Pada tanggal 20–23 November 2025, M4CR PPIU Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove (SLRM) secara serentak di tiga kabupaten pesisir—Asahan, Langkat, dan LabuhanBatu Utara (Labura). Kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya nasional dalam memulihkan ekosistem mangrove yang terus mengalami tekanan akibat alih fungsi lahan, eksploitasi berlebihan, serta dampak perubahan iklim. Dengan melibatkan 21 kelompok masyarakat (KTH/ Kelompok Tani Hutan) dari 9 desa/kelurahan yang tersebar di 6 kecamatan, SLRM 2025 tidak hanya menjadi wadah edukasi teknis, tetapi juga sebagai sarana penguatan kapasitas lokal dan pengembangan kepemimpinan lingkungan berbasis komunitas.
Latar Belakang dan Urgensi
Rehabilitasi Mangrove
Namun, data menunjukkan bahwa
luasan mangrove di Sumatera Utara mengalami degradasi signifikan dalam dua
dekade terakhir. Hal ini mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga
non-pemerintah, dan masyarakat untuk mengambil langkah konkret melalui
pendekatan partisipatif. SLRM hadir sebagai respons strategis terhadap
tantangan tersebut, dengan fokus pada peningkatan pengetahuan teknis, penguatan
jejaring sosial, dan internalisasi nilai-nilai konservasi di tingkat akar
rumput.
Pelaksanaan SLRM: Pendekatan
Terpadu dan Inklusif
.jpeg)
Total 329 peserta mengikuti
kegiatan ini, terdiri dari 79 perempuan dan 249 laki-laki. Meskipun dominasi
peserta laki-laki masih tinggi, kehadiran perempuan dalam jumlah
signifikan—terutama di kelompok seperti KTH Merdesa (Tanjung Leidong) dan KTH
Lestari Mangrove (Lubuk Kertang)—menandai kemajuan dalam inklusivitas gender.
Perempuan pesisir, yang selama ini kerap menjadi pengumpul hasil hutan dan
pengelola rumah tangga, kini mulai diberdayakan sebagai agen aktif dalam
restorasi ekosistem.
Peran Strategis Kelompok Tani
Hutan (KTH)
Keberhasilan SLRM sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif Kelompok Tani Hutan (KTH). Dari 21 kelompok yang terlibat, beberapa di antaranya telah memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan mangrove, seperti KTH Harapan Abadi (Asahan Mati) dan KTH Cinta Mangrove (Silo Baru). Namun, banyak pula kelompok baru yang dibentuk khusus untuk merespons program ini, menunjukkan semangat kolektif yang tinggi di kalangan masyarakat.
Perwakilan kelompok yang
mengikuti SLRM ini berkisar antara 10–30 orang, dengan struktur organisasi yang
jelas dan pembagian peran yang terkoordinasi. Selama SLRM, mereka tidak hanya
belajar dari fasilitator, tetapi juga saling bertukar pengalaman—misalnya,
bagaimana KTH Gemar Mangrove (Kwala Serapuh) mengatasi gangguan biota pemakan
bibit, atau bagaimana KTH Pintu Air Bersama (Simandulang) mengintegrasikan
rehabilitasi mangrove dengan sistem irigasi pertanian.
Suara dari Lapangan:
Pentingnya Pembelajaran Kolaboratif
Menurut Al Rahmat Putra, Asisten Pelatihan Lingkungan PPIU Sumatera Utara, SLRM memiliki nilai strategis yang jauh melampaui aspek teknis. “Sekolah Lapang ini penting dilakukan untuk kelompok masyarakat dalam rangka menambah pengetahuan dan saling berbagi pengalaman sesama anggota kelompok,” ujarnya. “Dengan demikian, proses penanaman dan perawatan mangrove menjadi lebih efektif, karena didasarkan pada pemahaman bersama dan kearifan lokal.”
Lebih jauh, ia menekankan bahwa
SLRM juga berperan dalam meningkatkan kesadaran ekologis. “Masyarakat bukan
hanya menanam pohon, tetapi memahami bahwa mangrove adalah bagian dari
identitas, budaya, dan masa depan mereka,” tambahnya.
Dampak Jangka Panjang dan
Prospek Keberlanjutan
SLRM 2025 bukanlah akhir,
melainkan awal dari gerakan restorasi berkelanjutan. Dengan terbentuknya
jejaring komunitas peduli mangrove yang tersebar di tiga kabupaten, diharapkan
akan muncul inisiatif lokal yang mandiri—mulai dari pembibitan komunitas, patroli
ekosistem, hingga pengembangan ekowisata berbasis mangrove. Beberapa kelompok
bahkan telah merancang rencana aksi pasca-SLRM, termasuk pemetaan partisipatif
area kritis dan kampanye edukasi di Lingkungan mereka tinggal.
Selain itu, data partisipasi
perempuan yang meningkat membuka peluang untuk integrasi program dengan
pendekatan gender-responsive climate action, yang saat ini menjadi prioritas
nasional dan global. Dengan dukungan kebijakan daerah dan pendampingan berkelanjutan,
potensi transformasi sosial-ekologis di wilayah pesisir Sumatera Utara sangat
besar.
Capaian Strategis dan Dampak
Pelaksanaan
Penyelenggaraan SLRM pada November 2025 ini mencatatkan beberapa capaian signifikan:
|
Indikator Capaian |
Detail Pelaksanaan |
|
Integrasi Data |
Sinergi 21 KTH dalam sistem pemantauan
rehabilitasi terpadu. |
|
Standardisasi Teknis |
Penerapan metode pembibitan dan penanaman
berbasis sains di 9 Desa. |
|
Penguatan Kelembagaan |
Peningkatan kapasitas manajerial kelompok dalam
pemeliharaan pasca-tanam. |
|
Kesadaran Ekologis |
Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai fungsi
mangrove sebagai mitigasi bencana dan penyerap karbon. |
Penutup: Menuju Masa Depan
yang Lebih Hijau dan Tangguh
Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove 2025 di Sumatera Utara menjadi bukti nyata bahwa restorasi ekosistem tidak bisa dilakukan tanpa keterlibatan masyarakat. Melalui pendekatan yang partisipatif, inklusif, dan berbasis ilmu pengetahuan, program ini berhasil menyatukan niat baik, pengetahuan lokal, dan komitmen kolektif demi masa depan pesisir yang lebih hijau, sehat, dan tangguh.
Melalui 21 Kelompok Masyarakat yang telah teredukasi, Sumatera Utara kini memiliki tenaga ahli lokal yang mampu mengelola ekosistem mangrove secara mandiri. Sekolah Lapang ini membuktikan bahwa rehabilitasi lingkungan yang paling efektif dimulai dari pemberdayaan manusia.
Keberhasilan ini hendaknya
menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia, sekaligus pengingat bahwa
mangrove bukan hanya hutan di tepi laut, tetapi fondasi kehidupan yang harus
kita jaga bersama. Dengan semangat gotong royong dan kearifan lokal, Sumatera
Utara menunjukkan bahwa masa depan ekosistem pesisir ada di tangan
masyarakatnya sendiri.
.jpeg)






