Divisi Komunikasi

NASCLIM: Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pulihkan Mangrove dan Kehidupan Pesisir Kalimantan

 

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni (dua dari kiri) menyerahkan simbolis  matching grants kepada perwakilan kelompok masyarakat dalam acara penanaman mangrove di Dusun Siandau, Desa Liagu Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Sabtu (7/2/2026). (foto: RRI Tarakan/Muhamad Rajabsyah/ repro)

Dalam kunjungan kerjanya ke Tarakan pada awal bulan Februari 2026 ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa baik NASCLIM maupun program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) hadir untuk mendukung, bukan mengambil alih lahan tambak masyarakat. “Itu adalah kebohongan, itu hoaks kalau dikatakan kelompok masyarakat diajak menanam mangrove, nanti setelah mangrovenya jadi lalu pemerintah akan mengambil lahan atau tambak bapak-ibu sekalian. Itu hoaks, fitnah, dan hasutan yang tidak benar,” tegasnya. Kedua program ini berbagi tujuan mulia: melindungi mangrove sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir.

Apa Itu Proyek Program NASCLIM?

Di tengah laju deforestasi mangrove yang mengkhawatirkan, Indonesia kehilangan sekitar 50% tutupan mangrove dalam 30 tahun terakhir. Muncul inisiatif yang menawarkan harapan nyata bagi pesisir Kalimantan. NASCLIM (Nature-based Solutions for Climate-smart Livelihoods in Mangrove Landscapes) hadir bukan sekadar sebagai program penanaman mangrove, melainkan sebagai transformasi menyeluruh cara pandang terhadap pengelolaan ekosistem pesisir.

NASCLIM merupakan proyek kolaborasi lima tahun antara Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia dan Yayasan Lahan Basah yang didanai Pemerintah Kanada. Beroperasi di enam desa, empat di Delta Kayan-Sembakung, Kalimantan Utara (Desa Liagu, Sekatak Buji, Sekatak Benggara, dan Salimbatu) serta dua di Delta Mahakam, Kalimantan Timur (Desa Muara Pantuan dan Sepatin). Proyek ini menyentuh kehidupan 19.339 warga setempat dengan target 270.000 penerima manfaat secara keseluruhan.

Yang membedakan NASCLIM adalah pendekatannya yang holistik. Alih-alih hanya menanam bibit mangrove, proyek ini memulihkan arus pasang surut alami yang selama ini terganggu oleh pengembangan tambak budidaya perikanan skala besar. Dengan mengembalikan fungsi hidrologi ekosistem, NASCLIM menciptakan kondisi bagi regenerasi alami mangrove, strategi yang terbukti lebih hemat biaya dan berkelanjutan dibanding penanaman masif yang sering gagal bertahan.

Teguh Prio Adi Sulistyo dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menyebut NASCLIM sebagai "satu-satunya proyek mangrove yang saya tangani dengan keterlibatan penuh masyarakat dalam merancang dan mengimplementasikan pendekatan berbasis ekosistem." Keterlibatan komunitas sejak perencanaan inilah yang menjadi fondasi keberlanjutan proyek ini.

Pemberdayaan Perempuan sebagai Penggerak Perubahan

NASCLIM menempatkan perempuan sebagai aktor utama dengan target 40% peserta pelatihan berasal dari kalangan perempuan. Mereka tidak hanya dilatih meningkatkan mata pencaharian, tetapi juga diberdayakan untuk memahami nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan dari akses mereka terhadap sumber daya mangrove. Program ini secara khusus menyoroti pentingnya partisipasi perempuan dalam tata kelola lanskap pesisir, perlindungan hak adat dan hukum, serta pemanfaatan pengetahuan lokal mereka dalam pengelolaan mangrove, dimensi yang sering terabaikan dalam program serupa.

Hasil Nyata yang Ditargetkan

Dalam kurun waktu lima tahun, NASCLIM menargetkan rehabilitasi 66.000 hektar ekosistem mangrove, perlindungan 10.000 hektar hutan mangrove utuh, serta pengurangan emisi gas rumah kaca setara 11,2 juta ton CO₂. Angka ini bukan sekadar statistik, setiap hektar yang dipulihkan berarti peningkatan ketahanan pesisir terhadap abrasi, pemulihan tempat pemijahan ikan, dan peningkatan hasil tangkapan nelayan serta produksi tambak yang berkelanjutan.

Namun, NASCLIM memiliki ciri khas yang membedakannya. Pertama, fokus pada natural regeneration (regenerasi alami) melalui pemulihan hidrologi ketimbang ketergantungan pada penanaman bibit. Kedua, pendekatan tata kelola yang responsif gender dengan melibatkan perempuan sebagai pengambil keputusan, bukan hanya penerima manfaat pasif. Ketiga, strategi pengaruh kebijakan berlapis, dari tingkat desa hingga nasional untuk memastikan perlindungan mangrove tertuang dalam regulasi jangka panjang.

Sementara M4CR lebih dikenal sebagai program yang menekankan ketahanan pesisir melalui penanaman mangrove skala besar, NASCLIM menawarkan model yang lebih organik: memulihkan fungsi ekosistem sehingga mangrove tumbuh kembali secara alami, sementara masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi berkelanjutan di dalamnya. Pendekatan ini menjawab tantangan utama restorasi mangrove di Indonesia. Tingginya biaya rehabilitasi (USD 3.900/hektar) dan rendahnya tingkat keberhasilan dengan strategi yang lebih cerdas secara ekologis dan ekonomis.

Menuju Model Nasional yang Terukur

Dengan potensi Indonesia menyumbang 24% mangrove dunia seluas 3,36 juta hektar yang memberikan kontribusi USD 1,5 miliar per tahun bagi perekonomian nasional, keberhasilan NASCLIM di dua delta Kalimantan bisa menjadi cetak biru bagi restorasi mangrove di 34 provinsi. Ketika pemerintah menargetkan rehabilitasi 600.000 hektar mangrove hingga 2024, pendekatan berbasis partisipasi masyarakat dan regenerasi alami seperti NASCLIM menawarkan jalan keluar dari paradigma restorasi yang selama ini mahal namun minim keberlanjutan.

Di balik data dan target teknisnya, inti NASCLIM sederhana namun revolusioner: mangrove yang sehat tak perlu dipaksakan tumbuh, cukup pulihkan kondisi alaminya, libatkan masyarakat sebagai penjaganya, dan biarkan ekosistem bekerja. Ketika itu terjadi, bukan hanya karbon yang tersimpan atau garis pantai yang terlindungi, tapi juga kehidupan 270.000 manusia yang kembali berdaulat atas masa depan mereka sendiri.