkolaborasi dengan SPEAK
Indonesia, baru saja menyelesaikan rangkaian Riset Gender Equality,
Disability, and Social Inclusion (GEDSI) di Desa Pangkalan Siata, Kecamatan
Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Riset yang berlangsung pada 21-23
September 2026 ini menyasar tiga Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan, yakni KT
Bakau Bangkit, KT Bakau Rindang, dan KT Bakau Bahari, serta melibatkan
Sekretaris Desa Pangkalan Siata. Tujuannya adalah untuk menggali dinamika
sosial, kesetaraan gender, dan inklusi kelompok rentan di tingkat tapak guna
menyusun Strategi Komunikasi Rehabilitasi Mangrove yang responsif dan berbasis
bukti.
Dedikasi Menembus Wilayah Pesisir
Perjalanan tim riset yang terdiri dari Reiza Levy Nasution
(Communication Strategy Assistant PPIU) dan Teruna Jaya Tarigan (Stakeholder
Engagement SPEAK Indonesia) menuntut dedikasi tinggi. Untuk mencapai Desa
Pangkalan Siata, tim harus menempuh perjalanan darat dari Medan menuju
Pangkalan Susu, dilanjutkan dengan penyeberangan menggunakan sampan menembus
perairan pesisir.
"Kondisi geografis yang
menantang tidak menyurutkan semangat kami untuk mendengar langsung suara
masyarakat akar rumput. Penyeberangan menggunakan sampan mengingatkan kami
bahwa aksesibilitas adalah isu nyata yang harus dijawab oleh strategi komunikasi
program ke depannya," ujar Reiza Levy Nasution di sela-sela kegiatan.
Temuan Strategis: Akses Terbuka, namun Kontrol dan Suara Perlu Diperkuat
Berdasarkan hasil
wawancara mendalam dengan 7 narasumber (laki-laki, perempuan, dan satu orang
tokoh lansia), riset ini menemukan beberapa poin krusial terkait kerangka
Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat (APKM):
- Akses dan Manfaat Ekonomi yang Merata: Seluruh
narasumber sepakat bahwa akses informasi, pelatihan (Sekolah Lapang), dan
sumber daya berjalan setara. Dari sisi ekonomi, program M4CR terbukti
meningkatkan pendapatan melalui upah rehabilitasi dan melimpahnya hasil
tangkapan kepiting dan udang di area mangrove yang mulai tumbuh.
- Partisipasi Aktif dengan Catatan Budaya: Perempuan
dan lansia sangat terlibat dalam pelaksanaan teknis (seperti penyemaian
dan pengikatan ajir). Namun, dalam forum musyawarah perencanaan, perempuan
dan lansia cenderung pasif dan lebih banyak mengikuti keputusan yang
didominasi oleh laki-laki.
- Mekanisme Pengaduan (FGRM) Berbasis Kearifan
Lokal: Temuan mengejutkan menunjukkan bahwa 100% narasumber belum
mengetahui saluran pengaduan formal M4CR. Masyarakat lebih memilih
menyelesaikan segala bentuk keluhan, perselisihan, hingga isu sensitif
melalui musyawarah internal kelompok dan tokoh desa, serta enggan jika isu
tersebut dikonsumsi oleh publik.
- Regenerasi dan Rekomendasi Program: Meskipun
transfer pengetahuan ekosistem mangrove sudah berjalan ke masyarakat luas,
regenerasi kader muda di dalam kelompok belum terbentuk karena seluruh
anggota masih dianggap produktif.
Salah satu highlight terpenting dari
riset ini adalah aspirasi langsung dari para perempuan di Pangkalan Siata.
Mereka merekomendasikan agar ke depannya M4CR tidak hanya fokus pada
rehabilitasi fisik, tetapi juga menyediakan program khusus pemberdayaan ekonomi
perempuan, seperti Sekolah Lapang Livelihood (penganyaman tikar,
pembuatan sirup pedada, dan olahan makanan).
"Keterlibatan perempuan di
Pangkalan Siata sudah sangat baik secara teknis. Namun, temuan ini menjadi
'lampu hijau' bagi kami untuk merancang strategi komunikasi dan program
pendampingan yang tidak hanya inklusif secara sosial, tetapi juga memberdayakan
secara ekonomi melalui usaha pesisir yang ramah perempuan," pungkas Teruna
Jaya Tarigan, Stakeholder Engagement SPEAK Indonesia sub Sumatera Utara.
Hasil dari riset di Langkat ini,
bersama dengan data dari tiga provinsi lainnya (Riau, Kalimantan Timur, dan
Kalimantan Utara), akan diolah menjadi rekomendasi kebijakan dan Strategi
Komunikasi Nasional M4CR yang lebih inklusif, memastikan tidak ada satu pun
kelompok yang tertinggal dalam upaya memperkuat ketahanan pesisir Indonesia.









