Sabtu, 2 Mei 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal ini bukan sekadar penanda kalender atau rutinitas seremonial, melainkan refleksi tahunan atas warisan pemikiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau Ki Hajar Dewantara. Tema resmi tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu”, mengajak kita melampaui definisi pendidikan yang terkotak-kotak dalam ruang kelas. Ia menuntut pengakuan bahwa belajar adalah proses hidup yang terjadi di mana saja, melibatkan siapa saja, dan harus bermuara pada keberlanjutan kemanusiaan maupun alam.
Filosofi Ki Hajar Dewantara dan Evolusi “Partisipasi
Semesta”
Dalam visi Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses
memanusiakan manusia melalui keteladanan, dorongan kolektif, dan pendampingan
yang memberdayakan. Prinsip Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madyo Mangun Karso,
Tut Wuri Handayani menekankan bahwa pembelajaran yang efektif lahir dari
lingkungan yang saling mendukung, bukan dari instruksi satu arah. Konsep
“partisipasi semesta” dalam tema Hardiknas 2026 adalah evolusi modern dari
prinsip tersebut. Pendidikan bermutu hari ini tidak lagi diukur dari
keseragaman output akademik, melainkan dari kapasitas sebuah komunitas untuk
belajar secara adaptif, mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan inovasi
teknis, dan menciptakan solusi yang relevan dengan konteks ekologis serta
sosialnya.
Di pesisir Sumatera Utara, visi ini diwujudkan secara nyata
melalui program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR). Di sini,
pendidikan tidak diajarkan di balik dinding, tetapi dipraktikkan di antara akar
napas, dinamika pasang surut, dan hamparan bibit mangrove. Program ini
menggeser paradigma intervensi top-down menuju ekosistem belajar
partisipatif yang menempatkan masyarakat pesisir sebagai subjek pengetahuan dan
agen perubahan.
Tiga Pilar Pendidikan Lapangan dalam M4CR
Keberhasilan M4CR tidak hanya terletak pada jumlah pohon
yang ditanam, tetapi pada bagaimana pengetahuan disirkulasikan, diuji, dan
dikembangkan secara berkelanjutan. Tiga instrumen pendidikan menjadi tulang
punggung transformasi ini:
1. Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove Didukung oleh
Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal PDASRH dalam kerangka M4CR,
program ini dirancang sebagai ruang edukasi partisipatif bagi masyarakat
pesisir. Peserta tidak hanya menerima materi teoritis, tetapi terlibat langsung
dalam seleksi bibit, teknik pembibitan, penyesuaian jarak tanam, hingga
pemantauan pertumbuhan. Fokusnya melampaui penghijauan semata: rehabilitasi
ekosistem diintegrasikan dengan teknik silvofishery dan perencanaan
ekonomi berkelanjutan. Dengan demikian, pemulihan lahan tidak berjalan sendiri,
tetapi selaras dengan peningkatan daya dukung lingkungan dan kesejahteraan
komunitas.
2. Sekolah Lapang Livelihood Jika sekolah lapang
rehabilitasi menjawab “bagaimana memulihkan alam”, sekolah lapang ini menjawab
“bagaimana hidup harmonis di dalamnya”. Program ini memfasilitasi penciptaan
mata pencaharian yang tidak mengeksploitasi, melainkan bersinergi dengan fungsi
ekologis mangrove. Peserta dilatih mengidentifikasi potensi lokal,
mengembangkan produk bernilai tambah, mengelola rantai pasok sederhana, dan
membangun tata kelola usaha yang transparan. Kurikulumnya bersifat kontekstual
dan adaptif: disesuaikan dengan kondisi tapak, kearifan lokal, serta tekanan
perubahan iklim yang nyata. Pendidikan di sini membuktikan bahwa kualitas
pembelajaran diukur dari seberapa jauh ia mampu memperkuat ketahanan ekonomi
tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
3. Training of Facilitator (TOF) dan Pertukaran
Pengalaman Horizontal Keberlanjutan sebuah program edukasi lapangan sangat
bergantung pada kualitas pendampingan. TOF dalam M4CR bukan pelatihan
konvensional yang bersifat satu arah, melainkan forum refleksi dan berbagi
pengalaman antarkelompok masyarakat yang telah aktif menanam dan merawat
mangrove di Sumatera Utara. Fasilitator lapangan dan anggota kelompok duduk
setara untuk mendiskusikan kendala teknis, menyempurnakan metode pendampingan,
dan merancang strategi komunikasi yang lebih efektif. Pengetahuan tidak
diturunkan dari atas ke bawah, melainkan disirkulasikan secara peer-to-peer.
Ini memastikan bahwa kapasitas rehabilitasi tidak bergantung pada satu lembaga,
tetapi tumbuh secara organik melalui jejaring komunitas yang mandiri, kritis,
dan saling menguatkan.
5 Mei 2026: Momentum Konkretisasi Pendidikan Bermutu
Tiga hari setelah Hardiknas, tepatnya 5 Mei 2026,
semangat partisipasi semesta ini akan mencapai puncaknya di Balai Diklat Penyuluhan
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Wilayah I Pematang Siantar. Acara ini akan menggelar
TOF khusus bagi kelompok penanaman P0 proyek M4CR, yang tidak hanya
melanjutkan tradisi berbagi pengalaman lapangan, tetapi juga diintegrasikan
dengan pelatihan bisnis.
Integrasi ini adalah langkah strategis yang mencerminkan
kedewasaan program. Setelah masyarakat menguasai teknik rehabilitasi dan
memahami prinsip keberlanjutan ekologis, mereka kini dibekali kemampuan
manajerial, perencanaan usaha, akses pasar, dan mitigasi risiko bisnis. Dengan
demikian, pendidikan tidak berhenti pada pemulihan lahan, tetapi berlanjut pada
penguatan kelembagaan ekonomi komunitas. TOF + Pelatihan Bisnis menjadi bukti
nyata bahwa “pendidikan bermutu” harus bersifat holistik: memadukan kompetensi
teknis, kesadaran ekologis, dan kesiapan kewirausahaan dalam satu siklus
pembelajaran yang terukur.
Mengapa Model Ini Adalah Cerminan Tema Hardiknas 2026
Model edukasi dalam M4CR menjawab pertanyaan mendasar:
bagaimana mewujudkan partisipasi semesta yang tidak sekadar partisipasi
administratif, melainkan partisipasi substantif? Jawabannya terletak pada
pendekatan yang setara, kontekstual, dan berorientasi pada hasil nyata. Ketika
pemerintah, pendamping teknis, akademisi, dan masyarakat pesisir duduk dalam
satu ruang belajar yang sama, terjadi validasi pengetahuan melalui praktik
langsung. Tidak ada pihak yang mengklaim paling tahu; yang ada adalah proses
uji-coba, refleksi bersama, dan adaptasi berkelanjutan.
Di pesisir Sumatera Utara, pendidikan berarti membaca
tanda-tanda musim, merawat bibit dengan disiplin, mengelola sumber daya tanpa
mengeksploitasi, dan mentransfer pengalaman secara horizontal. Ini adalah
pendidikan yang tidak mengejar nilai akademis, tetapi mengejar keberlanjutan
ekosistem dan ketahanan sosial. Ini adalah pendidikan yang tidak menunggu
kurikulum resmi, tetapi menyusun kurikulumnya sendiri dari interaksi nyata
dengan lingkungan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Pendidikan sebagai Nafas Pembangunan Inklusif
Memaknai Hardiknas 2026 berarti mengakui bahwa ruang belajar
telah meluas, melampaui batas geografis dan institusional. Jika Ki Hajar
Dewantara menyaksikan pesisir Sumatera Utara hari ini, ia mungkin akan
menemukan prinsip tut wuri handayani hidup dalam cara para petani
mangrove membimbing satu sama lain, dalam diskusi kelompok yang melahirkan
inovasi silvofishery, dan dalam komitmen menjaga keseimbangan antara
pemulihan alam dan pemenuhan kebutuhan hidup.
Program M4CR, melalui Sekolah Lapang Rehabilitasi, Sekolah
Lapang Livelihood, dan TOF, menunjukkan bahwa ketika partisipasi semesta
diwadahi dengan metodologi yang tepat, pendidikan menjadi instrumen
transformasi yang nyata dan terukur. Mari kita jadikan peringatan Hardiknas
2026 bukan sekadar refleksi, tetapi akselerasi. Karena pada akhirnya,
pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan
pikiran, tetapi juga memulihkan bumi, memperkuat ekonomi lokal, dan
memberdayakan manusianya secara bermartabat.






