Pemerintah Provinsi Sumatera
Utara bersama Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah I Medan dan Yayasan
Pesona Tropis Alam Indonesia (PETAI) menggelar Focus Group Discussion
(FGD) Inventarisasi Hutan Nasional (IHN) 2026 di Hotel Grandhika, Medan, pada
Jumat (24/4/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menyelaraskan
data kehutanan yang akurat, terintegrasi, dan terstandar sebagai fondasi
pengelolaan hutan berkelanjutan serta upaya pengendalian perubahan iklim di
Sumatera Utara.
Diadakan dalam kerangka Program Result
Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) Output 2,
FGD ini dihadiri oleh 28 peserta yang mewakili akademisi, Dinas Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi, BPKH, KPH XII Tarutung, serta mitra
pembangunan. Forum ini bertujuan memperkuat koordinasi antarlembaga,
menyinkronkan basis data kehutanan berbasis ilmiah, dan menghimpun masukan
konstruktif untuk optimalisasi pelaksanaan IHN di tingkat tapak.
Kepala DLHK Provinsi Sumatera
Utara, Heri W. Marpaung, S.STP, M.AP., dan Kepala BPKH Wilayah I Medan,
Pernando L. Tobing, S.P., M.Si., secara resmi membuka kegiatan. Dalam
sambutannya, keduanya menegaskan bahwa data inventarisasi hutan yang akurat
merupakan kunci utama dalam menyusun kebijakan kehutanan berbasis bukti (evidence-based
policy), khususnya dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor
berbasis lahan.
Temuan Kunci: Hutan Tapanuli
Utara Stabil dan Kaya Cadangan Karbon
Dalam pemaparan teknis, Prof. Ir.
Rahmawaty, S.Hut., M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Kehutanan dan Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara yang mengoordinasi penyusunan Laporan IHN 2026 versi
2.0, memaparkan hasil survei di tiga klaster Kabupaten Tapanuli Utara (110174,
110182, dan 110165).
Hasil inventarisasi menunjukkan
bahwa kondisi hutan lahan kering di wilayah tersebut masih relatif stabil
dengan tingkat keanekaragaman hayati sedang (Indeks H’ 2,25–2,56). Setiap
klaster memiliki spesies pohon dominan yang berbeda, yakni Meranti bunga (Shorea
leprosula) di klaster 110174, Medang (Phoebe sp.) di klaster 110182,
dan Hau Halak di klaster 110165. Variasi ini mencerminkan kekayaan struktur
ekologis yang unik di setiap lokasi.
Dari perspektif mitigasi
perubahan iklim, kawasan ini menyimpan cadangan karbon yang signifikan. Nilai
stok karbon tertinggi terdeteksi di klaster 110182, diikuti oleh klaster 110174
dan 110165, dengan sebagian besar karbon tersimpan pada biomassa pohon hidup.
Temuan ini mengonfirmasi peran strategis hutan tropis Sumatera Utara dalam
menyerap emisi karbon dan menjaga keseimbangan iklim global.
Optimalisasi Implementasi di
Tingkat Lapangan
Direktur Inventarisasi dan
Pemantauan Sumber Daya Hutan (IPSDH), Dr. Agus Budi Santosa, S.Hut., M.T.,
turut hadir untuk memaparkan arah kebijakan nasional IHN. Sementara Program
Manager Yayasan PETAI, Muammar BM, S.Hut., menyampaikan rencana implementasi
kegiatan IHN di tingkat tapak agar berjalan lebih terkoordinasi dan efektif.
“Data hasil inventarisasi ini
diharapkan menjadi landasan kuat bagi kebijakan pengelolaan hutan
berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kontribusi Provinsi Sumatera Utara dalam
target nasional penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan,” pungkas Muammar
BM.
Kegiatan FGD ini dipandu oleh
moderator Rano Karno Sihombing, S.Agr., M.Si. dari BPKH Wilayah I Medan dan
menghasilkan sejumlah rekomendasi terkait metodologi inventarisasi, integrasi
data antarlembaga, serta strategi pendampingan teknis di lapangan. Dengan basis
data yang kredibel dan terverifikasi, Sumatera Utara optimis dapat memperkuat
tata kelola hutan yang adaptif terhadap perubahan iklim.






