Kegiatan Training of
Facilitator (ToF) Pemandu Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove PPIU M4CR
Sumatera Utara memasuki hari kedua tanggal 6 Mei 2026 dengan pembahasan
mendalam mengenai aspek keselamatan kerja, teknik penanaman, tata kelola
kelembagaan, hingga metodologi pemanduan partisipatif. Kegiatan yang
berlangsung di Aula Sampinur, Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Wilayah I (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, diikuti oleh 23 peserta
perwakilan kelompok masyarakat dari berbagai kabupaten pesisir di Sumatera
Utara.
Melanjutkan aspek teknis, Rangga
Bayu Basuki selaku Sylvofishery Assistant PPIU Sumatera Utara memaparkan
panduan komprehensif mengenai penanaman dan pemeliharaan mangrove. Materi ini
mengupas tata cara penanaman yang tepat, jadwal dan metode pemeliharaan, hingga
strategi pengelolaan berkelanjutan guna memastikan tingkat hidup (survival
rate) bibit mangrove optimal pasca tanam.
Memperkaya wawasan ekosistem,
Deanova Frestiana Br Pelawi, S.Hut., M.Sc., akademisi dan peneliti Departemen
Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), menyampaikan materi dasar
pengelolaan ekosistem mangrove. Ia menjelaskan pentingnya pemahaman zonasi, karakteristik
biofisik, serta potensi ekonomi produk hasil hutan bukan kayu. Deanova
mencontohkan produk olahan seperti selai, sirup, dan kolak yang dapat bernilai
ekspor apabila didukung sertifikasi BPOM, label Halal, dan pengemasan yang
menarik. Dari sisi sosial, ia mengingatkan fasilitator untuk senantiasa
menghormati kearifan lokal dan ritual adat masyarakat setempat. Dalam
penutupannya, Deanova berpesan, “Jika ekologi dikelola dengan baik, ekonomi
akan menyusul. Bapak dan ibu adalah garda terdepan rehabilitasi mangrove.
Tanamlah dengan hati yang gembira, pilih bibit yang berkualitas, perhatikan
karakter perakaran dan kedalaman tanam, maka hasil akan tumbuh optimal.”
Sebagai penutup kegiatan hari
kedua, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk praktik kelas melalui
simulasi Role Play. Setiap peserta ditugaskan dalam peran spesifik
seperti Ketua, Sekretaris, Bendahara, Anggota, Kepala Desa, hingga Babinsa.
Mereka bermusyawarah untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan teknis,
sosial, dan administratif yang lazim dihadapi saat pelaksanaan penanaman di
lapangan. Simulasi ini dirancang untuk mengasah kemampuan komunikasi,
negosiasi, dan pengambilan keputusan partisipatif sebagai modal utama seorang
pemandu sekolah lapang.
Kegiatan hari kedua TOF ini berhasil memperkuat kapasitas peserta secara holistik, mulai dari aspek keselamatan kerja, teknik rehabilitasi, tata kelola kelompok, hingga metodologi fasilitasi yang adaptif. Bekal pengetahuan ini akan langsung diimplementasikan oleh para peserta dalam mendampingi masyarakat percepatan rehabilitasi ekosistem mangrove di pesisir Sumatera Utara melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).










