Divisi Komunikasi

Peserta ToF M4CR Sumatera Utara Gelar Praktik Lapangan di Batubara Mangrove Park, Perdalam Teknik Rehabilitasi dan Penguatan Kelembagaan

Kegiatan Training of Facilitator (ToF) Pemandu Sekolah Lapangan Rehabilitasi Mangrove (SLRM) Proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Provinsi Sumatera Utara memasuki hari ketiga dengan fokus pada praktik lapangan di Ekowisata Batubara Mangrove Park, Pantai Sejarah, Kabupaten Batubara. Sebanyak 23 peserta dari berbagai Kelompok Tani Hutan (KTH), alumni, dan pendamping proyek mengikuti kegiatan ini untuk mengasah kompetensi teknis dan fasilitasi rehabilitasi mangrove secara langsung.

Rombongan bertolak pukul 06.00 WIB dari Asrama Balai P2SDM Wilayah I Kementerian Kehutanan dan tiba di lokasi pada pukul 09.30 WIB. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Al Rahmat Putra, Environmental Training Assistant PPIU M4CR Sumatera Utara. Sebelum memulai simulasi di lapangan, peserta diajak mengenal lebih dalam tentang ekosistem mangrove yang ada di lokasi, mencakup 14 spesies mangrove yang tumbuh secara alami mulai dari garis pantai hingga ke daratan.

Irfan, Ketua KTH Cinta Mangrove dan salah satu peserta ToF, berbagi pengalaman inspiratif mengenai proses pengembangan Batubara Mangrove Park. Ia menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi komunitas hingga lokasi tersebut berhasil menjadi destinasi ekowisata yang kini viral dan menjadi contoh nyata keberhasilan restorasi mangrove yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Selanjutnya, peserta melaksanakan serangkaian praktik lapangan yang mencakup tujuh substansi materi SLRM, yaitu: membaca rancangan teknis kegiatan, pengamatan biofisik lokasi, pengenalan jenis dan bibit mangrove, penyiapan bibit dan persemaian, teknik penanaman, monitoring tanaman, hingga penguatan kelembagaan kelompok.


Pendampingan praktik lapangan dipandu oleh tim Widyaiswara Balai P2SDM Wilayah I bersama para narasumber ahli, antara lain Rangga Bayu Basuki, Al Rahmat Putra, Azum Mubarok (Koordinator Lapangan Batubara), M. Arya Bijaksana (Pendamping Desa Gambus Laut & Perupuk), serta akademisi dari Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Deanova Frestiana Br Pelawi, S.Hut., M.Sc.

Kasto Wahyudi, Alumni ToF 2024, turut berbagi catatan penting mengenai tata kelola kelompok tani. Ia menekankan pentingnya perjanjian internal antara pengurus dan anggota terkait insentif dan kewajiban penanaman. “Apabila ada anggota yang berhalangan, dana upah dapat dialihkan kepada pengganti yang bertugas. Selain itu, kelompok wajib melakukan monitoring mandiri terlebih dahulu sebelum evaluasi resmi oleh PPIU, mencakup parameter pertumbuhan seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun, dan tingkat kesehatan bibit,” ujarnya.

Kegiatan ToF ini merupakan bagian integral dari Proyek M4CR yang diinisiasi untuk mempercepat rehabilitasi mangrove di pesisir Sumatera Utara. Melalui pendekatan Sekolah Lapangan, program ini bertujuan mencetak pemandu lapangan yang tidak hanya menguasai aspek teknis silvikultur mangrove, tetapi juga mampu memfasilitasi penguatan kapasitas, administrasi, dan kelembagaan masyarakat pesisir.

Rangkaian praktik lapangan pada hari ketiga ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman peserta, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. Kegiatan ToF akan dilanjutkan dengan sesi evaluasi akademik dan penutupan pada 8 Mei 2026 di Kota Pematang Siantar.