Divisi Komunikasi

Menyulap Limbah Menjadi Berkah: Kisah Perempuan Pesisir Beras Basah dan "Emas" yang Tertunda

 

Oleh: Business Coach Team

Di sepanjang pesisir Kelurahan Beras Basah, Kecamatan Pangkalan Susu, laut bukan sekadar hamparan air yang menghasilkan rupiah. Laut adalah denyut nadi kehidupan. Namun, seperti halnya setiap denyut nadi, selalu ada sisa-sisa metabolisme yang tertinggal. Dalam konteks masyarakat pesisir, sisa itu sering kali berupa limbah hasil laut.

Salah satunya adalah kerang bare (atau warga lokal menyebutnya bare). Ada juga yang menyebutnya kerang berekor, kerang tauge, barai atau tebalan.* Hewan laut yang bentuknya unik, menyerupai tauge besar dengan tangkai atau ekor yang panjang, ini memang lezat dagingnya. Namun, ekornya yang bertekstur kenyal dan alot sering kali berakhir di tempat sampah. Jika dibiarkan menumpuk, limbah ekor bare ini tidak hanya memicu bau tak sedap, tetapi juga menjadi ancaman sanitasi dan pencemaran lingkungan pesisir.

Di mata masyarakat pada umumnya, ekor bare adalah masalah. Namun, di mata sepuluh perempuan tangguh di Kelurahan Beras Basah, itu adalah berkah yang tertunda.

Simfoni Kecil dari Dapur Poklahsar

Mereka adalah anggota Poklahsar (Kelompok Pengolah dan Pemasar) Wanita Nelayan Berkarya. Dibentuk pada tahun 2017, kelompok yang beranggotakan 10 orang ibu-ibu nelayan ini awalnya berfokus mengolah hasil laut menjadi camilan, seperti stick seafood dari kepiting dan udang.

Namun, kegelisahan melihat tumpukan limbah ekor bare yang mencemari lingkungan mendorong mereka untuk berpikir melampaui batas dapur konvensional. Pada tahun 2021, mereka mengambil langkah inovatif: tidak membiarkan ekor bare terbuang sia-sia.

Prosesnya sederhana namun sarat akan makna ketangguhan. Di Beras Basah, kerang bare dijual dalam keadaan terpisah antara daging dan ekor. Ekor yang biasanya dibuang, kini dikumpulkan, dicuci bersih, dan dijemur di bawah terik sinar matahari selama 2 hingga 3 hari. Energi alam ini mengeringkan ekor bare hingga siap diolah. Selanjutnya, melalui racikan bumbu dan teknik pengolahan yang tepat, ekor yang tadinya alot dan dibuang, disulap menjadi camilan Ekor Bare Crispy yang renyah, gurih, dan bernilai jual tinggi.

Memahami Circular Economy dari Pesisir Pangkalan Susu

Jika kita meminjam kacamata akademis, apa yang dilakukan oleh Wanita Nelayan Berkarya adalah praktik sempurna dari konsep Ekonomi Sirkular (Circular Economy) dan Ekonomi Biru (Blue Economy).

Dalam paradigma ekonomi linear tradisional, sumber daya diekstraksi, dijadikan produk, dan sisanya dibuang menjadi limbah (take-make-dispose). Namun, para perempuan di Beras Basah ini memutus rantai pembuangan tersebut. Mereka membuktikan bahwa "limbah" hanyalah sumber daya yang berada di tempat yang salah. Dengan mengonversi limbah organik menjadi produk bernilai ekonomis, mereka tidak hanya menciptakan pendapatan baru, tetapi juga secara simultan menyelesaikan masalah ekologis di lingkungan mereka.

Ini adalah bentuk literasi ekologi dan kewirausahaan yang luar biasa. Mereka tidak menunggu pemerintah atau teknologi canggih untuk datang menyelamatkan lingkungan mereka; mereka menyelamatkan lingkungan mereka sendiri dengan modal kreativitas dan keringat.

Menuju Skala yang Lebih Besar: Peran M4CR

Kini, kisah inspiratif ini sedang memasuki babak baru. Poklahsar Wanita Nelayan Berkarya sedang berada dalam tahap pendampingan penyusunan RUKK (Rencana Usaha Kegiatan Kelompok) untuk program Dana Hibah Matching Grants dari M4CR (Mangrove for Coastal Resilience) Sumatera Utara.

Bersama tim Business Coach, mereka tidak hanya diajarkan cara memasak, tetapi bagaimana merajut mimpi ke dalam sebuah peta jalan bisnis yang terukur. Program M4CR ini bertindak sebagai inkubator, sebuah jembatan emas yang diharapkan dapat memperluas skala produksi dan jangkauan pemasaran Ekor Bare Crispy.

Tentu, jalan menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan bukanlah jalan tol. Mereka harus melewati serangkaian tahapan ketat: pelatihan, penyusunan proposal, penilaian, hingga finalisasi kontrak swakelola. Namun, semangat kolaboratif dan ketangguhan (resilience) yang ditunjukkan oleh kelompok ini menunjukkan bahwa mereka siap untuk tumbuh.

Refleksi: Menemukan Nilai pada Hal yang Terabaikan

Kisah dari Kelurahan Beras Basah ini memberikan kita sebuah pelajaran kehidupan yang mendalam, melampaui sekadar urusan perut dan rupiah.

Pertama, inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium berteknologi tinggi. Inovasi sejati lahir dari empati terhadap lingkungan dan keberanian untuk melihat potensi pada hal-hal yang dianggap tidak berharga oleh orang lain.

Kedua, pemberdayaan perempuan adalah kunci ketangguhan pesisir. Ketika perempuan nelayan diberi ruang dan kepercayaan untuk berkreasi, dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga sosial dan ekologis. Mereka adalah penjaga gawang ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di level akar rumput.

Ekor Bare Crispy dari Beras Basah adalah bukti bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk berkarya. Limbah telah berubah menjadi sumber ekonomi baru, dan yang lebih penting, ia telah mengubah cara pandang kita: bahwa tidak ada yang benar-benar sia-sia di alam semesta ini, selama ada tangan-tangan kreatif dan hati yang peduli untuk mengolahnya.


* Nama latin dari ekor bare (atau lebih dikenal sebagai kerang bare / kerang lentera) adalah dari genus Lingula. Spesies yang paling umum ditemukan di perairan Indonesia antara lain Lingula unguis dan Lingula anatina.  Meskipun masyarakat sering menyebutnya sebagai "kerang berekor", hewan purba ini sebenarnya bukan termasuk kelompok kerang sejati (moluska), melainkan masuk ke dalam filum Brachiopoda. Bagian panjang seperti ekor tersebut merupakan tangkai otot (pedicle) yang digunakannya untuk menempel atau membenamkan diri di dalam lumpur pantai. Di berbagai daerah pesisir Indonesia, hewan ini juga populer dengan nama kerang lampu, kerang tauge, atau tebalan.