Ekosistem mangrove di Pulau Sembilan dan Pulau Kampai, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, merupakan salah satu wilayah pesisir yang kaya akan biodiversitas. Berdasarkan studi literatur terbaru, dari Jurnal berjudul Identifikasi Jenis-Jenis Tumbuhan Mangrove Yang Ada Di Indonesia karya Britney Liayanti Windewani dan Galuh P. W. Utami, mereka Adalah mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Sains & Teknologi, Universitas Ottow Geissler, Kota Jayapura, Indonesia mengatakan bahwa di Pulau sambilan & Pulau Kampai, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara terdapat 11 jenis tumbuhan mangrove yang teridentifikasi di lokasi tersebut. Setiap jenis memiliki karakteristik morfologi yang unik, kegunaan spesifik, serta peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon.
Berikut adalah ulasan detail mengenai 11 jenis mangrove tersebut:
- Identifikasi:Memiliki batang kokoh dengan akar penyangga yang kuat untuk menstabilkan tanah. Daunnya berwarna hijau gelap mengkilap dan memiliki bunga berwarna merah yang khas.
- Kegunaan:
Berperan dalam perlindungan garis pantai dari erosi dan menyediakan
habitat bagi satwa pesisir.
- Daya Serap
Karbon: Sebagai bagian dari ekosistem mangrove yang sehat, spesies ini
berkontribusi sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang efektif.
2. Bruguiera cylindrica
- Identifikasi:
Memiliki batang tegak dengan akar penyangga. Daunnya berbentuk lonjong
dengan ujung tumpul, serta bunga berwarna hijau kekuningan dengan kelopak
panjang.
- Kegunaan:
Berfungsi menyaring polutan dari air dan mengurangi dampak abrasi pantai.
- Daya Serap Karbon: Spesies ini tumbuh optimal pada salinitas 10-30 ppt, yang mendukung efisiensi fotosintesis dalam penambatan karbon.
3. Rhizophora mucronata
- Identifikasi:
Dikenal dengan akar tunjang (penyangga) yang besar dan kuat yang mencuat
dari batang. Daunnya tebal dan hijau tua, dengan bunga putih kekuningan.
- Kegunaan:
Menjaga keseimbangan ekosistem dan menjadi tempat berkembang biak ikan
serta burung.
- Daya Serap
Karbon: Memiliki biomassa yang tinggi, menjadikannya salah satu
penyimpan karbon yang signifikan di kawasan pesisir.
4. Sonneratia caseolaris (Pedada)
- Identifikasi:
Memiliki akar napas (pneumatofor) yang muncul dari tanah. Bunganya besar
berwarna putih dengan benang sari mencolok, serta buah bulat yang khas.
- Kegunaan:
Buahnya dapat dikonsumsi dan sering digunakan dalam masakan lokal. Secara
ekologis, ia menyaring sedimen dari air.
- Daya Serap
Karbon: Akar napasnya membantu adaptasi di kondisi anaerobik,
memastikan proses sekuestrasi karbon tetap berjalan meski tergenang.
5. Bruguiera gymnorrhiza
- Identifikasi:
Batang tegak dengan akar penyangga kuat, daun besar dan tebal, serta bunga
merah mencolok yang unik.
- Kegunaan:
Memiliki nilai ekonomi karena kayunya sering digunakan untuk konstruksi
dan bahan pembuatan arang.
- Daya Serap
Karbon: Struktur kayunya yang padat menyimpan karbon dalam jangka
waktu lama.
6. Avicennia officinalis
- Identifikasi:
Memiliki akar napas yang tumbuh tegak (seperti pensil). Daunnya hijau
cerah mengkilap dengan bunga kuning kecil beraroma khas.
- Kegunaan: Habitat
penting bagi burung dan ikan, serta efektif dalam mencegah erosi pantai.
- Daya Serap
Karbon: Beradaptasi pada zona pasang surut yang bervariasi, mendukung
distribusi karbon di berbagai lapisan tanah.
7. Lumnitzera racemosa
- Identifikasi:
Berupa semak atau pohon kecil (hingga 10 meter) tanpa akar napas. Kulit
kayu cokelat kemerahan dengan bunga putih penuh nektar.
- Kegunaan:
Penghasil nektar yang mendukung keberadaan serangga penyerbuk di ekosistem
mangrove.
- Daya Serap
Karbon: Berperan dalam akumulasi karbon organik di wilayah dataran
tinggi mangrove.
8. Rhizophora apiculata
- Identifikasi:
Akar penyangga besar, daun hijau tua tebal, dan bunga kecil putih
kekuningan.
- Kegunaan:
Sering digunakan dalam program rehabilitasi karena daya adaptasinya yang
tinggi terhadap lingkungan ekstrem.
- Daya Serap
Karbon: Pertumbuhannya yang cepat pada kondisi ideal mempercepat laju
penyerapan karbon dioksida dari atmosfer.
9. Sonneratia alba
- Identifikasi:
Akar napas menonjol (pneumatofor), daun bulat telur mengkilap, dan bunga
putih besar dengan benang sari mencolok.
- Kegunaan:
Sebagai penyaring alami polutan air dan tempat bertelur ikan.
- Daya Serap Karbon: Sistem perakarannya membantu mengikat sedimen kaya karbon di dasar perairan.
- Identifikasi:
Serupa dengan genus Rhizophora lainnya, memiliki akar tunjang yang kuat
untuk menahan gelombang besar.
- Kegunaan:
Memperkuat ketahanan masyarakat pesisir terhadap badai dan kenaikan
permukaan laut.
- Daya Serap
Karbon: Berkontribusi pada simpanan karbon bawah tanah (soil organic
carbon) yang masif.
11. Ceriops tagal
- Identifikasi:
Batang tegak dengan akar penyangga, daun kecil tebal dengan ujung tumpul,
dan bunga hijau kekuningan.
- Kegunaan:
Penting untuk konservasi karena tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
- Daya Serap
Karbon: Membantu stabilitas ekosistem, yang secara keseluruhan
meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon total kawasan.










