Sebuah lompatan besar dalam konservasi pesisir Indonesia terwujud:
MANDARA (Mangrove Data Nusantara), platform digital kolaboratif pertama yang
mengintegrasikan delapan modul operasional, mulai dari perencanaan spasial
hingga pengukuran penyerapan karbon, kini siap diluncurkan 10 Februari 2026 yang akan datang.
Hasil sosialisasi di Hotel Grand Mercure Medan tanggal 2 Februari 2025 memastikan platform Mandara menjadi solusi nyata mengatasi fragmentasi data selama ini, memungkinkan
Dinas Lingkungan Hidup, BPDAS, NGO, mitra korporat, hingga akademisi USU
berkolaborasi dalam satu sistem terpadu tanpa tumpang tindih aktivitas.
"MANDARA bukan sekadar database—ini adalah neraca hidup ekosistem
mangrove," ujar Iwan Setiawan, Ahli Teknis PIU Grant M4CR yang memaparkan
platform. "Setiap penanaman, setiap pemantauan, hingga setiap ton karbon
yang terserap kini tercatat transparan, terverifikasi, dan dapat diakses
multipihak sesuai peran masing-masing. Ini adalah fondasi restorasi mangrove
berbasis sains yang sesungguhnya."
Delapan Pilar Transformasi Ekosistem Pesisir
MANDARA dirancang menjawab enam misi krusial—Keberlanjutan, Restorasi, Inovasi, Konservasi, Ketahanan, dan Kolaborasi—melalui delapan modul yang saling terhubung:
- Perencanaan - Strategi restorasi berbasis peta spasial akurat, hindari lokasi tumpang tindih,
- Aksi - Pelacakan real-time setiap kegiatan lapangan oleh multipihak
- Spasial - Analisis dinamika lahan dengan resolusi tinggi untuk prediksi abrasi
- Monitoring - Sensor kesehatan ekosistem via citra satelit + laporan lapangan harian
- Landsekap - Pemetaan interaksi mangrove dengan ekosistem darat-laut
- Biofisik - Indikator kesehatan vegetasi dan sedimentasi berbasis data lapangan
- Evaluasi - Pengukuran dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat pesisir
- Karbon - Kalkulasi penyerapan karbon untuk skema perdagangan karbon berbasis hasil nyata.
Kolaborasi Tanpa Kebocoran Data
Salah satu terobosan MANDARA adalah arsitektur akses berlapis yang
menjawab kekhawatiran Jonas Purba (Dinas LHK Sumut) tentang overlapping
pengimputan data. Setiap entitas—BPDAS, Kementerian LHK, NGO, atau mitra
korporat, memiliki antarmuka khusus dengan mekanisme approval terpusat.
Platform ini juga terintegrasi dua arah dengan Sistem Registri Nasional (SRN)
KLHK, memastikan data lokal mengalir ke sistem nasional tanpa duplikasi.
"Kami menuntut output yang berdampak nyata bagi masyarakat dan
learning yang berkelanjutan," tegas Sigit Budi Nugroho, S.Si., M.Sc.,
Kepala BPDAS Wampu Sei Ular dalam sambutannya. "MANDARA adalah jawaban:
setiap penanaman mangrove kini bukan hanya angka di laporan, tetapi menjadi
fondasi ketahanan pesisir dan revitalisasi ekonomi masyarakat."
Akses Publik dan Roadmap ke Depan
Masyarakat umum dapat menjajal platform Mandara di https://mandara.id.
Versi publik resmi akan diluncurkan 10 Februari 2026 yang akan datang, disertai mekanisme umpan
balik terstruktur. Setiap saran perbaikan dapat disampaikan melalui instansi
masing-masing untuk penyempurnaan berkelanjutan. Dengan MANDARA, Indonesia
selangkah lebih dekat mewujudkan komitmen restorasi 600.000 hektar mangrove
nasional dan perlindungan 24% wilayah pesisir dari ancaman abrasi, bukan hanya
melalui janji, tetapi melalui data yang hidup, transparan, dan kolaboratif.





