Divisi Komunikasi

PPIU M4CR Sumatera Utara Gelar Pembekalan Trainer untuk Sekolah Lapangan Rehabilitasi Mangrove

 

MEDAN, 25 Mei 2026 – Proyek PPIU M4CR Sumatera Utara resmi membuka rangkaian pembekalan hari pertama bagi para Trainer Sekolah Lapangan Rehabilitasi Mangrove (SLRM). Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Meeting Kantor PPIU M4CR Sumut, Jalan Sei Bengawan, Medan, ini bertujuan menyiapkan tenaga pendamping lapangan yang kompeten dan siap menjadi fasilitator dan narasumber dalam program rehabilitasi ekosistem mangrove di wilayah Sumatera Utara.

Acara dibuka oleh Al Rahmat Putra, Asisten Pelatihan Lingkungan PPIU M4CR Sumut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pembekalan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kelancaran dan kualitas program SLRM di lapangan.

“Harapannya, para trainer tidak hanya memahami ilmu teknis rehabilitasi mangrove, tetapi juga siap menjadi narasumber dan pendamping yang andal dalam kegiatan Sekolah Lapangan yang akan datang,” ujar Al Rahmat. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan rincian teknis dan jadwal pelaksanaan SLRM PPIU M4CR Sumut tahun 2026.

Materi pembekalan dirancang secara komprehensif melalui tiga sesi pemaparan teknis yang diisi oleh para asisten rehabilitasi :

  1. Sesi Penanaman & Pemeliharaan: Dipimpin oleh Sigit Prasetyo (Asisten Rehabilitasi Mangrove), sesi ini membahas standar teknis penanaman dan perawatan bibit mangrove sesuai protokol proyek M4CR, memastikan daya hidup dan pertumbuhan optimal di lapangan.
  2. Sesi Intervensi Hidrologi: Disampaikan oleh Gisela Malya Asoka Anindita (Asisten Hidrologi), yang mengupas pentingnya mengembalikan aliran pasang surut alami. Materi mencakup pembuatan inlet, saluran pasang surut, pembersihan vegetasi penghambat (piai), verifikasi ketinggian saluran, serta pengelolaan pintu air di lahan eks-tambak. Tujuan utamanya adalah menciptakan keseimbangan hidrologi agar lahan tergenang saat pasang dan kering saat surut.
  3. Sesi Silvofishery & Pembibitan: Dipaparkan oleh Rangga Bayu Basuki (Asisten Sylvikultur), yang menyoroti jenis Rhizophora (Bakau) varietas Apiculata dan Stylosa sebagai pilihan paling efektif mengingat siklus pembibitan yang hanya membutuhkan tiga bulan. Ia juga menekankan tahapan kritis mulai dari pengumpulan dan seleksi propagul matang-sehat, hingga pengelolaan bedeng tabur dan sapih. Lebih dari aspek teknis, Rangga menegaskan bahwa kunci keberhasilan program adalah pendampingan mandiri dan berkelanjutan kepada Kelompok Tani Hutan dan Nelayan.

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Para trainer aktif mengajukan pertanyaan mulai dari detail teknik penanaman, manajemen hidrologi lahan, hingga penanganan hama yang sering muncul selama masa pembibitan hingga penanaman di lokasi rehabilitasi.

Dengan pembekalan ini, PPIU M4CR Sumatera Utara optimis para trainer SLRM dapat menjadi ujung tombak dalam mendampingi masyarakat dan memastikan program rehabilitasi mangrove berjalan sesuai standar, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi pemulihan ekosistem pesisir Sumatera Utara.

Kegiatan pembekalan akan dilanjutkan dengan pembekalan lebih lanjut terkait materi safeguard dan pembahasan detail terkait tata cara pelaksanaan sekolah lapang rehabilitasi mangrove.