MEDAN, 20 Oktober 2026 – Dalam upaya mempercepat rehabilitasi dan pengelolaan ekosistem mangrove di Sumatera Utara, Direktorat Rehabilitasi Mangrove melalui Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Sumatera Utara berkolaborasi dengan BBKSDA Wilayah II Sumatera Utara sukses melaksanakan Kegiatan Pengkayaan dan Pendalaman Materi Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove (SLRM) Batch 2. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, pada 15 hingga 19 Oktober 2026, yang menyasar empat kabupaten/kota di pesisir timur Sumatera Utara.
Kegiatan
yang berada di bawah payung proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR)
ini menurunkan dua tim gabungan yang terdiri dari asisten, fasilitator PPIU dan
petugas teknis KSDA Wilayah II untuk mendampingi masyarakat dan kelompok tani
di tingkat tapak.
Tim
1 yang difokuskan untuk wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara (Kelurahan
Tanjung Leidong dan Desa Simandulang, Kec. Kualuh Leidong) dipimpin oleh Environmental
Training Assistant PPIU, Al Rahmat Putra, S.Pd., bersama tim komunikasi dan
fasilitator lapangan. Tim ini didampingi langsung oleh Elvaro Sinaga, Penyuluh
Kehutanan Pemula dari BBKSDA Wilayah II Sumut.
Sementara
itu, Tim 2 yang mencakup wilayah lebih luas yakni Desa Lubuk Kertang
(Kab. Langkat), Kota Tanjung Balai, hingga Desa Sei Sembilang dan Desa Silo
Baru (Kab. Asahan) dipimpin oleh Silvy Aulia Afifah, S.P. Tim ini didampingi
oleh Parlindungan Simbolon, PEH Ahli Pertama dari BBKSDA Wilayah II Sumut.
Fokus
Materi: Dari Protokol Satwa hingga Teknik Geotagging
Kegiatan
Pengkayaan Materi SLRM Batch 2 ini mengusung pendekatan holistik, tidak hanya
berfokus pada penanaman, tetapi juga pada keselamatan ekosistem dan pemantauan
berbasis teknologi. Terdapat tiga materi krusial yang menjadi fokus utama dalam
pelatihan batch ini:
- Protokol Perjumpaan
Satwa Dilindungi: Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai
satwa liar, termasuk spesies yang dilindungi. Materi ini disampaikan
langsung oleh petugas BBKSDA wilayah II Sumut (Parlindungan Simbolon dan
Elvaro Sinaga). Masyarakat dan kelompok tani diedukasi mengenai
langkah-langkah mitigasi, tata cara pelaporan, dan etika berinteraksi jika
menemukan satwa dilindungi (seperti primata, reptil, atau burung liar) di
area tanam maupun di sekitar pemukiman.
- Pelatihan dan Teknik
Geotagging: Untuk memastikan akurasi data pemantauan pertumbuhan
mangrove, tim PPIU memberikan pelatihan penggunaan teknologi geotagging
berbasis smartphone. Hal ini bertujuan agar setiap titik tanam
dapat terpetakan secara digital dan terpantau real-time oleh sistem
M4CR.
- Silvikultur dan
Pengendalian Hama Tanaman: Fasilitator lapangan memberikan pendalaman
materi mengenai teknik penanaman yang adaptif terhadap kondisi tanah
gambut dan pesisir, serta cara mengidentifikasi dan mengendalikan hama
tanaman mangrove secara hayati dan ramah lingkungan.
"Kolaborasi
antara PPIU Sumut dan BBKSDA wilayah II Sumatera Utara dalam Pengkayaan dan pendalaman materi SLRM Batch 2 ini adalah wujud
nyata sinergi lintas sektor. Kita tidak hanya menanam mangrove, tetapi kita
juga membangun kesadaran ekologis masyarakat agar mereka mampu melindungi satwa
liar yang berbagi ruang dengan mereka, sekaligus memantau tanamannya dengan
teknologi," ujar Al Rahmat Putra, S.Pd., Environmental Training
Assistant PPIU Sumatera Utara.
Kegiatan
Pengkayaan Materi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kelompok tani
mangrove di Sumatera Utara, sehingga program rehabilitasi mangrove tidak hanya
berhasil secara kuantitas, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis dan
memberikan ketahanan pesisir (coastal resilience) bagi masyarakat.







