Divisi Komunikasi

Mangrove Pesisir Sumatera Utara siap dipulihkan: Kolaborasi Lintas Sektor Sahkan Berita Acara Pertek Rehabilitasi 2026


Sebuah tonggak sejarah baru bagi ketahanan ekologis dan sosial ekonomi pesisir Sumatera Utara tercapai hari ini. Pada pukul 11.30 WIB tanggal 3 Februari 2026, seluruh pemangku kepentingan kunci—dari pemerintah pusat hingga komunitas lokal—menandatangani Berita Acara Pertimbangan Teknis (Pertek) Dokumen Rancangan Kegiatan 2026 Proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Kesepakatan ini menjadi fondasi konkret rehabilitasi 3.500 hektar hutan mangrove di empat lokus strategis yang akan menjadi "benteng hijau" bagi lebih dari 500.000 jiwa yang tinggal di wilayah pesisir rentan abrasi.

Rapat hari kedua yang berlangsung di Hotel Grand Mercure Maha Cipta Angkasa Medan ini dihadiri oleh kekuatan kolaboratif luar biasa: Kepala BPDAS Asahan Barumun dan Wampu Sei Ular, empat Kesatuan Pengelola Hutan (KPH), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, pakar Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, serta perwakilan kunci dari Yayasan Gajah Sumatera dan Yayasan Konservasi Indonesia. Dipandu oleh Gisela Malya Asoka Anindita selaku Asisten Hidrologi PPIU Sumut, rapat penuh dinamika kritik membangun dan masukan teknis akhirnya melahirkan dokumen rancangan yang tidak hanya berbasis sains, tetapi juga menyatu dengan kearifan lokal dan kebutuhan riil masyarakat pesisir.

Dari Akar ke Masa Depan: Manfaat Nyata bagi Masyarakat

Dokumen yang disahkan hari ini bukan sekadar rencana teknis. Ia adalah peta jalan transformasi kehidupan pesisir Sumatera Utara:

  1. Proteksi Langsung dari Bencana - Hutan mangrove yang direhabilitasi akan menyerap energi gelombang hingga 70%, secara signifikan mengurangi risiko abrasi dan banjir rob yang selama ini mengancam permukiman, tambak, dan infrastruktur vital di Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, dan Labuhan Batu.
  2. Kebangkitan Ekonomi Biru - Dengan pulihnya ekosistem mangrove sebagai nursery ground ikan dan udang, nelayan tradisional diproyeksikan meningkatkan hasil tangkapan hingga 40% dalam 3–5 tahun ke depan. Program pendampingan field school dan pelatihan usaha berbasis ekowisata juga akan membuka 1.200 lapangan kerja baru bagi pemuda pesisir.
  3. Ketahanan Iklim yang Merata - Setiap hektar mangrove dewasa mampu menyerap 1.000 ton karbon—setara dengan 200 kali lipat hutan daratan. Rehabilitasi ini menjadi kontribusi nyata Sumatera Utara dalam target Net Zero Emission Indonesia 2060, sekaligus memperkuat ketahanan pangan melalui stabilisasi kualitas air tambak.


"Kritik dan saran yang disampaikan peserta hari ini justru memperkaya desain teknis kami," ungkap Gisela Malya Asoka Anindita. "Kami tidak hanya menanam mangrove, kami menanam harapan. Setiap bibit yang ditanam adalah investasi bagi generasi pesisir yang bebas dari ketakutan akan air pasang yang menghancurkan rumah dan mata pencaharian."

Kolaborasi multipihak dalam rapat PERTEK ini mencerminkan semangat whole-of-society approach yang menjadi jiwa Proyek M4CR, di mana pemerintah, akademisi, NGO, dan komunitas lokal duduk setara dalam merancang solusi berkelanjutan. Platform Mangrove Data Nusantara (MANDARA) yang disosialisasikan sehari sebelumnya juga akan memastikan transparansi pemantauan: masyarakat dapat melacak pertumbuhan mangrove secara real-time melalui aplikasi berbasis spasial.


Dengan disahkannya Berita Acara Pertimbangan Teknis ini, pelaksanaan rehabilitasi mangrove 2026 di Sumatera Utara resmi memasuki fase aksi. Bibit-bibit berkualitas, dipilih berdasarkan adaptasi hidrologi lokal akan mulai ditanam pada Maret 2026, menandai dimulainya era baru di mana pesisir Sumatera Utara tidak lagi menjadi korban perubahan iklim, melainkan garda terdepan ketahanan iklim Indonesia.

Proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) merupakan inisiatif Kementerian Kehutanan RI yang didukung pendanaan hibah global untuk memperkuat ketahanan ekosistem pesisir melalui rehabilitasi mangrove berbasis partisipasi masyarakat.