Divisi Komunikasi

Penandatanganan Kontrak Swakelola Rehabilitasi Mangrove di SM Karang Gading - Langkat Timur Laut Resmi Dilaksanakan

Proyek Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) kembali menunjukkan komitmen nyata dalam pemulihan ekosistem pesisir Sumatera Utara. Pada Kamis, 16 April 2026, PPIU Sumatera Utara secara resmi menyelenggarakan Penandatanganan Perjanjian Kontrak Swakelola (SPKS) untuk kegiatan penanaman mangrove tahap awal (P0) di wilayah Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Acara yang berlangsung di Hotel Grand Stabat, Kabupaten Langkat, ini melibatkan dua kelompok masyarakat lokal, yakni KTH Tanjung Harapan dan KTH Tunas Tanjung Harapan.

Penekanan pada Pelaksanaan Cepat dan Koordinasi Lintas Lembaga 

Acara dibuka oleh Sigit Prasetyo, Asisten Rehabilitasi Mangrove PPIU Sumatera Utara, yang memaparkan pedoman teknis kontrak M4CR, metode penanaman, serta rincian anggaran pengayaan seluas 3.000/ha yang mencakup upah tenaga kerja, pengadaan ajir, papan nama, dan bibit.

Selanjutnya, Parihutan Sagala selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) IV M4CR Wilayah Sumatera Utara melakukan negosiasi teknis dan anggaran bersama perwakilan kelompok. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi aktif dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, mengingat lokasi penanaman berada di dalam kawasan konservasi yang menjadi wilayah kelola resmi instansi tersebut.

Manager PPIU Sumatera Utara, Aditya Wahyu Putra, mengingatkan bahwa proyek M4CR dijadwalkan berakhir pada akhir tahun 2026. Oleh karena itu, pelaksanaan penanaman P0 harus segera direalisasikan agar prosesnya masih dapat diawasi secara optimal hingga tahapan pemeliharaan (P1). Ia juga menginstruksikan seluruh tim lapangan untuk segera melaporkan kendala yang muncul agar dapat ditangani secara cepat dan tepat.

Konteks Kebijakan dan Urgensi Pemulihan Ekosistem 

Dalam sesi kebijakan rehabilitasi mangrove, Edina Ginting, PEH Madya Langkat yang mewakili Kepala BBKSDA Sumatera Utara, menyoroti isu Triple Planetary Crisis (perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi) yang saling berkait dan mempercepat degradasi lingkungan. Ia juga memaparkan data strategis kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang mencakup luas 14.827 hektar di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, melibatkan 17 desa dengan sekitar 72.000 jiwa. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani, nelayan, dan pekerja informal yang kehidupannya sangat bergantung pada kelestarian ekosistem mangrove. Pengelolaan kawasan ini telah diperkuat oleh sejumlah regulasi terbaru, termasuk UU No. 32 Tahun 2024, UU No. 41 Tahun 1999, PP No. 28 Tahun 2011, serta Permenhut No. 4 dan No. 18 Tahun 2025.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan teknis penyusunan dokumen pertanggungjawaban keuangan kelompok oleh Rizky dari PIU Jakarta, divisi Rehabilitasi Mangrove. Sesi ini kemudian diakhiri dengan penandatanganan kontrak swakelola antara PPK IV M4CR Sumatera Utara dengan ketua KTH Tanjung Harapan dan KTH Tunas Tanjung Harapan. Sebagai penutup, Fauzul selaku Fasilitator Teknis PPIU Sumatera Utara memimpin bimbingan teknis (BIMTEK) bagi pengawas dan pelaksana lapangan guna memastikan standar penanaman dan pemeliharaan berjalan sesuai prosedur.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan lintas sektor yang diundang secara resmi, meliputi BBKSDA Sumatera Utara, Perwakilan Kepala BPDAS Wampu Sei Ular, PPK Wilayah Sumatera Utara M4CR, Pejabat Pengadaan (PPK VI), Bendahara Pengeluaran Pembantu, dan staf Direktorat Rehabilitasi Mangrove, Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Dandim 0204/Deli Serdang, staf administrasi pusat dan wilayah, Kepala Desa Paluh Kurau dan Manager, Asisten Rehabilitasi, Hidrologi, Monev, Komunikasi, Admin & Finance, Fasilitator Teknis, Social & Environmental Safeguard Staff, Field Coordinator, dan Pendamping Desa.

Dengan terlaksananya penandatanganan kontrak swakelola ini, diharapkan rehabilitasi mangrove di wilayah SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut dapat berjalan transparan, terukur, dan berdampak langsung pada pemulihan ekosistem pesisir serta peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kolaborasi sinergis antara pemerintah, lembaga proyek, dan komunitas lokal menjadi fondasi utama dalam mewujudkan ketahanan pesisir Sumatera Utara yang berkelanjutan.