Medan,
7 Oktober 2026 — Hari pertama Pelatihan Strategi Komunikasi dan Penggunaan
Media/Toolkit program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Sub-Nasional
Sumatera Utara resmi digelar di Hotel Cambridge, Medan. Kegiatan yang
diinisiasi oleh SPEAK Indonesia bersama Project Implementation Unit (PIU)
Kementerian Kehutanan ini mempertemukan lebih dari 30 perwakilan pemangku
kepentingan lintas sektor, mulai dari unsur pemerintah daerah, akademisi,
lembaga swadaya masyarakat, hingga kelompok masyarakat pesisir yang selama ini
menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem mangrove.
Membaca
Realitas Mangrove Sumatera Utara dari Data
Sesi pembukaan dipimpin oleh Aditya Wahyu Putra, S.Hut, selaku Manajer PPIU Sumatera Utara. Dalam sambutannya, Aditya menegaskan empat pilar utama yang menjadi fondasi program M4CR, yakni: rehabilitasi dan pengelolaan lanskap mangrove, penguatan sosial dan kelembagaan, pengembangan mata pencaharian dan manajemen efektif. Keempat pilar ini, menurutnya, tidak dapat berjalan secara terpisah, melainkan harus saling menopang dalam satu kerangka komunikasi yang koheren.
Pada
sesi pemaparan hasil Scoping Research, Aditya menyajikan data yang
menggambarkan potret mangrove Sumatera Utara secara komprehensif. Dari total
potensi mangrove seluas kurang lebih 57.000 hektare, sekitar 10.000 hektare di
antaranya mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan menjadi tambak dan
perkebunan kelapa sawit, dengan tingkat kerusakan mencapai 50–60 persen. Versi
akademisi mencatat angka yang lebih besar, yakni sekitar 76.000 hektare total
tutupan mangrove, di mana 870 hektare hilang akibat illegal logging. Di sisi
lain, terdapat kabar baik: sekitar 15.000 hektare kawasan konservasi
menunjukkan tanda-tanda pemulihan berkat upaya rehabilitasi yang telah
berjalan.
"Dari
data ini, kita dapat menyimpulkan bahwa tantangan perluasan mangrove saat ini
bukan semata-mata soal penanaman, melainkan pemeliharaan dan keberlanjutan.
Kita harus menutup kesenjangan koordinasi, mewariskan program dengan memperkuat
peran Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), serta mengurangi ketergantungan
pada figur-figur kunci," tegas Aditya.
Ia
kemudian menggaungkan tagline yang menjadi semangat kolektif pelatihan ini:
"Mangrove Kita Jaga, Manfaat Kita Rasakan, dan Lestari Kita
Wariskan."
Perspektif
Akademisi: Keberlanjutan Pasca-Program
Dari
ruang virtual, Oding Affandi, akademisi dari Fakultas Kehutanan Universitas
Sumatera Utara (USU), memberikan perspektif kritis mengenai masa depan
rehabilitasi mangrove pasca-berakhirnya program M4CR. Menurutnya, pelatihan
komunikasi dan kepemimpinan yang diselenggarakan SPEAK bersama PPIU Sumut
merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa capaian program tidak
berhenti ketika pendanaan eksternal berakhir.
"KKMD
harus mampu melanjutkan rehabilitasi mangrove secara mandiri. Ke depan,
diperlukan pula pelatihan-pelatihan lanjutan seperti digitalisasi, sistem
informasi akuntansi, dan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi kelompok
penerima manfaat," ujar Oding.
Komunikasi
dari Hati: Belajar dari Akar Rumput
Salah
satu sesi yang paling menyentuh pada hari pertama adalah pelatihan prinsip
dasar komunikasi dan teknis fasilitasi di tingkat komunitas yang dibawakan oleh
Meilinda Suriani Harefa, Founder & Executive Director Yayasan Konservasi
Pesisir Indonesia (YAKOPI). Meilinda menekankan bahwa komunikasi yang efektif
di tingkat tapak bukan sekadar soal penyampaian pesan, melainkan kemampuan
mendengarkan, memahami konteks lokal, dan membangun kepercayaan bersama
masyarakat.
Semangat
tersebut terkonfirmasi dalam sesi sharing session, ketika Zuwandi Tanjung,
Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bahagia Giat Bersama, membagikan pengalamannya
membangun kelompok dari nol melalui komunikasi yang kuat dan konsisten. Namun,
cerita yang paling menggugah adalah perannya dalam menyelamatkan lahan mangrove
di Desa Simandulang dari ancaman pelepasan kawasan melalui program TORA (Tanah
Objek Reforma Agraria).
"Di
daerah saya ada program TORA. Kalau yang tidak paham, pelepasan status kawasan
hutan bisa mengubah peruntukan lahan secara drastis karena masuk peta indikatif TORA. Di Simandulang, pelepasan
itu menyasar hutan mangrove yang merupakan penanaman program pemerintah dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2026 oleh BPDAS, BRGM dan M4CR. Kalau dilepaskan, banyak lahan mangrove akan
hilang," tutur Zuwandi. Beruntung, sebagai Sekretaris Desa Simandulang, ia
langsung terlibat dalam penyusunan rancangan program TORA sehingga mampu
mengantisipasi dan menyelamatkan lahan mangrove di wilayahnya. Kisah ini
menjadi bukti nyata bahwa literasi kebijakan dan keberanian bersuara dari
tingkat desa dapat menjadi benteng pertahanan terakhir bagi ekosistem pesisir.
Pengenalan
Toolkit Komunikasi Berbasis Kearifan Lokal
Menutup
rangkaian hari pertama, Juliarti Sianturi, staf media SPEAK Sub-Nasional
Sumatera Utara, memperkenalkan berbagai toolkit dan materi komunikasi yang
telah dikembangkan secara partisipatif. Perangkat-perangkat ini dirancang untuk
dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan kearifan lokal di masing-masing wilayah
sasaran, sehingga pesan-pesan konservasi tidak terasa asing, melainkan tumbuh
dari dalam komunitas itu sendiri.
Pelatihan
hari pertama ini menegaskan satu hal penting: keberhasilan rehabilitasi
mangrove di Sumatera Utara tidak ditentukan oleh kecanggihan kanal digital
semata, melainkan oleh kemampuan komunikasi yang menjembatani kepentingan
ekologis, ekonomi tambak, status lahan, dan keberlanjutan jangka panjang.
Ketika data bertemu dengan cerita manusia, dan ketika kebijakan bertemu dengan
kearifan lokal, di situlah komunikasi menemukan makna sesungguhnya.
Kegiatan
pelatihan akan berlanjut pada hari kedua, Kamis, 8 Oktober 2026, dengan agenda
praktik penggunaan panduan komunikasi berbasis komunitas, panduan keterlibatan
media, komunikasi krisis, serta penyusunan rencana tindak lanjut.







