Sebagai Asisten Field School & Livelihood QC PPIU Sumut, saya merasakan betapa berharganya setiap detik di lapangan, Jujur…bukan hanya untuk mengumpulkan data, tapi untuk membangun kepercayaan dan kolaborasi yang mengakar.
Dari Desa ke Desa: Cerita di Balik Setiap Senyum Petani
Pada November 2025, bersama Riri, kami berangkat ke Pasar Rawa untuk
memandu Sekolah Lapang Livelihood (SLL) dengan tema "Menjaga pesisir
mangrove, meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat". Di sana, Ibu
Alwen dari PT. Mowie Indonesia membagikan ilmu tentang pengolahan ikan baronang
crispy, produk inovatif yang mengubah ikan kertang lokal menjadi makanan
bernilai tinggi.
Saya terharu melihat bagaimana Kelompok Usaha Pemuda Maju Bersama dan Kuliner Desa Pasar Rawa bersemangat mempraktikkan strategi pemasaran online dan legalitas produk (NIB, P-IRT, BPOM). "Mari jaga mangrove, mari sejahterakan desa!" suatu slogan yang mereka sematkan di balik setiap langkah.
Tidak kalah menarik, di Kelurahan Pangkalan Batu sekitar tanggal 8 hingga 11 Desember 2025, kami berkolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan untuk melatih masyarakat dalam manajemen kepiting bakau. Riri dengan sabar menjelaskan "ganti kulit (molting)" sebagai fase krusial yang sering diabaikan. Sementara saya mencatat setiap pertanyaan peserta, terutama saat Bapak Sofwan Said Daulay di KTH Bahagia Bersama (BGB) berbagi pengalaman mengelola kualitas air. "Ketika air ketat, harga mati. Tapi dengan memantau parameter air di berbagai titik, kita bisa deteksi masalah sebelum terlambat," ujarnya, sambil menunjukkan alat pengukur DO yang kami berikan.
Pelajaran yang Mengalir dari Laut ke Hati
Setiap kunjungan mengajarkan sesuatu yang baru. Di Desa Simandulang,
kami menyadari betapa pentingnya membangun fondasi yang terstruktur. Seperti
kata Bapak Dasimin, Ketua BPD setempat: "Ekonomi desa bukan hanya soal
usaha, tapi tentang evaluasi mendalam dan strategi yang berkelanjutan." Di
sini, kami juga melihat betapa krusialnya manajemen stres kepiting bakau, faktor
yang sering diabaikan, padahal berdampak besar pada produktivitas.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Saat memantau 7 kelompok masyarakat di tahun 2026, kami sering menghadapi kendala sinyal. "Ada desa yang jaringan teleponnya tidak stabil, sehingga verifikasi RTL (Rencana Tindak Lanjut) harus dilakukan secara virtual," keluh saya pada Riri. Tapi, justru di sinilah kami belajar: administrasi bukan sekadar pekerjaan di balik meja. Seperti Rahel Sihombing sebagai Controller di tim kami mengatakan, "Dokumentasi yang baik bukan hanya memperkuat kepercayaan masyarakat dan publik kian, administrasi adalah penggerak kolaborasi antara alam, konservasi, dan masyarakat."
Implementasi Teknis: Budidaya Ramah Lingkungan
Sekolah Lapang Livelihood di berbagai desa fokus pada komoditas spesifik yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun tetap menjaga kelestarian mangrove:
- Budidaya Kepiting Bakau (Desa Simandulang & Pangkalan Batu): Peserta mempelajari manajemen stres untuk menekan angka kematian akibat kanibalisme, terutama saat fase krusial molting (ganti kulit). Faktor pemicu seperti fluktuasi kualitas air dan kepadatan tebar menjadi parameter utama yang dipantau.
- Silvofishery (Desa Paluh Kurau & Tanjung Rejo): Mengintegrasikan tambak dengan ekosistem mangrove terbukti dapat menekan biaya operasional dan menjaga kesehatan komoditas.
- Inovasi Produk (Desa Pasar Rawa): Mengubah ikan kertang yang sebelumnya bernilai rendah menjadi produk "Baronang Crispy" berdaya saing tinggi yang telah dilengkapi legalitas seperti NIB dan P-IRT.
Resiliensi di Tengah Tantangan Alam
Kualitas program diuji ketika cuaca ekstrem dan banjir melanda lokasi
kegiatan, seperti yang terjadi di Desa Tanjung Rejo dan Paluh Kurau pada
November 2025. Di bawah pengawasan tim, kegiatan tetap berjalan produktif
dengan mengalihkan praktik lapangan menjadi diskusi visioner "Dream of
Kelompok" dan penguatan teori melalui post-test untuk memastikan pemahaman
peserta tetap optimal meski dalam kondisi bencana.
Masa Depan yang Lebih Hijau
Sebagai asisten, saya tidak hanya mengumpulkan data. Saya juga belajar
dari setiap senyum, setiap tawa, dan setiap cerita. Dari Basic Business
Training di Kabupaten Asahan hingga Sekolah Lapang Livelihood di Simandulang,
kami berpegang pada prinsip: "Bersama, kita bisa menciptakan masa depan
yang lebih hijau dan sehat!"
Kedepannya, sesuai rencana kerja Februari 2026, kami akan memperkuat identifikasi potensi ekonomi dengan kunjungan langsung, meski anggaran belum memungkinkan. "Kami tidak hanya ingin menghitung jumlah kelompok, tapi memastikan setiap Rencana Tindak Lanjut berjalan lancar," tekad saya. Karena, seperti kata Riri, "Dunia tidak berputar hanya karena kita menulis laporan. Dunia berubah ketika kita mendengarkan dan berkolaborasi."
Di tengah hembusan angin pesisir, saya dan Riri kembali berjalan. Langkah kami mungkin kecil, tapi setiap jejak kaki di tanah lembap ini adalah komitmen: menjaga mangrove, menjaga harapan, dan memastikan bahwa "kita jaga mangrove, mangrove jaga kita."
#M4CR #SLL #MangroveForResilience










