Divisi Komunikasi

Wujudkan Pesisir Tangguh dan Sejahtera, Sekolah Lapang Livelihood M4CR Sumut Batch 2 Dorong Kemandirian Ekonomi Berbasis Konservasi


MEDAN, Oktober 2026 – Menjaga hutan mangrove tidak harus selalu berbanding lurus dengan keterbatasan ekonomi. Membuktikan hal tersebut, LPM Equator bersama Provincial Project Implementation Unit (PPIU) M4CR Provinsi Sumatera Utara sukses menggelar kegiatan Sekolah Lapang Livelihood Batch 2 pada tanggal 6 hingga 11 Oktober 2026.

Kegiatan yang menyasar empat kelompok masyarakat pesisir di dua desa, yakni Desa Paluh Kurau (Kabupaten Deli Serdang) dan Desa Pangkalan Siata (Kabupaten Langkat), ini tidak sekadar memberikan pelatihan teknis. Lebih dari itu, program ini hadir dengan pendekatan humanis: mendengarkan langsung denyut nadi permasalahan masyarakat, merangkul peran perempuan dan pemuda, serta membangun kemandirian tanpa merusak alam.

Filosofi "Memberi Jala", Bukan Sekadar "Ikan"

Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) hadir dengan kesadaran penuh bahwa masyarakat pesisir sering kali berada di garis depan perubahan iklim dan tekanan ekonomi. Melalui pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA), Sekolah Lapang ini dirancang untuk memperkuat lima modal penghidupan masyarakat: manusia, alam, sosial, fisik, dan keuangan.

"Kami memegang teguh filosofi bahwa bantuan yang hanya memberi 'ikan' akan habis hari itu juga. Namun, dengan membangun 'jala' berupa pengetahuan, sistem kelembagaan, dan akses pasar, masyarakat akan mampu mandiri. Kami ingin memastikan bahwa keluarga pesisir bisa memenuhi kebutuhan hari ini, tanpa harus mengorbankan hak generasi masa depan atas ekosistem mangrove yang sehat," ujar Perwakilan Tim Fasilitator Livelihood M4CR.

Empat Wajah Pemberdayaan yang Adaptif

Berdasarkan hasil asesmen potensi desa, materi pelatihan dirancang secara tematik dan sangat personal sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok:

    • KTH UT Bantul Mangrove (Desa Paluh Kurau): Fokus pada pengembangan usaha Ternak Domba yang terintegrasi. Masyarakat dibekali ilmu manajemen pakan (silase), kesehatan hewan, hingga analisis bisnis agar keuntungan tidak habis hanya untuk biaya operasional.
    • KTH Banjar Mangrove (Desa Paluh Kurau): Mengangkat kearifan lokal melalui sistem Silvofishery (tambak alam). Masyarakat belajar mengelola kualitas air, probiotik, dan panen agar hasil perikanan (kepiting/ikan) melimpah selaras dengan lestarinya akar bakau.
    • KTH Bakau Lestari (Desa Pangkalan Siata): Memberdayakan ibu-ibu dan masyarakat melalui olahan Terasi Udang. Tidak hanya soal cara fermentasi yang higienis, kelompok ini didampingi langsung oleh praktisi bisnis (PT. Mowie Indonesia Utama) untuk belajar branding, pengemasan modern, hingga pemasaran digital.
    • KTH Bakau Indah (Desa Pangkalan Siata): Mendampingi pembudidaya Ikan Kakap Putih dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Kelompok dibantu memetakan kualitas air, manajemen pakan, hingga strategi memotong rantai distribusi agar harga jual lebih berpihak pada nelayan.

Ruang Belajar yang Setara dan Inklusif

Berbeda dengan pelatihan konvensional, Sekolah Lapang Livelihood menempatkan lapangan sebagai laboratorium. Fasilitator hadir bukan sebagai "pengguru", melainkan sebagai mitra belajar.

Dalam sesi penguatan kelembagaan, isu-isu sensitif seperti transparansi keuangan, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan, dan regenerasi pemuda diangkat ke permukaan melalui musyawarah. Kelompok juga dibimbing menyusun Business Model Canvas (BMC), Analisis SWOT, hingga Dream Board untuk memvisualisasikan mimpi besar usaha mereka.

Melampaui Batas Pelatihan

Kegiatan yang diawali dengan Pre-Test dan diakhiri dengan Post-Test serta penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) ini hanyalah langkah awal. Ke depannya, tim M4CR dan Equator akan terus mendampingi kelompok dalam pengurusan legalitas (NIB, P-IRT, Label Halal), pendampingan buku kas, hingga fasilitasi pertemuan dengan buyer berskala besar.

Melalui Sekolah Lapang Livelihood Batch 2, M4CR PPIU Sumatera Utara dan LPM Equator mengirimkan pesan kuat bahwa konservasi lingkungan dan kesejahteraan ekonomi bukanlah dua hal yang bertentangan. Ketika masyarakat pesisir berdaya, mandiri, dan sejahtera, maka di saat yang sama, hutan mangrove Sumatera Utara akan tetap berdiri kokoh sebagai pelindung kehidupan.