Divisi Komunikasi

ToF M4CR Sumatera Utara Resmi Digelar, Hari 1 Dengan Perkuat Kapasitas Fasilitator Rehabilitasi Mangrove Berbasis Komunitas


Sekolah Lapangan Rehabilitasi Mangrove (SLRM) Proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Provinsi Sumatera Utara resmi dibuka hari ini, Selasa (5/5/2026), bertempat di Aula Sampinur, Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah I Kementerian Kehutanan, Jalan Bali No. 21, Pematang Siantar. Kegiatan hari pertama ini diikuti oleh perwakilan 23 Kelompok Masyarakat (Pokmas) penanam mangrove dari empat kabupaten, yakni Langkat, Batubara, Asahan, dan Labuhanbatu, bersama sejumlah pejabat teknis dan narasumber ahli.

Acara dibuka dengan laporan kegiatan oleh Kepala Seksi Penyelenggaraan Pelatihan BP2SDM Wilayah I, Dini Novianty Ohara Daulay, S.Hut., M.Ling., yang dilanjutkan dengan serangkaian sambutan resmi. Kepala BPDAS Asahan Barumun yang diwakili Udin Syamsudin, S.Hut., M.Si. (Kasi RHL), menegaskan bahwa proyek M4CR tidak hanya berorientasi pada target penanaman, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. “Fasilitator adalah kunci sebagai pendamping, penggerak, dan pelaksana di tingkat tapak. Kami berharap peserta dapat meningkatkan kualitas fasilitasi dan menerapkannya secara nyata bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.

PPIU M4CR Manager Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, S.Hut., mengingatkan bahwa proyek M4CR akan berakhir pada Desember 2027. Ia mengajak peserta untuk menempatkan rehabilitasi mangrove sebagai gerakan kesadaran kolektif. “Jika hanya berbicara teknis menanam, masyarakat pesisir sudah sangat ahli. Kami berharap diskusi berjalan aktif agar terjadi pertukaran pengalaman dan pembelajaran bersama untuk dampak keberlanjutan yang lebih luas,” jelasnya.

Pembukaan resmi disampaikan oleh Kepala Balai P2SDM Wilayah I, Soleh Sena Santika, SE., S.Hut., M.Si. Dalam arahannya, Sena menekankan pentingnya kedisiplinan, pengembangan sikap akademik, dan etika selama pelatihan. “Ini merupakan tahun ketiga kami menyelenggarakan ToF M4CR di lokasi ini. Kami berharap terjalin silaturahmi dan jaringan kerja yang kuat. Kosongkan pikiran, fokuskan diri, dan serap seluruh materi yang akan menjadi bekal berharga untuk pendampingan masyarakat ke depan,” pesannya.

Rangkaian Sesi Akademik Hari Pertama

Memasuki jam 14.00 WIB, kegiatan beralih ke sesi akademik yang dirancang untuk memberikan fondasi pengetahuan teknis, kebijakan, dan administratif yang komprehensif:

1. Pengantar Program Pelatihan & Pre-Test

Dipandu oleh Dra. Tjatur Amperawati, M.Sc. (Widyaiswara Ahli Madya BP2SDM), sesi ini menjelaskan landasan penyelenggaraan ToF berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Diklat Kementerian Kehutanan No. 110 Tahun 2024 tanggal 29 April 2024, serta pelaksanaan pre-test untuk memetakan pemahaman awal peserta sebelum materi inti dimulai.

2. Kebijakan Rehabilitasi Mangrove & Profil Proyek M4CR

Rangga Bayu Basuki (Mangrove Restoration Silviculture Assistant) memaparkan profil M4CR sebagai inisiatif strategis nasional dalam menangani degradasi ekosistem mangrove melalui rehabilitasi skala besar yang mengedepankan pendekatan berbasis komunitas dan keberlanjutan lingkungan.

3. Substansi Materi SLRM: Pedoman, Kurikulum & Teknis Penyelenggaraan

Al Rahmat Putra (Environmental Training Assistant & PIC Kegiatan) menguraikan definisi, visi, misi, dan teknis pelaksanaan Sekolah Lapang Rehabilitasi Mangrove pasca-kontrak dengan 23 Pokmas. Ia menegaskan lima syarat utama keberhasilan SLRM: kualitas kurikulum, kondisi spesifik lokasi, kompetensi kader fasilitator, ketersediaan sarana pendukung, dan program berkelanjutan.

4. Pengadministrasian Dokumen & Keuangan Kegiatan RM

Sesi penutup hari pertama disampaikan oleh Fauziah Salsabila (Administrasi PPIU Sumatera Utara). Peserta dibekali pemahaman teknis mengenai penyusunan Surat Pertanggungjawaban (SPJ), Surat Perintah Kerja (SPK), serta mekanisme kontrak kelompok masyarakat. Ditekankan bahwa SPJ wajib disusun oleh kelompok masyarakat dengan pendampingan aktif dari tim admin dan fasilitator desa.

Rangkaian kegiatan hari pertama resmi berakhir pada pukul 21.15 WIB. Seluruh peserta dinyatakan telah menyelesaikan fondasi materi kebijakan, teknis SLRM, dan administrasi rehabilitasi mangrove. Kegiatan akan berlanjut pada 6–8 Mei 2026 dengan fokus pada praktik kelas, metode pemanduan, keselamatan kerja (K3), serta praktik lapangan di Batubara Mangrove Park.

Melalui pelatihan ini, para pemandu sekolah lapang diharapkan mampu menjadi motor penggerak rehabilitasi mangrove yang berkelanjutan, tidak hanya dalam aspek teknis ekologis, tetapi juga dalam penguatan kelembagaan kelompok dan kesadaran lingkungan masyarakat pesisir Sumatera Utara.