Divisi Komunikasi

Memperkuat Kelestarian Biodiversitas, Proyek M4CR Laksanakan Asesmen Biodiversity Management Plan di Labuhanbatu dan Batu Bara

 


Pada tanggal 8–11 April 2026, tim asesmen dari program M4CR bersama pemangku kepentingan terkait melaksanakan asesmen Biodiversity Management Plan (BMP) di dua lokasi rehabilitasi mangrove di kawasan Hutan Lindung Provinsi Sumatera Utara, yaitu Desa Wonosari, Kabupaten Labuhanbatu, dan Desa Bagan Baru, Kabupaten Batu Bara. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi keberadaan flora dan fauna, menganalisis potensi ancaman ekologis, serta menilai kesiapan operasional penanaman mangrove Tahap P0. Asesmen ini merupakan bentuk pemenuhan Environmental and Social Standard 6 (ESS 6) tentang konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam hayati secara berkelanjutan.

Keberagaman Hayati dan Tekanan Ekologis

Hasil identifikasi lapangan mencatat keberagaman fauna yang signifikan di kedua lokasi. Di Desa Wonosari, teridentifikasi 19 spesies yang meliputi aves, mamalia, reptil, dan biota akuatik. Sementara di Desa Bagan Baru, tercatat 23 spesies, dengan catatan bahwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang tercantum dalam dokumen perencanaan awal tidak ditemukan di lapangan. Rincian hasil asesmen di Desa Wonosari terlampir pada tabel berikut ini:

No.

Nama Lokal

Nama Ilmiah

Status

IUCN

P.106

Cites

1

Burung kuntul

Ardea alba

LC

D

-

2

Monyet ekor panjang

Macaca fascicularis

EN

TD

App II

3

Ular bakau

Fordonia leucobalia

LC

TD

-

4

Bangau putih

Ciconia ciconia

LC

TD

-

5

Elang perut putih

Haliaeetus leucoryphus

EN

D

-

6

Berang-berang cakar kecil

Aonyx cinereus

VU

TD

App I

7

Kepiting bakau

Scylla serrata

-

TD

-

8

Elang bondol

Haliastur indus

LC

D

App II

9

Macan akar (kucing kuwuk)

Prionailurus bengalensis

LC

D

App I/II

10

Babi hutan

Sus scrofa

LC

TD

-

11

Biawak bakau

Varanus ceramboneensis

LC

TD

App II

12

Ular kobra sumatera

Naja sumatrana

LC

TD

App II

13

Burung kacer

Copsychus saularis

LC

TD

-

14

Burung gagak

Corvus corax

LC

TD

-

15

Udang galah

Macrobrachium rosenbergii

LC

TD

-

16

Udang gantung

Macrobrachium lanchesteri

LC

TD

-

17

Udang putih

Litopenaeus vannamei

-

TD

-

18

Ikan glodok/tembakul

Boleophthalmus boddarti

LC

TD

-

19

Belangkas

Tachypleus gigas

DD

D

-

Di Desa Bagan Baru, Kabupaten Batu Bara terlampir pada tabel berikut ini:

No.

Nama Lokal

Nama Ilmiah

Status

IUCN

P.106

Cites

1

Bangau bakau

Ciconia stormi

EN

D

-

2

Ular bakau

Fordonia leucibalia

LC

TD

-

3

Monyet ekor panjang

Macaca fascicularis

EN

TD

App II

4

Kuntul besar

Ardea alba

LC

TD

-

5

Kuntul kecil

Egretta garzetta

LC

TD

 -

6

Burung bangau putih

Ciconia ciconia

LC

TD

-

7

Buaya muara

Crocodylus porosus

LC

D

App II

8

Biawak bakau

Varanus indicus

LC

TD

App II

9

Ikan glodok/tembakul

Periophthalmus sp.

LC

TD

-

10

Belangkas

Tachypleus gigas

DD

D

-

11

Teripang tanah

Holothuria scabra

EN

TD

-

12

Babi hutan

Sus scrofa

LC

TD

-

13

Berang-berang pantai

Lutra lutra

NT

D

 App I

14

Cekakak sungai

Todiramphus chloris

LC

TD

-

15

Ikan terubuk

Tenualosa toli

VU

TD

-

16

Ikan sembilang

Paraplotosus albilabris

LC

TD

-

17

Ikan belanak

Mugil belanak

LC

TD

-

18

Udang beras sawah

Caridina gracilirostris

LC

TD

-

19

Kepiting bakau

Scylla sp.

-

TD

-

20

Ular kobra sumatera

Naja sumatrana

LC

TD

App II

21

Kucing kuwuk

Prionailurus bengalensis

LC

D

App II

22

Lutung

Presbytis sumatrana

EN

D

App II

23

Elang Bondol

Haliastur indus

LC

D

App II

Kedua kawasan menghadapi tekanan ekologis yang serupa. Aktivitas masyarakat berupa perburuan liar (babi hutan, belangkas, dan telur belangkas) serta penebangan kayu lokal (lenggadai, mata-mata, cerucuk) untuk kebutuhan konstruksi skala kecil masih terjadi. Selain itu, abrasi pantai dalam satu dekade terakhir telah menggeser garis pantai dan mendekatkan tekanan fisik ke kawasan hutan. Meskipun demikian, inisiatif konservasi swadaya oleh masyarakat setempat melalui pembibitan dan penanaman mangrove telah menunjukkan dampak positif, salah satunya peningkatan populasi kepiting bakau.



Kesiapan Operasional Penanaman Mangrove (P0) 2026

Asesmen juga mengevaluasi kesiapan logistik dan administratif kelompok masyarakat sebelum pelaksanaan penanaman. Beberapa temuan utama meliputi:

  1. Ketersediaan Bibit: Terdapat kekurangan stok bibit pada beberapa Kelompok Tani Hutan (KTH). Kesenjangan ini akan diatasi dengan memanfaatkan propagul alami dan melaksanakan persemaian ulang menyesuaikan musim buah di lokasi.
  2. Administrasi Kelompok: Seluruh KTH di Kabupaten Labuhanbatu dan Batu Bara telah memproses registrasi melalui surat pengantar resmi ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, dengan dukungan fasilitasi dari KPH V Aek Kanopan dan KPH III Kisaran.
  3. Keselamatan Kerja: Kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) untuk 97 personel di Wonosari dan 92 personel di Bagan Baru telah terverifikasi. Pengadaan APD akan dilaksanakan melalui penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama (SPKS).

Rencana Tindak Lanjut dan Mitigasi

Berdasarkan hasil pembahasan Focus Group Discussion (FGD), disepakati beberapa langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan ekosistem dan keselamatan kegiatan:

  • Penguatan Regulasi Lokal: Pemerintah Desa Wonosari dan Bagan Baru akan mendorong penyusunan Peraturan Desa (Perdes) tentang perlindungan ekosistem mangrove sebagai landasan hukum operasional di tingkat tapak.
  • Edukasi dan Sosialisasi: Pelaksanaan sosialisasi rutin kepada masyarakat mengenai pentingnya konservasi biodiversitas, teknik penanaman yang ramah satwa, serta mitigasi risiko interaksi dengan satwa berpotensi bahaya (seperti ular dan babi hutan).
  • Koordinasi Lintas Instansi: Dukungan teknis dari BPDAS Wampu Sei Ular akan difokuskan pada program sosialisasi perlindungan Hutan Lindung di tingkat desa, yang rencananya akan ditindaklanjuti bersama dinas provinsi terkait.
  • Pengawasan Partisipatif: Kelompok masyarakat akan membentuk mekanisme pengawasan mandiri untuk mencegah perburuan liar dan penebangan tidak bertanggung jawab selama dan pasca penanaman.

Keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan Hutan Lindung tidak hanya bergantung pada aspek teknis penanaman, tetapi juga pada integrasi konservasi biodiversitas, partisipasi aktif masyarakat, dan dukungan regulasi lokal. Asesmen BMP ini menegaskan perlunya pendekatan kolaboratif antara pemerintah desa, kabupaten, KPH, BPDAS, dan kelompok tani. Dengan perencanaan yang terukur dan mitigasi yang tepat, ekosistem mangrove di Sumatera Utara diharapkan dapat pulih, berfungsi optimal sebagai benteng alami terhadap abrasi, dan menjadi habitat yang berkelanjutan bagi keanekaragaman hayati yang ada.